banner 728x250

Erna Santoso dan Yapena Hadirkan Maulid Penuh Makna, Menyatukan Kepedulian, Budaya, dan Kasih untuk Sesama

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|TANGERANG SELATAN — Malam itu, Maulid Nabi tidak hanya hadir dalam lantunan shalawat dan doa. Di lingkungan Pondok Pesantren Al Mati’in, Tangerang Selatan, peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW menemukan wajah lain: hangat, merangkul, dan penuh perjumpaan.

Di satu ruang, tradisi dan keimanan saling menyapa. Ada dzikir yang menenangkan, ada palang pintu yang menghidupkan riuh budaya Betawi, ada tarian dan pertunjukan seni, serta kebersamaan yang sederhana tetapi bermakna ketika anak-anak yatim dan para santri duduk menikmati hidangan bersama.

banner 325x300

Pada Senin malam, 24 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, aktris senior Erna Santoso bersama Yayasan Peduli Anak Indonesia (Yapena) berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Al Mati’in menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara yang melampaui batas seremoni.

Rangkaian acara itu ditutup dengan kegiatan nonton bersama film Dancing With The Gods. Sebuah pilihan yang memperlihatkan ikhtiar penyelenggara untuk mendekatkan nilai-nilai peringatan keagamaan kepada generasi muda melalui bahasa yang lebih akrab dengan kehidupan mereka.

Bagi Erna Santoso, Maulid Nabi bukan sekadar penanda tanggal kelahiran Rasulullah. Lebih dari itu, ia adalah kesempatan untuk menengok kembali ajaran yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW dan menghadirkannya dalam tindakan nyata.

“Maulid Nabi bukan sekadar merayakan hari lahir, melainkan menghidupkan kembali ajaran, akhlak, dan kasih sayang Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Erna Santoso.

Keteladanan, menurut dia, tidak selalu harus diwujudkan dalam hal-hal besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana: memperbanyak doa dan shalawat, menjaga persaudaraan, hingga membuka hati untuk peduli kepada mereka yang membutuhkan.

Karena itulah, kehadiran anak-anak yatim dan para santri menjadi bagian penting dari peringatan tersebut. Makan bersama bukan sekadar agenda pelengkap. Di sana, kebersamaan menemukan bentuknya yang paling sederhana duduk sejajar, berbagi hidangan, dan merasakan bahwa tidak seorang pun seharusnya berjalan sendirian.

Ketika Tradisi Ikut Bershalawat

Salah satu pemandangan yang memberi warna pada malam itu adalah tradisi palang pintu. Kesenian khas Betawi tersebut hadir berdampingan dengan unsur keagamaan dan penampilan seni lainnya.

Perpaduan itu seolah mengingatkan bahwa agama dan kebudayaan tidak selalu harus berjalan di lorong yang terpisah. Keduanya dapat saling menguatkan, selama yang dijaga adalah nilai kebaikan dan penghormatan terhadap sesama.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Mati’in, H. Ucup R. Supena, memandang perjumpaan nilai keagamaan dan kebudayaan sebagai ruang penting untuk merawat persatuan.

“Indonesia ini adalah toleran dan bersatu bersama-sama. Suku manapun, agama manapun tetaplah satu negara, satu bangsa dan satu tanah air Indonesia,” ujarnya.

Pesan itu terasa relevan di tengah masyarakat yang begitu beragam. Di Indonesia, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk menjauh. Justru dari keberagaman itulah, bangsa ini berkali-kali belajar menemukan jalan untuk pulang kepada satu kesadaran: hidup bersama.

Menanamkan Makna kepada Generasi yang Akan Datang

Perayaan Maulid Nabi juga menjadi ruang pendidikan bagi generasi muda. Anak-anak yatim dan para santri tidak hanya diajak mengikuti doa dan dzikir, tetapi juga menikmati seni dan kebudayaan dalam suasana yang hangat.

Wakil Ketua Sumarni Padil mengapresiasi konsep yang memadukan nilai Maulid Nabi dengan kekayaan budaya Betawi dan Banten. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlangsung dari tahun ke tahun, sekaligus memberi manfaat yang nyata bagi anak-anak yatim dan para santri.

“Semoga anak-anak yatim dan santri Ponpes Al Mati’in menjadi anak yang baik, saleh dan sukses kelak,” katanya.

Pada akhirnya, mungkin itulah makna terdalam dari sebuah peringatan: bukan sekadar mengenang sesuatu yang telah berlalu, melainkan membawa nilai-nilainya untuk bekerja di masa kini.

Maulid Nabi di Pondok Pesantren Al Mati’in malam itu menjadi pengingat bahwa cinta kepada Rasulullah dapat hadir dalam banyak bahasa. Dalam doa yang lirih, dalam shalawat yang dilantunkan bersama, dalam tangan yang terulur kepada anak yatim, bahkan dalam kebudayaan yang dirawat agar tetap hidup.

Erna Santoso pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, mulai dari tim Yapena Indonesia, pengurus dan para pengajar pesantren, santri dan santriwati, tim palang pintu, penari, jawara, aparat keamanan, hingga para donatur.

Di tengah rasa syukur itu, terselip harapan sederhana: semoga setiap kebaikan yang telah dibagikan menjadi keberkahan.

Sebab barangkali, Maulid memang selalu mengajarkan satu hal yang sama dari masa ke masa bahwa mengenang Nabi berarti berusaha menghadirkan kasih sayang-Nya dalam cara kita memperlakukan sesama.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan