banner 728x250

Tarkam, Saweran, dan Drama Ayah-Anak dalam Film Bapakmu Kiper

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Sepak bola antar-kampung atau tarkam bukan sekadar perkara siapa yang mencetak gol dan siapa yang keluar sebagai pemenang. Di lapangan sederhana, ada gengsi kampung yang dipertaruhkan, saweran penonton, pemain profesional yang turun gunung, hingga intrik di luar pertandingan.

Warna-warni kehidupan tarkam tersebut dihadirkan ke layar lebar melalui film Bapakmu Kiper. Film produksi Entelekey Media Indonesia dan Entelekey Sinema Indonesia (ESI) itu dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 3 September 2026.

banner 325x300

Disutradarai Ody Harahap, Bapakmu Kiper tidak menempatkan sepak bola semata sebagai latar pertandingan. Film ini mencoba melihat tarkam sebagai ruang tempat berbagai kepentingan, gengsi, persahabatan, konflik, dan persoalan keluarga bertemu.

“Di balik pertandingan, ada persaingan, ada hiburan, bahkan fenomena unik seperti saweran,” ujar Ody.

Menurut dia, berbagai hal yang tumbuh di sekitar pertandingan tarkam justru membuat olahraga tersebut memiliki cerita yang lebih hidup. Ada tekanan dari lingkungan, harapan pemain, kebanggaan kampung, sekaligus relasi sosial yang terbentuk di pinggir lapangan.

Tarkam sendiri telah lama menjadi bagian dari denyut sepak bola akar rumput Indonesia. Dengan lapangan dan fasilitas yang terkadang sederhana, pertandingan antarkampung mampu menarik perhatian masyarakat. Rivalitas lokal menjadi bumbu tersendiri. Begitu pula tradisi saweran, ketika penonton memberikan uang secara langsung kepada pemain yang dianggap tampil apik.

Dalam sejumlah pertandingan, pemain dari kompetisi profesional pun tak jarang ikut ambil bagian. Selain mendapatkan honor tambahan, keikutsertaan mereka menjadi cara untuk menjaga kebugaran ketika kompetisi resmi sedang memasuki masa jeda.

Bagi Garnet Geraldine Tanja, Direktur Utama ESI sekaligus produser Bapakmu Kiper, sisi otentik itulah yang membuat dunia tarkam menarik untuk diangkat menjadi cerita film.

“Tarkam itu bukan cuma soal menang kalah di lapangan. Ada gengsi kampung, ada drama di pinggir lapangan, bahkan ada saweran yang bikin suasana makin seru. Semua bumbu itu yang justru bikin kami yakin ceritanya akan dekat di hati penonton Indonesia,” kata Garnet.

Kisah Ayah dan Anak

Di tengah hiruk-pikuk tarkam, Bapakmu Kiper menempatkan kisah keluarga sebagai jantung cerita.

Tokoh utamanya adalah Dino (Ali Fikry), remaja berusia 18 tahun yang menyimpan kemarahan mendalam kepada ayahnya, Warto (Fedi Nuril). Bagi Dino, sang ayah adalah sosok yang bertanggung jawab atas kematian ibunya.

Warto sendiri merupakan mantan jagoan tarkam yang memiliki sisi kelam sebagai seorang penjudi. Luka masa lalu membuat hubungan ayah dan anak tersebut renggang selama bertahun-tahun.

Kesempatan mengikuti Tarkam Super Cup kemudian menjadi titik balik bagi Dino. Ajang itu bukan hanya membuka peluang baginya untuk menembus sepak bola profesional, tetapi juga menjadi pintu menuju perubahan hidup.

Namun, perjalanan Dino tidak berlangsung mulus.

Menjelang partai final, tim yang menjadi andalannya justru direbut pihak lain. Dalam situasi tersebut, Warto kembali turun tangan. Ia membentuk tim baru yang berisikan para pemain senior dengan segala keterbatasannya.

Dari sinilah perjalanan menuju pertandingan penting itu berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Sepak bola menjadi jalan bagi Dino dan Warto untuk berhadapan dengan masa lalu yang selama ini mereka hindari.

Bagi Fedi Nuril, karakter Warto juga merepresentasikan sosok ayah yang mungkin banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak selalu menjadi orang yang terlihat paling menonjol, tetapi keberadaannya menjadi penting ketika keluarga membutuhkan tempat untuk bertahan.

“Warto ini kayak gambaran banyak ayah di luar sana, yang perannya sering nggak kelihatan tapi sebenarnya paling krusial. Nggak harus selalu mencetak gol, yang penting selalu ada buat bertahan dan melindungi keluarganya,” ujar Fedi.

Sementara itu, Ali Fikry melihat perjalanan Dino sebagai cerita tentang kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu.

Menurut Ali, kemarahan yang dipelihara bertahun-tahun tidak selalu menjadi jalan keluar. Ada kemungkinan untuk memaafkan, meskipun prosesnya tidak mudah.

“Memaafkan enggak akan selalu jadi proses yang mudah, tapi selalu layak untuk diusahakan,” kata Ali.

Dengan demikian, Bapakmu Kiper tidak berhenti pada cerita tentang sebuah pertandingan sepak bola. Tarkam Super Cup menjadi semacam panggung tempat seorang anak memperjuangkan masa depan, sementara seorang ayah berusaha menebus masa lalu.

Di antara suara penonton, gengsi kampung, saweran, dan intrik pertandingan, ada hubungan ayah dan anak yang perlahan mencari jalan untuk kembali pulang.

Film Bapakmu Kiper disutradarai Ody Harahap dengan skenario karya Titien Wattimena dan Aaron Hart bersama tim Katatinut. Selain Fedi Nuril dan Ali Fikry, film ini turut dibintangi Tanta Ginting, Augie Fantinus, serta King Polo yang dikenal dengan julukan “Raja Tarkam”.

Film tersebut akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 3 September 2026.

Penulis : DaBon |Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan