Intimate.co.id|JAKARTA — Ada yang menarik dari kedatangan Suhatman Iman ke Lapangan PSF MBAU Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2026). Legenda tim nasional Indonesia itu tidak datang untuk mengenang masa lalu, tetapi melihat dari dekat sebuah ikhtiar kecil membangun masa depan sepak bola dari bawah.
Ia datang menemui mBah Coco, sahabatnya hampir 40 tahun, yang bersama sejumlah jurnalis veteran menggagas dan menggerakkan Liga Jakarta U-15 dan U-17 sebagai wadah kompetisi sekaligus pembinaan grassroot.
Di tangan mBah Coco dan kawan-kawan, kompetisi usia muda tidak berhenti pada pertandingan. Anak-anak diberi ruang untuk merasakan atmosfer kompetisi, belajar disiplin, memahami permainan, serta berproses melalui pertandingan yang berlangsung secara berkelanjutan.
Minggu siang itu, Suhatman duduk di tribun menyaksikan pertandingan Tunas Jaya melawan PSF. Pertemuan tersebut segera berubah menjadi nostalgia sekaligus percakapan serius tentang wajah sepak bola Indonesia.
Suhatman sangat memahami arti sebuah proses. Ia masuk Diklat Salatiga pada 1974 setelah dipilih Tony Pogacnik. Dua tahun kemudian, pada usia 19 tahun, ia dipercaya Wiel Coerver menjadi bagian skuad inti tim nasional Indonesia untuk Pra-Olimpiade 1976.
Di antara pemain senior seperti Iswadi Idris, Anjas Asmara, Yudo Hadiyanto, Ronny Paslah hingga Risdianto, Suhatman menjadi salah satu young guns yang menonjol.
“Dia pemain berkarakter, dan dia pemain paling bandel dan jahil,” kata Wiel Coerver suatu ketika di Kompas.
Kini, hampir setengah abad kemudian, Suhatman kembali melihat anak-anak muda ditempa di lapangan.
Ia pun menyampaikan kegelisahannya mengenai pembangunan sepak bola Indonesia, terutama soal kecenderungan mencari hasil secara instan dan penggunaan pemain naturalisasi.
“Kalau latihan, skill, disiplin, nutrisi dan kepelatihan pemain lokal sudah sama dengan pemain luar, tidak masalah. Harus apple to apple,” ujar Suhatman.
Menurut dia, pembinaan pemain lokal membutuhkan waktu panjang.
“Orang Indonesia maunya cepat, maunya instan. Padahal membangun prestasi itu minimal sepuluh tahun.”
Karena itu, ia mengapresiasi apa yang dilakukan mBah Coco dan para jurnalis veteran melalui kompetisi usia muda tersebut. Bagi Suhatman, Liga Jakarta U-15 semestinya dilihat sebagai bagian dari proses, bukan sekadar turnamen.
“Cetak grassroot, kasih wadah kompetisi, kasih pemahaman sepak bola modern, disiplin dan kerja keras. Dari situ pemain akan tumbuh,” katanya.
Mbah Coco sendiri bukan sedang mengejar kemeriahan sebuah turnamen. Ia mencoba menyediakan ruang yang sering hilang dalam pembinaan sepak bola usia muda: kompetisi yang terus hidup sehingga pemain memiliki kesempatan untuk tumbuh, bukan sekadar bermain lalu selesai.
Di usia 71 tahun, Suhatman masih memilih datang ke lapangan. Sebagai penasehat Semen Padang, ia bahkan berkata tidak ingin menghabiskan waktunya di hotel.
“Ngapain saya di hotel? Saya maunya tiap hari ada di lapangan, melihat perkembangan latihan pemain. Itu tugas saya.”
Minggu itu, Suhatman melihat Liga Jakarta U-15 dari tribun. Mbah Coco berdiri di antara lapangan dan anak-anak yang sedang bertanding.
Dua generasi sepak bola bertemu di tempat yang sama seorang legenda yang pernah ditempa oleh sistem pembinaan, dan seorang jurnalis veteran yang kini mencoba menciptakan ruang agar proses itu kembali tumbuh.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















