Intimate.co.id|JAKARTA -|Di tengah kerasnya persaingan Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026, sepak bola tak sekadar menghadirkan perebutan kemenangan. Lapangan hijau juga menjadi ruang tempat mimpi-mimpi tumbuh, ditempa oleh kerja keras, disiplin, dan doa yang tak pernah putus.
Di balik setiap gol yang tercipta, selalu ada cerita tentang keluarga yang setia mendampingi, pelatih yang sabar membimbing, dan rekan setim yang saling menguatkan. Itulah yang dirasakan Muhammad Rado Al Ghifari, striker Maesa Para Raiders.
Remaja kelahiran Jakarta, 23 Februari 2011 itu memahami bahwa kemenangan bukanlah hasil kerja seorang pemain semata. Kekompakan tim, arahan pelatih, serta doa dan dukungan orang tua menjadi fondasi yang membuat setiap langkah di lapangan terasa lebih ringan.
“Tanpa mereka, saya tidak akan bisa sampai di titik ini,” menjadi keyakinan yang selalu ia pegang setiap kali mengenakan seragam Maesa Para Raiders.
Rado telah mengenal sepak bola sejak berusia delapan tahun. Bersama Maesa Para Raiders, ia tumbuh selama delapan tahun, mengasah kemampuan sekaligus belajar arti kesabaran dan pengorbanan. Di rumah, sang ayah, Sri Mulyono, menjadi sosok yang tak pernah lelah memberikan semangat agar putranya terus mengejar cita-cita.
Di lapangan, Rado mengidolakan Jude Bellingham. Bukan semata karena popularitasnya, melainkan karena etos bermain gelandang Inggris tersebut yang dinilainya kuat, agresif, penuh semangat, serta selalu mampu membuka ruang dan membantu rekan-rekan setim.
Baginya, Liga Soeratin U-15 merupakan panggung penting bagi pemain muda untuk mengumpulkan pengalaman. Kompetisi menjadi tempat belajar mengendalikan emosi, membangun mental bertanding, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri saat menghadapi lawan-lawan terbaik.
Tekanan tentu selalu hadir. Namun, Rado memilih menyambutnya dengan ketenangan. Menjelang pertandingan, ia selalu memanjatkan doa agar diberi kelancaran dan seluruh rekan setim mampu menampilkan permainan terbaik.
Doa itu seolah menemukan jawabannya saat Maesa Para Raiders menghadapi Persija Barat di Lapangan PSF Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (2/8). Mengenakan nomor punggung 15, Rado tampil tajam dengan mencetak hattrick pada menit pertama, menit ke-21, dan menit ke-32. Tiga gol itu bukan hanya membawa timnya meraih hasil membanggakan, tetapi juga menjadi penanda bahwa kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun mulai berbuah manis.
Perjalanan Rado masih panjang. Liga Soeratin hanyalah satu anak tangga menuju cita-cita yang lebih tinggi. Namun, dari lapangan sederhana di Pancoran, mimpi seorang anak Jakarta terus berlari ditemani doa keluarga, semangat rekan setim, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil hari ini bisa menjadi awal menuju panggung sepak bola Indonesia di masa depan.
Penulis : DaBon |Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















