Dokter Gizi Ingatkan Orang Tua: Jangan Asal Pilih Susu Pertumbuhan Anak

Intimate.co.id|JAKARTA — Memilih susu pertumbuhan untuk anak bukan sekadar soal merek, harga, atau klaim nutrisi pada kemasan. Orang tua perlu lebih cermat membaca kandungan gizi agar susu yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan anak.

Dokter Spesialis Gizi Klinik RS Permata Depok, dr. Felianty Badralany, Sp.G.K., mengingatkan orang tua agar tidak mudah terpaku pada merek maupun promosi produk.

“Jangan terpaku pada merek susu tersebut dan klaim yang diberikan. Langsung lihat label gizi yang tertera di box atau kaleng susu,” tegas dr. Feli.

Menurutnya, salah satu komponen yang perlu mendapat perhatian khusus adalah kandungan gula. Orang tua harus mampu membedakan gula alami dari gula tambahan yang tercantum dalam komposisi.

Laktosa, kata dia, merupakan gula alami yang berasal dari susu. Sementara sukrosa dan maltodekstrin perlu dicermati sebagai sumber gula tambahan.

“Gramasi dari gula tambahan ini harus diperhatikan secara cermat karena akan terakumulasi dan menambah total asupan gula harian anak,” jelasnya.

Ia mengingatkan, konsumsi gula tambahan perlu diperhitungkan berdasarkan jumlah takaran saji. Jika anak mengonsumsi susu dua kali sehari, misalnya, kandungan gula tambahan dalam setiap sajian perlu dikalikan dua untuk mengetahui kontribusinya terhadap asupan harian.

Konsumsi gula berlebihan, lanjutnya, mungkin tidak langsung terlihat dampaknya. Namun dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit metabolik, termasuk diabetes melitus.

Selain gula, orang tua juga perlu membaca informasi nilai gizi secara menyeluruh. Takaran saji dan kandungan energi menjadi dasar untuk memperkirakan kontribusi susu terhadap kebutuhan gizi harian anak.

Kandungan protein, zat besi, zinc, DHA, Omega 3, dan Omega 6 juga patut diperhatikan. Protein diperlukan dalam menunjang pertumbuhan, sementara zat besi dan zinc berperan antara lain dalam pembentukan sel darah merah, pertumbuhan fisik, dan fungsi imunitas. DHA serta asam lemak Omega 3 dan Omega 6 turut mendukung tumbuh kembang otak.

Dr. Felianty juga mengingatkan orang tua agar melakukan perbandingan produk secara sepadan. Kandungan DHA murni, misalnya, tidak serta-merta dapat disamakan dengan kandungan cod liver oil.

Namun, yang tak kalah penting, orang tua tidak menjadikan susu sebagai penentu utama keberhasilan pemenuhan gizi anak.

“Susu itu bukan penentu keberhasilan pencapaian nutrisi pada anak, susu hanya pelengkap. Tetap orang tua harus mengutamakan pola makan sehat dari real food atau makanan utama,” tuturnya.

Karena itu, ketika anak lebih memilih minum susu dan enggan mengonsumsi makanan utama, orang tua disarankan tidak menjadikan susu sebagai pengganti makanan.

Konsistensi dalam membangun pola makan tetap menjadi kunci. Orang tua perlu membiasakan jadwal makan utama tiga kali sehari dengan porsi yang sesuai kebutuhan anak, sehingga susu tetap berada pada posisi sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan bergizi seimbang.[]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan