Tari Zapin Satukan Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura Menuju UNESCO

Intimate.co.id|JAKARTA — Tari Zapin melangkah menuju panggung budaya dunia. Indonesia bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura resmi mengumumkan pengusulan bersama Tari Zapin untuk masuk dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO.

Pengumuman tersebut disampaikan di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Selasa (29/9/2026). Pengusulan multinasional ini menjadi bagian dari upaya empat negara Asia Tenggara memperkuat pelestarian tradisi budaya yang hidup dan berkembang melintasi batas geografis.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan, pengusulan Zapin menjadi langkah ketiga Indonesia bersama negara-negara sahabat di kawasan dalam mendorong warisan budaya melalui nominasi multinasional, setelah Kebaya dan Pantun.

Menurut Fadli, Zapin merupakan tradisi yang tumbuh bersama masyarakat Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Perjalanan sejarah kawasan membuat tradisi tersebut berkembang melalui persilangan, migrasi, pertemuan, dan akulturasi budaya.

“Kita mengusulkan pada tahun 2027 untuk Zapin sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan UNESCO,” ujar Fadli.

Ia menuturkan, keberagaman bentuk Zapin di setiap negara justru menjadi kekuatan dalam pengusulan bersama tersebut. Di Indonesia, misalnya, Zapin berkembang dengan beragam nama, antara lain Zafin, Jepin, Japin, hingga Dana-Dani.

“Ekspresi budaya Zapin di setiap negara berbeda-beda dan mempunyai ciri serta keunikan tersendiri. Justru keragaman ini menjadi kekuatan dari nominasi multinasional ini,” kata Fadli.

Bagi Indonesia, lanjut dia, pengusulan tersebut bukan semata-mata untuk memperoleh pengakuan internasional. Lebih jauh, Zapin diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat serta kerja sama kebudayaan di Asia Tenggara.

Tradisi yang Melintasi Batas

Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah TD Retnoastuti menjelaskan, tradisi Zapin telah hidup dan berkembang sejak abad ke-14 di sejumlah wilayah Asia Tenggara.

Zapin tidak hanya berupa tarian. Di dalamnya terdapat gerak, musik, lagu, pengetahuan, serta praktik budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut Endah, proses pengusulan masih berada dalam tahap persiapan. Karena itu, keterlibatan komunitas, pemerintah daerah, dan kementerian terkait menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

“Kita perlu memastikan keterlibatan dan persetujuan komunitas secara bebas dan berdasarkan informasi yang memadai atau free, fair, and informed consent,” ujarnya.

Prinsip tersebut menempatkan masyarakat pemilik dan pelaku tradisi sebagai bagian utama dalam proses pengusulan.

Wakil Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Farzamie Sarkawi mengatakan Malaysia bangga menjadi bagian dari nominasi multinasional tersebut. Menurut dia, Zapin merefleksikan hubungan sejarah dan kebudayaan yang telah lama menghubungkan masyarakat di kawasan.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Singapura Terrence Teo menyebut Zapin sebagai tradisi yang terus dipraktikkan dan diwariskan antargenerasi.

Bagi Singapura, kata dia, pengusulan bersama tersebut menjadi bagian dari kemitraan budaya empat negara yang akan terus dikembangkan, termasuk dalam upaya melindungi dan menjaga keberlanjutan Zapin.

Bukan Sekadar Label UNESCO

Pengusulan Tari Zapin tidak berhenti pada upaya mencatat tradisi tersebut dalam daftar UNESCO. Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya pelindungan, dokumentasi, pelestarian, serta keberlanjutan tradisi di tengah masyarakat.

Keberagaman Zapin di Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat tumbuh dalam ruang budaya yang berbeda, namun tetap memiliki akar sejarah yang saling terhubung.

Melalui nominasi multinasional ini, empat negara tidak sedang menyeragamkan Zapin. Sebaliknya, keberagaman ekspresi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan budaya bersama Asia Tenggara.

Jika proses pengusulan berjalan sesuai rencana, Tari Zapin akan menjadi satu lagi contoh bagaimana warisan budaya yang hidup dapat menjadi jembatan persahabatan antarnegara sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya.|Sunber Humas Kemenbud RI

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan