Intimate.co.id|JAKARTA— Kompetisi kelompok usia tak sekadar menghadirkan persaingan untuk menjadi juara. Lebih dari itu, ajang seperti Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026 menjadi ruang pembinaan yang menentukan arah masa depan sepak bola Indonesia.
Pandangan itu disampaikan Indrawan saat menyaksikan pertandingan ABC Wirayudha menghadapi Batavia FC pada laga Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026 di Lapangan PSF Pancoran, Jakarta Selatan, Minggu (26/7). Menurutnya, keberlangsungan kompetisi usia muda menjadi fondasi penting dalam mencetak pemain berkualitas yang kelak mampu bersaing di level profesional hingga memperkuat tim nasional.
“Kalau kompetisi seperti ini terus berjalan, akan muncul bibit-bibit baru yang nantinya bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan membela tim nasional. Anak-anak harus diberi kesempatan berkembang sampai usia yang matang,” ujar Indrawan
Ia menilai pembinaan yang konsisten akan memperluas pilihan pemain hasil pengembangan dalam negeri. Dengan demikian, regenerasi sepak bola nasional dapat dibangun melalui proses yang berkesinambungan sejak usia dini.
Bagi Indrawan, nilai terpenting dari Liga Soeratin bukan semata hasil akhir pertandingan, melainkan proses belajar yang dialami para pemain. Jadwal pertandingan yang diselingi jeda sekitar dua pekan memberi ruang bagi pelatih untuk melakukan evaluasi sekaligus membenahi aspek teknis maupun mental para pemain.
“Setiap pertandingan menjadi bahan evaluasi. Pelatih bisa melihat di mana kekurangan tim, kemudian memperbaikinya sebelum pertandingan berikutnya. Itu yang membuat anak-anak terus berkembang,” katanya.
Ia berharap dari kompetisi semacam ini akan lahir pemain-pemain yang mampu menembus Liga 1, bahkan berkarier di kompetisi luar negeri sebagai bagian dari regenerasi sepak bola Indonesia.
Meski mengapresiasi penyelenggaraan Liga Soeratin, Indrawan turut memberikan catatan bagi panitia. Menurutnya, penggunaan lapangan sintetis memerlukan perhatian khusus karena sebagian besar pemain muda masih terbiasa berlatih di lapangan rumput alami. Kondisi tersebut, ditambah cuaca yang panas, menuntut proses adaptasi yang tidak mudah bagi para pemain.
“Saran saya, ke depan kondisi lapangan juga menjadi perhatian. Anak-anak sehari-hari berlatih di rumput biasa, sehingga ketika bertanding di lapangan sintetis mereka membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Tentu ada pengaruh terhadap permainan,” tuturnya.
Ia memahami penggunaan lapangan sintetis dilakukan karena sejumlah lapangan rumput masih dalam tahap pembangunan. Namun, ia berharap ke depan penyelenggaraan kompetisi usia muda dapat semakin didukung fasilitas yang sesuai sehingga para pemain bisa berkembang secara optimal.
Bagi Indrawan, investasi terbesar sepak bola Indonesia bukan hanya membangun infrastruktur, melainkan memastikan anak-anak memiliki ruang bertanding yang berkualitas, berkesinambungan, dan mampu mengantarkan mereka menuju panggung yang lebih tinggi.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















