Oleh : Eddie Karsito
Intimate.co.id|JAKARTA-|Film barangkali adalah salah satu cara paling panjang bagi sebuah bangsa untuk bercakap dengan dirinya sendiri. Di layar, manusia bukan hanya melihat cerita, melainkan juga menemukan kembali nilai, bahasa, ingatan, mitos, bahkan kegelisahan yang hidup di tengah masyarakat.
Di situlah film bertemu dengan dua wajah sekaligus: seni dan industri. Sebagai karya budaya, film merekam norma, bahasa, nilai, serta identitas masyarakat. Sebagai produk industri, film membutuhkan modal, strategi pemasaran, teknologi, dan jaringan distribusi agar dapat bertahan serta menjangkau penonton yang lebih luas.
Namun pada akhirnya, film tumbuh karena cerita. Ketika sebuah kisah terasa dekat, relevan, menyentuh emosi, dan seperti berbicara tentang kehidupan kita sendiri, penonton akan menemukan alasan untuk datang ke bioskop.
Barangkali karena itulah horor selalu memiliki tempat khusus dalam perjalanan sinema Indonesia.
Horor yang Dekat dengan Rumah
Ketertarikan masyarakat Nusantara terhadap cerita horor bukanlah gejala baru. Ia telah tumbuh sejak masa Hindia Belanda. Salah satu jejak awalnya dapat ditemukan pada Doea Siloeman Oeler Poeti en Item (1934), karya The Teng Chun alias Tahyar Idris.
Setahun kemudian, Tahyar Idris kembali menghadirkan Ang Hai Djie dan Tie Pat Kai Kawin. Kemudian muncul Tengkorak Hidoep (1941), garapan Tan Tjoei Hock.
Jejak itu kemudian bergerak melewati berbagai zaman: masa perintisan setelah kemerdekaan, era keemasan Suzanna pada 1980-an, titik balik melalui Jelangkung pada 2001, hingga film horor masa kini yang ditopang teknologi visual dan tata suara semakin canggih.
Sejarah panjang tersebut memperlihatkan satu hal: horor Indonesia memiliki rumahnya sendiri.
Rumah itu adalah kebudayaan.
Hantu, siluman, tempat keramat, legenda, mitos, pantangan, ritual, dan kisah-kisah yang dituturkan dari generasi ke generasi menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Karena itu, film horor Indonesia sering terasa lebih dekat ketika ia berpijak pada pengalaman sosial dan kebudayaan yang benar-benar dikenal penontonnya.
Horor menjadi menakutkan bukan semata karena sosok yang tiba-tiba muncul dari kegelapan. Ia menjadi menakutkan karena menyentuh sesuatu yang mungkin pernah kita dengar, kita lihat, atau bahkan kita percayai.
Dengan kata lain, sumber ketakutan itu sering kali bukan berada di luar rumah. Ia sudah lama tinggal di dalam ingatan.
Ketika Teknologi Berlari Lebih Cepat
Sinema Indonesia hari ini sedang bergerak dalam lanskap yang jauh lebih beragam. Jumlah produksi meningkat, penonton tumbuh, genre berkembang, dan karya-karya Indonesia mulai memiliki peluang menjangkau penonton global.
Teknologi pun melompat jauh.
Kamera semakin canggih. Tata suara semakin presisi. Sinematografi semakin berani. Efek visual dan CGI memungkinkan sineas membangun dunia yang dahulu sulit dibayangkan. Adegan aksi maupun horor dapat dirancang semakin spektakuler.
Ada kegembiraan di sana. Kualitas teknis film Indonesia semakin mampu berdiri sejajar dengan standar produksi internasional.
Akan tetapi, kemajuan teknologi membawa pertanyaan lain: apakah kedalaman cerita bergerak dengan kecepatan yang sama?
Di sinilah persoalan sinema kita menjadi menarik.
Ada kalanya kamera telah mampu memperlihatkan dunia yang luar biasa indah, tetapi naskah belum menemukan cara untuk membuat dunia itu terasa hidup. Efek visual sudah mampu menciptakan sosok mengerikan, tetapi karakter manusianya belum cukup kuat untuk membuat penonton peduli.
Film akhirnya menghadapi semacam culture shock antara teknik dan cerita. Kemajuan perangkat produksi melesat, sementara penulisan naskah, logika alur, karakterisasi, dan kedalaman konflik tidak selalu mengikuti.
Padahal, kecanggihan teknologi seharusnya menjadi kendaraan bagi cerita, bukan pengganti cerita.
Bahasa yang Kehilangan Rumah
Persoalan itu semakin terasa ketika film horor mencoba menggali kebudayaan lokal.
Horor Indonesia memiliki kekayaan subkultur yang luar biasa. Jawa, Sunda, Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan berbagai wilayah lain menyimpan khazanah mitologi serta tradisi yang dapat menjadi sumber cerita yang nyaris tak habis-habis.
Namun kekayaan itu membutuhkan riset.
Bahasa daerah, misalnya, tidak cukup diperlakukan sebagai ornamen suara untuk menciptakan kesan mistis. Bahasa adalah bagian dari identitas tokoh. Ia membawa usia, kedudukan sosial, hubungan kekerabatan, pendidikan, bahkan cara seseorang memandang dunia.
Dalam budaya Jawa, misalnya, persoalan bukan sekadar apakah tokoh berbicara dalam krama atau ngoko. Yang lebih penting adalah kepada siapa ia berbicara, dalam situasi apa, bagaimana relasi sosialnya, serta apa yang hendak disampaikan melalui pilihan bahasa tersebut.
Kesalahan tingkat tutur dapat membuat penonton lokal seketika keluar dari dunia film. Begitu pula aksen yang dipaksakan kepada aktor tanpa pemahaman yang memadai tentang penutur asli.
Ketika bahasa tidak lagi terasa alami, sesuatu yang lebih besar ikut hilang: kepercayaan penonton.
Lebih jauh, tradisi lokal dapat mengalami reduksi. Mitos yang semula memiliki lapisan filosofis, nilai moral, atau pandangan kosmologis akhirnya hanya digunakan sebagai jalan pintas menuju jump scare.
Padahal, di balik sebuah mitos hampir selalu ada manusia.
Ada kecemasan, harapan, larangan, kebijaksanaan, dan cara sebuah masyarakat memahami hubungan antara manusia, alam, serta sesuatu yang berada di luar kemampuan inderawi.
Mencari Roh Film
Maka, ketika kita membicarakan masa depan film horor Indonesia, barangkali yang perlu dicari bukan sekadar teknologi baru.
Yang perlu dicari adalah kembali kepada roh cerita.
Cerita merupakan cetak biru film. Ia menjadi jembatan antara gagasan dan gambar, antara pengalaman manusia dan bahasa sinema. Adaptasi yang baik tidak hanya memindahkan kisah dari satu medium ke medium lain, tetapi menemukan kembali jiwa cerita agar dapat hidup melalui gambar, suara, gerak, ruang, dan karakter.
Di situlah film memperoleh daya hidupnya.
Film yang baik tidak selalu membutuhkan cerita yang rumit. Kadang-kadang ia justru lahir dari sesuatu yang sederhana: sebuah keluarga, sebuah rumah tua, sebuah desa, sebuah hubungan yang retak, sebuah rahasia yang diwariskan, atau sebuah kepercayaan yang mulai dilupakan.
Yang penting adalah kejujuran dalam melihat manusia.
Sebab roh film tidak terletak pada mahalnya kamera. Ia tidak pula semata-mata berada dalam kemegahan set, kecanggihan CGI, atau dentuman tata suara.
Roh film berada pada kejujuran rasa.
Ia hidup ketika penonton percaya kepada karakter, memahami kegelisahannya, merasakan ketakutannya, lalu tanpa sadar membawa pulang sebagian pengalaman itu setelah lampu bioskop dinyalakan.
Film sebagai Cermin dan Tuntunan
Bagi saya, film tidak pernah hanya menjadi hiburan.
Film adalah cermin nilai dan sekaligus sumber pembelajaran hidup. Melalui film, kita belajar mengenali cara manusia berhubungan dengan manusia lain, dengan alam, dengan tradisi, bahkan dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.
Karena itu, perjalanan sinema horor Indonesia pada akhirnya bukan hanya perjalanan mencari cara baru untuk menakut-nakuti penonton.
Ia adalah perjalanan mencari jalan pulang.
Pulang kepada cerita yang membumi. Pulang kepada bahasa yang hidup. Pulang kepada kebudayaan yang tidak diperlakukan sebagai dekorasi. Pulang kepada karakter manusia yang memiliki denyut. Dan, yang paling penting, pulang kepada penonton kepada pengalaman batin mereka sendiri.
Jika horor Indonesia mampu menemukan kembali rumah itu, teknologi sehebat apa pun tidak akan membuatnya kehilangan jiwa.
Sebab yang paling menakutkan dari sebuah film bukanlah ketika hantu muncul dari balik pintu.
Yang lebih menakutkan adalah ketika sebuah cerita kehilangan rumah kebudayaannya sendiri.
Dan yang paling indah adalah ketika setelah layar menggelap, penonton pulang membawa sesuatu yang lebih dari sekadar rasa takut: ingatan, pertanyaan, dan mungkin sedikit pemahaman baru tentang dirinya sendiri.
Salam Sinema Indonesia.
Sanggar Humaniora
Bekasi, 13 Agustus 2026


















