banner 728x250

Ajes Abdee, Bek Muda MC Utama yang Dipercaya Jadi Kapten: Tanggung Jawabnya Bukan Main-main

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA— Ban kapten melingkar di lengan M. Ajes Abdee Hamzah. Namun, bagi pemain muda MC Utama itu, ban tersebut bukan sekadar aksesori yang membuatnya terlihat berbeda dari rekan-rekannya.

Ada tanggung jawab yang ikut melekat.

banner 325x300

Dari lini pertahanan, Ajes bukan hanya dituntut menghentikan serangan lawan. Ia juga harus mampu menjaga komunikasi, mengatur rekan-rekannya, sekaligus menjadi sosok yang tetap tenang ketika pertandingan berada dalam tekanan.

Menjadi kapten, bagi Ajes, adalah proses belajar memimpin.

“Saya harus bisa bertanggung jawab dan menjaga teman-teman di dalam tim,” ujar Ajes.

Perjalanan Ajes di sepak bola dimulai dari sekolah sepak bola (SSB). Dari sana, rutinitasnya sebagai pesepak bola muda terbentuk.

Pagi hingga siang berada di sekolah. Sore hari berganti dengan latihan.

“Kalau pagi sekolah sampai sekitar jam 12, sorenya latihan,” katanya.

Rutinitas itu membuat Ajes belajar bahwa sepak bola tidak bisa dijalani sekadar sebagai aktivitas pengisi waktu. Ada disiplin yang harus dijaga agar pendidikan dan latihan tetap berjalan beriringan.

Perjalanannya kemudian berlanjut bersama Dewata Indah. Lingkungan latihan yang berbeda memberinya pengalaman baru, tetapi satu hal tetap sama: tuntutan untuk terus berkembang.

Ajes memilih posisi di lini belakang. Posisi yang mungkin tidak selalu mendapatkan sorotan seperti penyerang, tetapi memiliki peran krusial dalam menentukan keseimbangan sebuah tim.

Seorang bek dituntut fokus sepanjang pertandingan. Satu kesalahan kecil bisa membuka ruang bagi lawan.

Karena itu, komunikasi menjadi senjata penting Ajes.

Ia harus tahu kapan maju, kapan bertahan, kapan memberikan instruksi, dan kapan mempercayakan tugas kepada rekan setimnya.

Kini, tantangan itu bertambah dengan kepercayaan sebagai kapten MC Utama.

Namun Ajes tak melihat ban kapten sebagai tanda bahwa dirinya lebih tinggi dari pemain lain.

Justru sebaliknya.

Ban tersebut menjadi pengingat agar ia memberikan contoh, baik ketika pertandingan berlangsung maupun saat menjalani latihan.

“Kapten itu harus bisa menjadi contoh untuk teman-teman,” ujarnya.

Dari belakang, Ajes belajar bahwa kepemimpinan tak selalu berarti banyak bicara. Kadang, kepemimpinan ditunjukkan lewat keberanian mengambil keputusan, kemauan bekerja keras, dan tetap berdiri ketika tim berada dalam situasi sulit.

Di luar lapangan, Ajes masih berstatus pelajar. Ia ingin sepak bola terus berjalan beriringan dengan pendidikan.

Mimpinya pun belum berhenti di kompetisi yang kini dijalaninya.

Ajes ingin terus berkembang, memperbaiki kemampuan, menambah pengalaman bertanding, dan membuka jalan menuju level yang lebih tinggi.

Ia tahu perjalanan itu tidak pendek.

Masih ada latihan yang harus dilalui. Masih ada kesalahan yang harus diperbaiki. Masih banyak pertandingan yang akan menguji mental dan kemampuannya.

Namun, Ajes memilih menikmati proses tersebut.

Dari seorang anak yang mengenal sepak bola melalui SSB, kini ia dipercaya berdiri sebagai kapten. Dari pemain yang bertugas menjaga pertahanan, ia mulai belajar menjaga sesuatu yang lebih besar: kepercayaan tim.

Ban kapten itu mungkin hanya melingkar di lengan tetapi bagi Ajes, tanggung jawabnya jauh lebih panjang.

Sebab, selain menjaga pertahanan MC Utama, ada satu mimpi yang juga ingin terus ia jaga: menjadikan sepak bola sebagai bagian penting dari masa depannya.[]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan