Intimate.co.id|JAKARTA -|Sepak bola sering kali dibaca melalui angka. Skor pertandingan, jumlah gelar, nilai transfer pemain, besaran kontrak sponsor, hingga jumlah penonton yang memenuhi stadion. Namun, di balik angka-angka itu, ada sesuatu yang jauh lebih sulit diukur: rasa memiliki.
Sebuah klub bisa memiliki pemain bintang, sponsor besar, stadion yang megah, bahkan jutaan pengikut. Tetapi, apakah semua itu cukup untuk menyebutnya sebagai klub yang benar-benar kokoh?
Pertanyaan tersebut mengemuka dalam catatan mBah Coco ketika ia mencoba melihat sepak bola Indonesia dari sisi yang berbeda. Bukan dari lapangan hijau, melainkan dari fondasi yang menopangnya: aset, identitas, suporter, akademi, tata kelola, serta keberlanjutan bisnis.Di mata mBah Coco, kegemerlapan kompetisi sepak bola Indonesia belum tentu menggambarkan kesehatan industri di belakangnya.
“Klub-klub kita terlihat glamour, tetapi belum tentu mempunyai rumah sendiri.” Ujar Mbah Coco,di Markas Kandang Ayam,Rawamangun Jakarta Timur,Senin(10/8)
Kalimat itu menjadi semacam pintu masuk untuk membaca kembali perjalanan sepak bola profesional Indonesia.
Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya hingga Bali United berada di antara klub-klub yang disebut dalam perbincangan tersebut. Bukan untuk menghapus sejarah dan prestasi mereka, melainkan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: aset apa yang sesungguhnya melekat pada sebuah klub?
Stadion dapat menjadi salah satu jawabannya.
Namun, stadion yang digunakan sebuah klub belum tentu merupakan aset miliknya. Sebuah klub dapat mengelola atau menyewa stadion untuk pertandingan kandang, tetapi status penggunaan tidak otomatis berubah menjadi kepemilikan.
Dari sana, pertanyaan menjadi lebih jauh: jika stadion bukan milik klub, bagaimana sebuah klub membangun nilai aset dan keberlanjutan bisnisnya?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika sepak bola Indonesia mulai bersentuhan dengan pasar modal.
Ketika Sepak Bola Bertemu Bursa
Bali United menjadi salah satu tonggak penting dalam persinggungan sepak bola Indonesia dengan pasar modal melalui PT Bali Bintang Sejahtera Tbk.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa klub sepak bola dapat ditempatkan dalam kerangka bisnis yang lebih luas. Sepak bola bukan hanya pertandingan 90 menit, tetapi juga industri dengan saham, sponsor, hak komersial, penjualan tiket, merchandise, pengembangan pemain, serta berbagai sumber pendapatan lainnya.
Namun, menurut mBah Coco, menjadi perusahaan terbuka bukan sekadar perkara menjual saham.
Sebab, di balik satu pertandingan terdapat biaya yang tidak kecil. Pemain asing, pelatih, staf, perjalanan, akomodasi, stadion, keamanan, perawatan lapangan, akademi hingga kebutuhan administrasi harus dibiayai sepanjang musim.
Jika pemasukan tidak tumbuh seimbang dengan pengeluaran, sepak bola mudah berubah menjadi lingkaran pembakaran uang.
Klub membayar pemain,Klub membayar stadion,Klub membayar perjalanan,Klub mencari sponsor.
Lalu musim berikutnya, siklus tersebut kembali dimulai.
Dalam situasi seperti itu, nama besar belum tentu sama dengan kesehatan bisnis.
Di bursa, popularitas tidak cukup. Angka-angka pada akhirnya berbicara.
Ketika Nama Berpindah, Identitas Tertinggal
Kegelisahan mBah Coco kemudian bergerak menuju persoalan yang lebih tua: perpindahan klub.
Sejarah sepak bola Indonesia memperlihatkan sejumlah klub yang berpindah kota, berganti nama, warna, logo, bahkan identitas.
Dalam perspektif bisnis, perpindahan tersebut mungkin dapat dibaca sebagai perubahan kepemilikan atau restrukturisasi. Tetapi sepak bola memiliki dimensi yang berbeda.
Klub bukan sekadar badan usaha.
Ia hidup di tengah masyarakat.
Ia tumbuh bersama warna yang dikenakan suporter, lagu yang dinyanyikan di tribun, stadion yang menjadi rumah, serta cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, bagi seorang suporter, klub bukan barang yang mudah dipindahkan.
Nama bisa berubah dalam sehari. Rasa memiliki tidak.
Mbah Coco menempatkan perjalanan Malut United sebagai salah satu contoh yang patut direnungkan dalam konteks ini.
Ketika sebuah klub berubah homebase dan identitas, persoalannya tidak berhenti pada dokumen administratif. Ada pertanyaan tentang hubungan klub dengan masyarakat asal, sejarah, suporter dan legitimasi sosial yang telah dibangun.
Apa sebenarnya yang berpindah?
Nama?Hak berkompetisi?Lisensi?
Atau sebuah ekosistem sepak bola yang lengkap dengan aset dan masyarakat pendukungnya?
Pertanyaan itu tidak hanya milik satu klub. Ia merupakan pertanyaan yang patut diajukan kepada sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
Dari Persijatim hingga Pelita Jaya
Fenomena perpindahan klub bukanlah cerita baru.
Persijatim Jakarta Timur pernah berpindah ke Palembang dan kemudian dikenal sebagai Sriwijaya FC. Peristiwa tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang perubahan wajah klub sepak bola Indonesia.
Ada pula Pelita Jaya.
Lahir pada dekade 1980-an, klub tersebut pernah menjadi kekuatan penting dalam era Galatama. Dengan dukungan modal dan fasilitas yang relatif kuat pada masanya, Pelita Jaya mampu menorehkan prestasi.
Namun, membangun ikatan suporter ternyata bukan perkara yang dapat diselesaikan hanya dengan modal.
Perjalanan Pelita Jaya kemudian melewati berbagai nama dan kota: Pelita Mantrans, Pelita Bakrie, Pelita Solo, Pelita Krakatau Steel, Pelita Purwakarta, Pelita Jabar, Pelita Jaya FC Karawang, Persipasi Bandung Raya hingga akhirnya menjadi Madura United.
Rangkaian perjalanan itu menyisakan satu pelajaran penting.
Modal dapat berpindah dengan cepat. Identitas membutuhkan waktu untuk tumbuh.
Klub dapat berpindah rumah, tetapi belum tentu bisa membawa serta rasa memiliki yang telah tumbuh di rumah sebelumnya.
Stadion dan Akademi: Dua Rumah yang Berbeda
Membangun klub profesional, karena itu, tidak cukup dengan membeli pemain.
Klub membutuhkan stadion atau kepastian akses jangka panjang terhadap stadion. Ia membutuhkan pusat latihan, kantor, fasilitas medis, sistem pencarian bakat, sumber pendapatan komersial dan basis suporter.
Lebih dari itu, ia membutuhkan akademi.
Akademi bukan sekadar tempat mencari pemain muda. Ia merupakan ruang untuk membangun karakter, filosofi dan identitas klub.
Klub yang mempunyai akademi sendiri memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kesinambungan dari generasi ke generasi.
Tanpa pembinaan yang berkelanjutan, klub akan terus menggantungkan masa depan pada pasar transfer.
Setiap musim membeli,Setiap musim menjual,Setiap musim mengeluarkan uang.
Padahal, industri sepak bola yang matang semestinya mampu menciptakan nilai dari dalam dirinya sendiri.
Suporter Adalah Bagian dari Industri
Ada satu unsur lain yang tidak kalah penting: suporter.
Dalam sepak bola, suporter bukan sekadar penonton yang membeli tiket. Mereka adalah bagian dari ekosistem ekonomi sekaligus identitas klub.
Ketika Persib bermain di Jakarta atau Persija datang ke Bandung, misalnya, yang berlangsung bukan hanya pertandingan.
Ada perjalanan ribuan orang,Ada kebutuhan transportasi,Ada keamanan,Ada tiket,Ada konsumsi,Ada aktivitas ekonomi di sekitar stadion.
Karena itu, keselamatan dan kenyamanan suporter bukan sekadar persoalan keamanan pertandingan. Ia merupakan bagian dari keberlanjutan industri.
Klub, operator liga, federasi, pemerintah daerah, pengelola stadion, sponsor, media, pemain, akademi dan suporter harus ditempatkan dalam satu ekosistem.
Tidak bisa berdiri sendiri.
Demikian pula jadwal pertandingan.
Kompetisi yang memiliki kepastian jadwal memberikan ruang bagi klub untuk merencanakan anggaran, mengelola sponsor, menjual tiket, mengatur perjalanan dan menghitung biaya operasional.
Tanpa kepastian, klub akan kesulitan membangun bisnis jangka panjang.
Bursa Bukan Stadion
Pada titik ini, kegelisahan mBah Coco kembali kepada satu pertanyaan besar:
Apakah sepak bola Indonesia sedang membangun industri, atau masih terlalu sering memperdagangkan nama dan hak berkompetisi?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika sejumlah klub besar mulai dikaitkan dengan kemungkinan mengikuti jejak Bali United menuju pasar modal.
Namun, bursa saham memiliki bahasa sendiri.
Di stadion, sorak penonton dapat membuat sebuah klub terasa sangat besar.
Di bursa, yang berbicara adalah laporan keuangan, aset, pendapatan, utang, tata kelola, prospek dan keberlanjutan bisnis.
Karena itu, klub profesional tidak cukup hanya memiliki pemain mahal.
Ia membutuhkan rumah,Ia membutuhkan sistem,Ia membutuhkan akademi,Ia membutuhkan pendapatan,Ia membutuhkan sejarah dan yang tidak kalah penting, ia membutuhkan masa depan.
Delapan Pekerjaan Rumah
Dari kegelisahan tersebut, mBah Coco menyodorkan delapan pekerjaan rumah.
Pertama, perubahan kepemilikan atau jual-beli klub harus tetap menghormati sejarah, warna, logo, identitas daerah dan ikatan dengan suporter.
Kedua, klub yang hendak masuk pasar modal harus mempunyai fondasi bisnis dan tata kelola yang sehat.
Ketiga, aset dan fasilitas klub harus jelas, baik stadion, pusat latihan, kantor maupun akademi. Jika belum dimiliki, setidaknya harus ada kepastian penggunaan jangka panjang.
Keempat, kompetisi harus memiliki jadwal dan regulasi yang konsisten sehingga klub dapat membangun perencanaan bisnis.
Kelima, akademi harus menjadi bagian utama dari klub, bukan sekadar pelengkap.
Keenam, keselamatan dan kenyamanan suporter harus menjadi bagian dari desain industri sepak bola.
Ketujuh, PSSI dan operator kompetisi harus terus memperkuat tata kelola, integritas, literasi regulasi dan visi tentang sepak bola modern.
Kedelapan, seluruh pekerjaan tersebut harus berjalan bersama.
Sebab, sepak bola bukan sekadar sebelas pemain yang berlari mengejar bola.Ia adalah sebuah kota yang merasa memiliki klub,Ia adalah seorang anak yang mengenakan jersey kebanggaannyaIa adalah pedagang yang menunggu stadion ramai,Ia adalah pemain muda yang bermimpi suatu hari bermain di sana.
Dan ia adalah sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Pada akhirnya, klub besar bukanlah klub yang paling mahal membeli pemain.
Bukan pula klub yang paling ramai diberitakan.
Klub yang benar-benar besar adalah klub yang tetap hidup ketika pemiliknya pergi, sponsor berganti, dan pemain bintang meninggalkan lapangan.
Sebab rumahnya ada,Akademinya ada,Asetnya jelas,Suporternya tetap setia,Identitasnya tidak hilang.
Dan masyarakat di tempat klub itu berdiri masih dapat berkata dengan penuh keyakinan:
“Itu klub kami.”
Barangkali, di situlah masa depan sepak bola Indonesia seharusnya dimulai.
Bukan dari gemerlap nama,melainkan dari rumah yang benar-benar dibangun untuk ditinggali.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















