banner 728x250

Usai Mundur dari BGN, Nanik Sudaryati Kembali Muncul Bawa Misi Becak Listrik

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Setelah mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Juli 2026 karena alasan kesehatan, Nanik Sudaryati Deyang kembali muncul di ruang publik. Kali ini, ia hadir bukan dalam urusan Makan Bergizi Gratis (MBG), melainkan membawa program pemberdayaan pengayuh becak.

Nanik tampil dalam kapasitasnya sebagai Presiden Becak Listrik Indonesia saat menyerahkan 300 unit becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto kepada para pengayuh becak di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Minggu (13/9).

banner 325x300

Penyerahan berlangsung di halaman Kantor BKPSDM Kabupaten Majalengka. Kehadiran Nanik sekaligus menegaskan bahwa aktivitasnya dalam program becak listrik telah berjalan jauh sebelum ia meninggalkan kursi Kepala BGN.

Gelar “Presiden Becak Listrik Indonesia” yang disandang Nanik bukan jabatan baru setelah dirinya mundur dari BGN. Peran tersebut sudah melekat sejak Januari 2026, ketika ia menghadiri penyaluran 200 becak listrik bantuan Prabowo kepada pengayuh becak lanjut usia di Tulungagung, Jawa Timur.

Saat itu, Nanik juga disebut sebagai Wakil Direktur Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).

Karena itu, kemunculan Nanik di Majalengka lebih tepat dipandang sebagai kelanjutan aktivitasnya dalam program becak listrik, setelah sebelumnya menjadi perhatian publik karena pengunduran dirinya dari BGN.

Nanik resmi mengundurkan diri sebagai Kepala BGN pada 22 Juli 2026. Meski tidak lagi berada di pucuk pimpinan lembaga tersebut, ia menyatakan tetap berkomitmen mengawal program MBG.

Kini, sekitar dua bulan setelah meninggalkan BGN, Nanik kembali tampil dengan isu berbeda. Di Majalengka, perhatiannya tertuju pada para pengayuh becak, terutama mereka yang telah lanjut usia.

Membantu Pengayuh Lansia

Nanik mengatakan program becak listrik diarahkan terutama untuk membantu pengayuh becak lanjut usia yang masih bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ia menyebut sejumlah penerima bantuan bahkan berusia 74, 75, hingga 80 tahun. Pada usia tersebut, mengayuh becak secara manual tentu membutuhkan tenaga fisik yang tidak sedikit.

Becak listrik diharapkan dapat mengurangi beban fisik para pengayuh sekaligus membantu mereka mempertahankan sumber penghasilan.

Lebih dari sekadar memberikan kendaraan, program ini diarahkan agar becak listrik menjadi aset milik penerima. Dengan begitu, pengayuh tidak lagi harus mengeluarkan biaya untuk menyewa becak sebagai modal bekerja.

“Becak listrik ini bukan sekadar kendaraan, tetapi bagian dari upaya pemberdayaan agar para pengayuh memiliki alat kerja sendiri,” demikian garis besar pesan Nanik dalam program tersebut.

Berawal sejak 2023

Menurut Nanik, program becak listrik telah dimulai sejak 2023. Pada tahap awal, Prabowo disebut memesan sekitar 1.000 unit becak listrik menggunakan dana pribadi.

Namun, produksi tahap awal hanya mencapai sekitar 450 unit.

Pengembangan program kemudian berlanjut. Pengadaan yang sebelumnya dilakukan melalui PT LEN disebut beralih ke PT Pindad.

Nanik menyebut lebih dari 12.000 becak listrik kini telah disalurkan kepada pengayuh becak di berbagai daerah.

Program tersebut masih terus berjalan. Untuk 2026, Nanik menyebut terdapat pesanan sekitar 70.000 unit, sedangkan sekitar 1.500 unit telah selesai diproduksi.

Data tersebut juga tercantum dalam keterangan resmi BAZNAS Kabupaten Majalengka terkait penyerahan bantuan.

Tak Boleh Dijual

Di hadapan para penerima bantuan, Nanik juga mengingatkan agar becak listrik tersebut tidak dijual atau dipindahtangankan.

Larangan itu dituangkan dalam perjanjian antara pihak penyalur dan penerima. Becak listrik diberikan sebagai sarana untuk membantu penerima mencari nafkah dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Pesan tersebut menjadi penting karena kendaraan bantuan itu bukan aset yang bebas diperjualbelikan. Tujuan utamanya adalah membantu para pengayuh, khususnya lansia, tetap bekerja dengan beban fisik yang lebih ringan.

Bagi Nanik, program becak listrik bukan semata-mata mengganti tenaga kayuh dengan tenaga listrik. Di balik kendaraan tersebut terdapat gagasan pemberdayaan: membuat para pengayuh memiliki kendaraan sendiri, mengurangi biaya sewa, sekaligus menjaga keberlanjutan mata pencaharian mereka.

Setelah sempat menjadi salah satu wajah utama BGN dan program MBG, Nanik kini kembali terlihat melalui program yang sejak awal juga menjadi bagian dari aktivitas sosialnya mendorong kemandirian para pengayuh becak melalui kendaraan listrik.(**)Foto : Istimewa.

penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan