banner 728x250

SDN Jatisampurna II Tanamkan Moralitas Sebelum Ilmu di Tengah Keterbatasan Sarana

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co,id | Bekasi – Pendidikan tidak hanya soal mengejar nilai akademik. Bagi SDN Jatisampurna II Kota Bekasi, pembentukan karakter dan moralitas menjadi bagian penting yang harus berjalan beriringan dengan kemampuan intelektual siswa.

Hal itu disampaikan Kepala SDN Jatisampurna II, Idis Sudisman, S.Pd., saat bertemu dengan para orang tua dan wali murid dalam rapat sosialisasi program sekolah, Sabtu (12/9/2026).

banner 325x300

Menurut Idis, sekolah bukan sekadar tempat anak menerima pelajaran, menghafal materi, lalu mengejar nilai. Sekolah harus menjadi ruang untuk menumbuhkan karakter, kreativitas, kemandirian, dan kepedulian sosial.

“Pendidikan adalah sebuah simfoni besar. Ia menuntut kolaborasi multisektor. Bergerak searah—merajut simpul sinergi yang kokoh antara keteguhan, ketulusan guru berkualitas, dekapan orang tua, dan rengkuhan hangat komunitas masyarakat,” ujar Idis.

Ia juga menekankan pentingnya visi bersama yang menjadi fondasi pengembangan sekolah. Menurutnya, slogan “Bangkit, Maju, Berprestasi” bukan sekadar kalimat yang terpampang di lingkungan sekolah.

“Tanpa visi yang sejiwa, sekolah hanya tempat penitipan anak, pabrik pencetak nilai akademik, bukan tempat penyemaian karakter dan peradaban,” katanya.

Idis telah sekitar tiga tahun memimpin SDN Jatisampurna II. Dalam masa tersebut, ia mendorong keterlibatan orang tua dalam berbagai program sekolah.

Menurut dia, rapat bersama wali murid menjadi salah satu cara membangun komunikasi dua arah sekaligus membuka ruang partisipasi masyarakat.

“Rapat hari ini sebagai bentuk sosialisasi program sekolah yang penting untuk diketahui para orang tua wali murid,” jelasnya.

Sarana Sekolah Masih Terbatas

Di sisi lain, persoalan sarana dan prasarana masih menjadi tantangan bagi SDN Jatisampurna II.

Data satuan pendidikan Kemendikdasmen mencatat Kecamatan Jatisampurna memiliki 17 sekolah dasar. Namun, sejumlah orang tua menilai fasilitas SDN Jatisampurna II masih membutuhkan perhatian dan peningkatan.

“Banyak ruangan atau bangunan yang memerlukan perbaikan mutu agar layak huni dan nyaman untuk belajar,” ujar salah seorang wali murid.

Wali murid lainnya juga menyoroti keterbatasan sejumlah fasilitas penunjang sekolah.

“Prasarana di SDN Jatisampurna II ini masih sangat terbatas,” katanya.

Padahal, sekolah tersebut memiliki lahan yang dinilai cukup memadai. Persoalannya, kondisi infrastruktur dan ruang belajar yang tersedia belum sepenuhnya sebanding dengan kebutuhan kegiatan belajar mengajar.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pihak sekolah dan para pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih layak.

Meski demikian, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat pihak sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Idis justru mendorong kolaborasi antara guru, orang tua, masyarakat, dan berbagai pihak agar keterbatasan tersebut tidak menjadi penghalang bagi siswa untuk berkembang.

Eddie Karsito: Adab Harus Dibangun Sebelum Ilmu

Dalam pertemuan tersebut turut hadir Ketua Umum Yayasan Humaniora Rumah Kemanusiaan, Eddie Karsito. Ia hadir sebagai wali dari lima siswa yang merupakan anak pemulung dan pengamen jalanan yang mendapatkan akses pendidikan melalui lembaga nirlaba tersebut.

Eddie menekankan pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini.

Menurutnya, pendidikan seharusnya tidak hanya menghasilkan anak yang pintar secara akademik, tetapi juga memiliki adab, kepedulian, kemandirian, dan kemampuan hidup bersama orang lain.

“Penting memprioritaskan adab sebelum ilmu,” kata Eddie.

Ia kemudian mencontohkan pola pendidikan di Jepang yang menurutnya memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter anak.

“Siswa diajarkan cara menghormati sesama, menyayangi lingkungan, dan bersikap sopan kepada guru maupun orang tua,” ujarnya.

Menurut Eddie, pada jenjang awal pendidikan, perkembangan perilaku sosial anak dapat menjadi perhatian penting sebelum mereka didorong untuk berkompetisi secara akademik.

Anak juga dibiasakan mengurus kebutuhan sekolahnya sendiri serta berkontribusi terhadap lingkungan.

Salah satunya melalui budaya menjaga kebersihan sekolah secara bersama-sama.

“Tidak ada petugas kebersihan khusus untuk ruang kelas; para siswa secara bergotong-royong membersihkan kelas, koridor, hingga toilet,” tuturnya.

Menurut Eddie, pendekatan pendidikan yang menekankan etika dan gotong royong sejak dini berpotensi diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah.

“Pola pendidikan seperti ini fokus pada etika sejak dini. Mengasah kembali nilai gotong royong. Bisa membantu menekan masalah sosial, seperti perundungan atau bullying, tawuran, hingga kecurangan akademik seperti mencontek,” pungkasnya.

Jurnalis: KelanaPeterson      Kontributor Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan