banner 728x250

GO-SARI Guwosari: Ketika Sampah Berubah Menjadi Sumber Penghidupan

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|BANTUL— Di Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, sampah tak lagi semata-mata dipandang sebagai persoalan yang harus dibuang. Di tangan warga, sampah justru diolah menjadi sumber penghidupan sekaligus energi bagi kegiatan produktif masyarakat.

Perubahan itu berlangsung di TPS 3R GO-SARI. Setiap hari, sekitar 3–3,5 ton sampah rumah tangga datang ke tempat pengolahan tersebut. Sampah dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali menjadi kompos, pakan ternak, material daur ulang, hingga aneka produk bernilai ekonomi.

banner 325x300

Langkah itu menjadi penting setelah meningkatnya volume sampah rumah tangga dan kebijakan pemerintah daerah menutup TPA Piyungan. Masyarakat pun dituntut mencari jalan keluar dari sumbernya.

Kini, GO-SARI melayani sekitar 1.500 rumah tangga dan membuka lapangan pekerjaan bagi 27 warga. Berbagai aktivitas produktif yang dikembangkan menghasilkan perputaran pendapatan sekitar Rp98 juta per bulan.

Cara warga memilah sampah pun dibuat sederhana dan dekat dengan keseharian. Mereka mengenalnya melalui istilah “bosok, rosok, popok, dan bodongkok”.

Sampah organik diolah menjadi kompos dan dimanfaatkan untuk budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot tersebut kemudian digunakan sebagai pakan ikan dan ternak, termasuk untuk sekitar 458 ayam petelur yang menghasilkan sekitar 27 kilogram telur setiap hari.

Sementara itu, plastik jenis HDPE diolah menjadi eco furniture berupa meja, kursi, rak, hingga pot bunga.

Pengembangan GO-SARI mendapat dukungan PT Pertamina Patra Niaga sejak 2022. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, mengatakan dukungan tersebut diarahkan bukan sekadar menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

“Kita tentunya tidak ingin setelah Pertamina pergi, program yang sudah sangat bagus ini berlalu begitu saja. Sehingga kami tidak hanya memberikan program CSR, tetapi juga memandirikan mereka,” ujar Taufik.

Pada 2026, upaya tersebut memasuki babak baru dengan hadirnya energi bersih. GO-SARI memperoleh dukungan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang dilengkapi baterai 10 kWh.

Energi tersebut digunakan untuk mendukung berbagai peralatan pengolahan sampah. Bagi pengelola, manfaatnya terasa langsung pada biaya operasional.

Local Hero Program DEB GO-SARI sekaligus pengelola TPS 3R GO-SARI, Hendry, mengatakan penggunaan PLTS mampu memangkas biaya listrik hingga sekitar 60 persen. Jika sebelumnya tagihan listrik berkisar Rp3,5 juta–Rp4 juta per bulan, kini biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp1,5 juta–Rp2 juta.

“Dengan dibantu PLTS, kebutuhan listrik kami bisa dihemat sampai sekitar 60 persen. Teman-teman juga tetap bisa bekerja ketika terjadi pemadaman listrik,” ujar Hendry.

Bagi pekerja, GO-SARI bukan sekadar tempat memilah sampah. Tempat itu telah menjadi ruang untuk mencari nafkah.

Ardian Sajidanto, yang hampir 2,5 tahun bekerja di TPS 3R GO-SARI, mengatakan penghasilannya membantu memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Dari segi pendapatan, Alhamdulillah bisa membantu ekonomi saya dan keluarga. Bisa untuk membeli susu anak juga,” kata Ardian.

Ekosistem tersebut terus diperluas. Pengelolaan sampah melibatkan kelompok lansia dan warga binaan Rutan Kelas IIB Bantul dalam pembuatan eco furniture dari plastik.

Layanan GO-SARI juga didukung aplikasi Gosari Lestari. Melalui aplikasi itu, masyarakat dapat melakukan pembayaran layanan persampahan, menabung sampah anorganik, sekaligus memasarkan produk hasil pengolahan.

Pada 12 Agustus 2026, Pertamina menyerahkan secara simbolis dukungan PLTS Program Desa Energi Berdikari serta perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi pekerja TPS 3R GO-SARI. Pada kesempatan yang sama, sebanyak 771 paket sembako diberikan kepada masyarakat prasejahtera di sekitar wilayah program.

Di Guwosari, persoalan sampah perlahan menemukan wajah baru. Apa yang sebelumnya berakhir sebagai buangan kini dipilah menjadi bahan yang memiliki nilai.

Dari sampah, lapangan pekerjaan tumbuh. Dari pengolahan, pendapatan masyarakat bergerak. Dari energi surya, biaya operasional ditekan.

Lebih dari sekadar mengurangi timbunan sampah, GO-SARI menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya membangun kemandirian masyarakat.

“Harapannya mereka bisa mandiri, bisa berdikari, dan tanpa pembimbingan kita mereka juga bisa melanjutkan dan meningkatkan lagi pendapatan yang dihasilkan,” kata Taufik.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan