Intimate.co,id | Malang — Kain, motif, dan aksesori dari berbagai penjuru Nusantara tampak mewarnai kawasan Pondok Pesantren An-Nur, Malang. Para santri pramuka datang dengan pakaian adat daerah masing-masing dalam rangkaian Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI.
Bagi Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama, Dr. Hj. Helmi Halimatul Udhma, M.Si., pemandangan itu bukan sekadar kemeriahan pembukaan kegiatan.
Sebagai Bunda Santri Indonesia, Helmi melihat pakaian adat sebagai pintu masuk untuk mengenalkan kembali identitas budaya kepada generasi muda.
“Kalau ditanya orang, kalian harus bisa menjelaskan, bukan hanya bisa memakainya,” pesan Helmi kepada para santri.
Ia mengatakan setiap pakaian adat memiliki cerita. Ada nilai, filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pesan tentang identitas budaya itu kemudian berlanjut pada pesan kedua: kemandirian.
Di area PPSN VI, berbagai produk pesantren, karya santri, dan usaha masyarakat sekitar dipertemukan dalam sebuah bazar. Santri tidak hanya menjadi pengunjung, tetapi juga memiliki kesempatan mengenal bagaimana sebuah produk dibuat, ditawarkan, dan dipasarkan.
Helmi menyebut bazar sebagai ruang belajar sekaligus ruang pemberdayaan.
Aktivitas ekonomi di lokasi perkemahan juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk mendapatkan manfaat dari kehadiran ribuan peserta PPSN.
“Ketika ribuan peserta berbelanja di sini, uang itu berputar di tengah ekonomi lokal. Inilah keberkahan yang ingin kita tumbuhkan dari PPSN,” ujarnya.
Bagi Helmi, pengalaman semacam itu penting bagi santri. Pendidikan di pesantren tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan agama dan akademik, tetapi juga kemampuan untuk berkarya dan membangun kemandirian.
“Pesantren yang mandiri adalah pesantren yang kuat,” katanya.
Setelah membuka bazar, Helmi menyempatkan diri mendatangi sejumlah stan. Ia berbincang dengan para santri dan pelaku usaha serta melihat produk yang ditawarkan.
Ia mendorong agar kreativitas tersebut diikuti peningkatan kualitas, kemasan, dan pemasaran digital. Dengan demikian, produk pesantren tidak hanya dikenal oleh peserta PPSN, tetapi berpeluang menjangkau pasar yang lebih luas.
PPSN VI berlangsung hingga 6 Oktober 2026. Selain bazar, para santri mengikuti berbagai lomba kepramukaan, pentas seni dan budaya, serta kegiatan pengembangan karakter.
Di tengah kemeriahan perkemahan, pesan yang dibawa pun sederhana: mengenal akar budaya dan belajar berdiri di atas kemampuan sendiri.
Jurnalis: KelanaPeterson Kontributor Intimate.co.id












