banner 728x250

Suara Yuswardi untuk PSSI: Jangan Lupakan Jasa Para Legenda Timnas Indonesia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA-| Pulangnya legenda sepak bola Indonesia M. Basri menyisakan duka sekaligus pertanyaan bagi para mantan penggawa tim nasional. Di tengah suasana kompetisi Liga Soeratin U-15 Jakarta di Lapangan Pancoran Soccer Field (PSF), Sabtu (25/7), mantan bek kanan tim nasional Indonesia dan PSMS Medan, Yuswardi, melontarkan kegelisahan yang telah lama dipendam.

Pria berusia 83 tahun yang masih tampak bugar itu mengaku prihatin melihat minimnya perhatian terhadap para mantan pemain nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia.

banner 325x300

“Saya heran, kok PSSI tidak peduli dengan mantan-mantan pemain nasional yang sudah berjasa untuk Merah Putih dan mengumandangkan Indonesia Raya,” ujar Yuswardi.

Keprihatinan itu menguat setelah wafatnya M. Basri pada Kamis (23/7). Menurut Yuswardi, sosok yang pernah menjadi pemain sekaligus pelatih tim nasional itu semestinya mendapat penghormatan yang layak dari federasi sepak bola nasional.

“Padahal M. Basri itu bukan hanya pemain timnas, tetapi juga pernah menjadi pelatih nasional. Saya tidak melihat ada bentuk belasungkawa dari PSSI,” katanya.

Yuswardi menilai kondisi serupa juga terjadi ketika sejumlah mantan pemain nasional lainnya berpulang. Ia menyebut nama-nama seperti Dede Sulaiman, Riono Asnan, Ronny Paslah, Wahyu Hidayat, Warta Kusuma, hingga Elly Idris yang menurutnya juga tidak memperoleh penghormatan yang semestinya.

“Karangan bunga pun tidak ada. Seolah-olah mereka dilupakan,” tuturnya.

Yuswardi sendiri merupakan salah satu figur penting dalam sejarah sepak bola nasional. Lahir di Padang, Sumatera Barat, ia menjadi satu-satunya pemain non-Medan yang dipercaya mengenakan ban kapten PSMS Medan saat klub berjuluk Ayam Kinantan itu meraih gelar juara bersama Persija Jakarta pada kompetisi Perserikatan 1975.

Di lapangan, Yuswardi dikenal sebagai bek kanan modern pada zamannya. Jauh sebelum istilah overlapping full-back populer dalam sepak bola modern, ia telah memainkan peran menyerang dari sisi kanan pertahanan dengan rajin membantu serangan dan mengirim umpan-umpan matang dari sayap.

Gaya bermain yang kala itu dikenal dengan istilah coming from behind kemudian menginspirasi generasi berikutnya, termasuk Simson Rumahpasal, Eryono Kasiha, hingga Budiawan Hendratno.

Bagi Yuswardi, penghormatan kepada para legenda bukan sekadar seremoni. Itu merupakan bentuk penghargaan terhadap sejarah dan dedikasi mereka dalam membangun sepak bola Indonesia.

“Yang kami harapkan hanya rasa hormat. Mereka pernah berjuang untuk bangsa ini lewat sepak bola. Jangan sampai jasa para legenda hilang begitu saja dari ingatan,” ujarnya.

Keprihatinan Yuswardi menjadi pengingat bahwa membangun masa depan sepak bola tidak hanya melalui pembinaan usia muda, tetapi juga dengan menjaga penghormatan terhadap mereka yang telah meletakkan fondasi kejayaan sepak bola Indonesia.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan