banner 728x250

Pemkab Bandung Barat Soroti Konsumsi Kental Manis pada Anak, Dinilai Perparah Risiko Stunting

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA-|Tingginya angka stunting di Kabupaten Bandung Barat kembali menjadi perhatian pemerintah daerah. Selain persoalan akses dan pola asuh, konsumsi kental manis yang masih dianggap sebagai pengganti susu untuk anak dinilai menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi gizi balita.

Persoalan tersebut mengemuka dalam pertemuan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) dan Muslimat NU. Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail, Sekretaris Daerah Ade Zakir, Kepala Bagian Kesejahteraan Masyarakat Hasanudin, serta jajaran pemerintah daerah lainnya.

banner 325x300

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail mengatakan penanganan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pemenuhan gizi anak.

Menurut Asep, masih banyak orang tua yang menganggap kental manis sebagai susu sehingga diberikan sebagai minuman harian bagi anak. Padahal, produk tersebut bukan diperuntukkan sebagai sumber pemenuhan gizi utama untuk mendukung pertumbuhan anak.

Temuan lapangan YAICI dan Muslimat NU di Kecamatan Batujajar memperlihatkan masih kuatnya praktik tersebut. Dalam salah satu keluarga, anak yang terindikasi stunting rutin mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu sekaligus sebagai pelengkap makanan agar lebih manis dan disukai anak.

Kasus lain menunjukkan seorang anak berusia dua tahun yang tidak mendapatkan ASI secara langsung telah terbiasa mengonsumsi jajanan dan kental manis sejak usia satu tahun. Sementara pada kasus ketiga, anak yang lahir prematur dan memiliki riwayat gangguan kesehatan juga diketahui rutin mengonsumsi minuman UHT serta kental manis, selain sudah dibiasakan jajan sendiri sejak usia lebih dari satu tahun.

Temuan tersebut dinilai memperlihatkan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pemberian makanan dan minuman yang sesuai untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Di Kecamatan Batujajar sendiri, berdasarkan data puskesmas setempat, terdapat 158 anak yang terindikasi mengalami stunting. Wilayah dengan jumlah penduduk sekitar 120 ribu jiwa yang tersebar di tujuh desa itu kini menjadi salah satu fokus intervensi pemerintah daerah, bersama penanganan tuberkulosis (TB).

Camat Batujajar Andi M. Hikmat mengaku baru mengetahui bahwa kental manis bukanlah susu yang layak dijadikan sumber gizi untuk pertumbuhan anak. Selama ini, kata dia, upaya perbaikan gizi di wilayahnya lebih banyak difokuskan pada program pemberian telur kepada anak.

Andi menegaskan penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan anggaran pemerintah, tetapi juga membutuhkan kepedulian seluruh elemen masyarakat agar anak-anak memperoleh asupan gizi yang lebih baik sejak dini.

Pemerintah Kecamatan Batujajar pun menyatakan akan menjadikan hasil temuan YAICI dan Muslimat NU sebagai bahan evaluasi sekaligus memperkuat edukasi kepada masyarakat mengenai pola konsumsi yang tepat bagi anak untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bandung Barat.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan