Intimate.co,id | MALANG — Gerakan Pramuka Santri memasuki babak baru. Setelah Saka Amal Bhakti diluncurkan, Kementerian Agama bersama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mulai menyusun peta jalan pembinaan yang diharapkan tidak berhenti pada kegiatan perkemahan, tetapi berkembang menjadi gerakan pendidikan, keterampilan, dan pengabdian.
Arah tersebut mengemuka dalam Rembuk Nasional bertajuk Prospek dan Proyeksi Pramuka Santri dalam Pengembangan Saka Amal Bhakti yang digelar Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (5/10/2026).
Forum yang berlangsung dalam rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI itu mempertemukan jajaran Kementerian Agama dan Kwartir Nasional untuk membahas masa depan pembinaan Pramuka Santri, termasuk bentuk kelembagaan, pola pembinaan, hingga tahapan pengembangan Saka Amal Bhakti.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pesantren, Dr. H. Arsad Hidayat, mengatakan momentum untuk memperkuat Pramuka Santri sudah terbuka. PPSN VI sendiri diikuti 4.524 peserta dan telah menjadi agenda yang berlangsung selama dua dekade sejak pertama kali digelar pada 2006.
Menurut Arsad, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat yang muncul dari perkemahan dapat diteruskan menjadi sistem pembinaan yang berjalan secara berkelanjutan di satuan pendidikan maupun masyarakat.
Ia menawarkan lima prinsip pengembangan, yakni dilakukan secara bertahap, mengutamakan mutu, berbasis data, inklusif, serta dapat dipertanggungjawabkan.
Sejumlah bidang keterampilan atau krida juga mulai dipetakan, antara lain kerukunan dan dialog, ibadah dan literasi keagamaan, karakter dan kepemimpinan, ketahanan keluarga dan sosial, cinta alam atau ekoteologi, serta bakti dan kesiapsiagaan.
Namun, Arsad menegaskan, rumusan tersebut masih berupa bahan pembahasan dan belum menjadi daftar krida resmi.
Peta jalan yang ditawarkan mencakup lima tahun. Tahun 2026 diarahkan untuk konsolidasi, 2027 uji coba terbatas, 2028 perluasan, 2029 penguatan mutu, dan 2030 pemantapan.
Sejumlah angka yang muncul dalam paparan, seperti 300 pangkalan aktif, 1.000 pembina terlatih, 900 proyek pengabdian, serta 15.000 peserta yang menuntaskan modul pada 2030, juga masih bersifat ilustratif dan membutuhkan validasi lebih lanjut.
“Saka Amal Bhakti akan bertumbuh melalui pembinaan yang konsisten, keterampilan yang nyata, kemitraan yang kuat, dan pengabdian yang dapat dibuktikan,” kata Arsad.
Dari latihan menuju karya
Direktur Bina PMPDP Direktorat Jenderal Pesantren, Dr. H. Mastuki, M.Ag., melihat Saka Amal Bhakti sebagai ruang pertemuan antara kepanduan, nilai keagamaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Karena itu, aktivitas Pramuka Santri tidak cukup hanya membentuk kemampuan berkemah dan baris-berbaris. Pembinaan perlu diarahkan agar peserta mampu membaca persoalan di lingkungan sekitarnya dan menghasilkan karya yang memberi manfaat.
Mastuki menawarkan lima rumpun pembinaan, yakni harmoni, ekoteologi, kepedulian, literasi, dan kemandirian. Polanya dirancang berjenjang, mulai dari kecakapan dasar, praktik lapangan, proyek pelayanan, hingga menghasilkan portofolio karya.
Pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan diposisikan sebagai tiga simpul yang saling memperkuat.
“Pramuka Santri yang kita harapkan bukan hanya piawai berkemah dan berbaris. Ia mampu membaca masalah, menggerakkan kawan, merawat harmoni, lalu menghadirkan manfaat dengan akhlak yang baik,” ujar Mastuki.
Dalam tata kelola, Kementerian Agama dan Gerakan Pramuka juga diproyeksikan berbagi peran. Kementerian Agama memberi dukungan substansi, sumber daya, dan basis satuan pendidikan, sedangkan kwartir menjaga metode, organisasi, serta standar mutu kepramukaan.
Saka atau Sako?
Salah satu pembahasan penting dalam rembuk tersebut adalah menentukan bentuk kelembagaan yang paling sesuai.
Sekretaris Binamuda Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Rio Ashadi, menjelaskan terdapat dua pilihan yang memiliki karakter berbeda, yakni Satuan Karya (Saka) dan Satuan Komunitas (Sako).
Saka merupakan wadah pembinaan keterampilan khusus bagi Pramuka Penegak dan Pandega berusia 16–25 tahun. Sementara Sako berbasis komunitas atau keagamaan dan dapat mencakup peserta didik dari jenjang Siaga hingga Pandega.
Jika Kementerian Agama ingin menaungi peserta didik madrasah dan pesantren dari berbagai jenjang usia, kata Rio, Sako dinilai lebih sesuai dengan ketentuan Gerakan Pramuka.
Sebaliknya, apabila yang dipilih adalah Saka, pembinaan akan lebih diarahkan kepada Pramuka Penegak dan Pandega dengan keterampilan khusus, antara lain di bidang keagamaan, kerukunan umat beragama, dan pengabdian masyarakat.
Untuk skema Saka, proses pembentukannya tidak dapat dilakukan secara instan. Tahapannya meliputi kajian kelompok kerja, nota kesepahaman antara Kementerian Agama dan Kwartir Nasional, penyusunan petunjuk penyelenggaraan, krida dan Syarat Kecakapan Khusus, hingga pengesahan dan aktivasi latihan di tingkat kwartir cabang.
Rio juga menekankan pentingnya membangun gerakan dari tingkat bawah. Kwartir cabang dinilai menjadi basis nyata keanggotaan dan pelaksanaan kegiatan.
Dalam skema tersebut, kantor Kementerian Agama, KUA, dan madrasah dapat dikembangkan sebagai sanggar, sementara penyuluh agama berpotensi dilibatkan sebagai instruktur.
Ditargetkan melahirkan keputusan
Rembuk Nasional tersebut tidak diarahkan berhenti pada pertukaran gagasan. Forum mendorong lahirnya sejumlah keputusan sebagai dasar kerja lanjutan.
Sedikitnya ada empat agenda yang diproyeksikan, yakni menyepakati identitas dan mandat Saka Amal Bhakti, menyusun krida bersama Kwartir Nasional, menentukan lokasi percontohan yang memiliki kesiapan pembina dan mitra, serta membentuk tim yang menangani modul, pelatihan, dan indikator capaian.
Tahapan awal juga dirancang melalui agenda 100 hari.
Tiga puluh hari pertama diarahkan untuk konsolidasi lintas unsur, penyusunan nomenklatur, dan penguatan dasar regulasi. Hari ke-31 hingga ke-60 difokuskan pada pemetaan calon pangkalan serta penyusunan modul prioritas. Selanjutnya, hari ke-61 hingga ke-100 diarahkan untuk menguji konsep tersebut di lokasi percontohan.
Dengan demikian, pembentukan Saka Amal Bhakti tidak sekadar menjadi penambahan struktur dalam Gerakan Pramuka. Lebih jauh, forum di Malang menempatkannya sebagai upaya membangun model pembinaan santri yang menggabungkan kecakapan, nilai keagamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan pengabdian nyata kepada masyarakat.
Jurnalis: KelanaPeterson Kontributor Intimate.co.id












