banner 728x250

Yudo Hadianto Apresiasi Liga Soeratin U15, Regenerasi Dinilai Jadi Masa Depan Sepak Bola Indonesia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Legenda sepak bola Indonesia, Yudo Hadianto, menyempatkan diri menyaksikan langsung kompetisi Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026 di Lapangan PSF Pancoran, Jakarta, Sabtu (5/9/2026). Kehadirannya menjadi bentuk perhatian terhadap pembinaan sepak bola dari kelompok usia dini.

Yudo menilai penyelenggaraan kompetisi seperti Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026 memberikan dampak positif bagi perkembangan sepak bola nasional. Menurut dia, kompetisi usia muda merupakan bagian penting dari proses panjang melahirkan pemain-pemain yang kelak dapat memperkuat tim nasional Indonesia.

banner 325x300

“Kompetisi sejak usia dini perlu dilakukan. Ini tidak main-main, ini bagus sekali dan sangat memberi pengaruh besar pada sepak bola nasional, khususnya usia dini,” kata Yudo saat ditemui di sela-sela pertandingan  Bina Mutiara FC vs Toyo Haryono di Lapangam Sintetis 1 PSF Pancoran Jakarta Selatan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Radio Bola dan PSF Group yang telah bekerja sama menyelenggarakan kompetisi tersebut. Menurut Yudo, penyelenggaraan turnamen usia muda membutuhkan keseriusan, tata kelola, dan profesionalisme agar pemain mendapatkan pengalaman bertanding yang berkualitas.

“PSSI harus memberi acungan jempol kepada penyelenggara ini. Ini sangat bagus,” ujar Yudo.

Bagi Yudo, pembinaan pemain muda tidak cukup hanya mengandalkan pencarian bakat. Anak-anak harus mendapatkan kesempatan bertanding secara rutin, belajar menghadapi tekanan pertandingan, memahami disiplin, serta dibiasakan menjaga sikap sebagai seorang atlet.

Pengalaman panjang Yudo di sepak bola membuatnya memahami bahwa proses menjadi pemain berkualitas tidak berlangsung secara instan. Ia menekankan pentingnya disiplin dan kesiapan sejak usia muda.

“Kalau sebagai pelatih, kita harus bisa membaca perkembangan pemain. Saya selalu melihat bahwa pemain muda harus dipersiapkan untuk menggantikan pemain-pemain yang ada sekarang,” katanya.

Pandangan Yudo tersebut berangkat dari perjalanan panjangnya sebagai pemain. Dalam sepak bola, penjaga gawang kerap menjalankan peran yang sunyi. Berdiri di posisi paling belakang, ia menjadi benteng terakhir yang menjaga harapan sebuah tim. Bagi Yudo, posisi tersebut bukan sekadar tanggung jawab di lapangan. Dari bawah mistar, ia membangun reputasi sebagai salah satu penjaga gawang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Yudo Hadianto lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 19 September 1941. Pada era 1960-an hingga 1970-an, namanya menjadi bagian penting dalam perjalanan sepak bola Indonesia. Ia bahkan pernah diakui sebagai salah satu penjaga gawang terbaik di Asia.

Karier Yudo di dunia sepak bola dimulai bersama Persis Solo pada 1958–1959. Setelah itu, ia memperkuat Persija Jakarta dalam dua periode, yakni 1960–1968 dan 1970–1973. Ia juga sempat memperkuat sejumlah tim internal Persija dan PSMS Medan sebelum kembali berkiprah di dunia sepak bola melalui Indonesia Muda.

Namun, panggung terbesar Yudo adalah tim nasional Indonesia.

Mengenakan seragam Merah Putih pada periode 1962–1976, Yudo tercatat memperkuat tim nasional sebanyak 53 kali. Ia juga menjadi bagian dari generasi yang membawa Indonesia meraih sejumlah prestasi penting dalam berbagai turnamen internasional.

Salah satu pencapaian awalnya terjadi ketika Yudo memperkuat Indonesia Yunior yang menjuarai Piala Asia U-20 pada 1961. Setahun kemudian, bersama tim nasional, ia turut meraih gelar Turnamen Merdeka 1962.

Prestasi internasional tersebut berlanjut. Indonesia kembali menjuarai Turnamen Merdeka pada 1969 dan meraih gelar King’s Cup di Thailand pada 1968. Yudo juga menjadi bagian dari tim Indonesia yang menjuarai Pesta Sukan Cup 1972 serta Jakarta Anniversary Tournament pada tahun yang sama.

Di level klub, Yudo turut mempersembahkan dua gelar Perserikatan bagi Persija Jakarta, masing-masing pada 1964 dan 1973.

Pengalaman tersebut membuat Yudo melihat regenerasi sebagai sesuatu yang tidak bisa ditunda. Ketika sepak bola Indonesia berbicara tentang masa depan tim nasional, perhatian menurutnya harus diarahkan pula kepada pemain-pemain yang hari ini masih berusia belia.

Perdebatan mengenai pemain naturalisasi, menurut Yudo, tidak semestinya membuat pembinaan pemain lokal terlupakan. Tim nasional membutuhkan keseimbangan antara pengalaman, kualitas, dan regenerasi. Pemain muda harus disiapkan agar ketika kesempatan datang, mereka tidak sekadar menjadi pelapis, tetapi mampu bersaing di level tertinggi.

“Jangan hanya terpaku pada naturalisasi. Kita juga harus menyiapkan pemain-pemain muda yang bagus untuk menggantikan pemain yang ada,” ujar Yudo.

Bagi seorang penjaga gawang, usia dan pengalaman merupakan modal penting. Namun, Yudo memandang sepak bola bukan semata-mata sebagai persoalan kemampuan individu. Menurutnya, disiplin dan kesiapan pemain merupakan faktor penting untuk menjaga keberlangsungan sebuah tim.

Setelah tidak lagi aktif sebagai pemain, Yudo tetap berkiprah di lingkungan olahraga. Ia bekerja di Pertamina pada 1971–1997, kemudian menjabat sebagai Manajer GOR Simprug pada 1997–2003. Sejak 2003, ia juga terlibat dalam pengelolaan tim nasional futsal serta memiliki klub futsal anak-anak Biangbola.

Kini, di usia 85 tahun, Yudo masih menunjukkan perhatiannya terhadap lapangan hijau. Dari tribun dan sisi lapangan PSF Pancoran, ia menyaksikan anak-anak U15 berlari mengejar bola dan kesempatan.

Lapangan dapat berubah, generasi dapat berganti. Namun, bagi Yudo, masa depan sepak bola Indonesia justru sedang tumbuh dari lapangan-lapangan seperti PSF Pancoran.

Karena itu, kompetisi usia dini bukan sekadar pertandingan untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lebih jauh, kompetisi semacam Liga Soeratin U15 menjadi ruang untuk menempa karakter, disiplin, mental bertanding, sekaligus menemukan talenta yang suatu hari nanti dapat berdiri mengenakan seragam Merah Putih.

Bagi legenda yang pernah berdiri di bawah mistar tim nasional Indonesia itu, di sanalah sesungguhnya investasi sepak bola nasional dimulai.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan