banner 728x250

Dari Liga Jakarta ke EPA: Saat Pemain Muda Mulai Dilirik Klub Profesional

banner 120x600
banner 468x60

☑️Laboratorium Kandang Ayam dan Misi Mencari Penyakit Pembinaan Sepakbola Jakarta

Intimate.co.id|JAKARTA – Sepakbola usia muda bukan sekadar soal menang dan kalah. Di balik pertandingan 2×35 menit, ada persoalan manajemen klub, administrasi pemain, kualitas pelatih, kepastian status pemain hingga bagaimana klub profesional mencari talenta untuk kebutuhan tim Elite Pro Academy (EPA).

banner 325x300

Persoalan-persoalan itulah yang sejak 2025 coba dibedah mBah Coco bersama pasukan “Kandang Ayam” melalui Liga Jakarta U-17.

Bagi mereka, kompetisi ini bukan sekadar turnamen. Liga Jakarta diposisikan sebagai semacam “laboratorium” untuk melihat secara langsung penyakit pembinaan sepakbola usia muda.

Gagasan tersebut mulai dijalankan pada 2025. Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur DKI Jakarta saat itu diikuti 18 klub dari Jakarta dan sekitarnya. Kompetisi dibuka Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 4 Mei 2025 di Pancoran Soccer Field (PSF). Pemprov DKI ketika itu menyebut kompetisi tersebut sebagai bagian dari pembinaan sepakbola usia dini yang berkelanjutan, terstruktur dan berjenjang.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 4 Mei 2025 di Pancoran Soccer Field (PSF).

Kompetisi musim 2025 kemudian berjalan sekitar 8,5 bulan dengan total 306 pertandingan. Bina Mutiara keluar sebagai juara.

Namun, bagi mBah Coco, trofi bukan satu-satunya hasil yang dibawa pulang.

Yang dikumpulkan justru “penyakit” pembinaan.

Dari Klub One Man Show hingga Pemain Tiba-tiba Hilang

Dari pengalaman musim pertama, panitia mencatat sedikitnya 11 persoalan yang dianggap penting untuk dibaca ulang.

Pertama, ada klub yang saat verifikasi terlihat memenuhi persyaratan, tetapi dalam perjalanan kompetisi ternyata dikelola nyaris seorang diri. Pemilik merangkap pelatih, ofisial hingga kit man.

Kedua, muncul persoalan perpindahan pemain. Ada pemain yang pindah sekolah atau keluar kota sehingga klub meminta tambahan pemain di tengah kompetisi.

Ketiga, ada klub yang datang bertanding dengan jumlah pemain sangat minim. Salah satu alasannya, pemain inti sedang mengikuti kompetisi lain seperti Piala KONI, Piala RRI, Liga TopSkor atau Piala Soeratin.

Padahal, sejak awal panitia sudah membuat regulasi mengenai keikutsertaan pemain.

Keempat, persoalan administrasi digital juga menjadi temuan. Daftar susunan pemain dan warna jersey harus dikirim melalui jalur administrasi resmi. Namun, hingga kompetisi selesai, masih ada klub yang kesulitan mengikuti prosedur tersebut.

Kelima, persoalan jersey.

Dalam proses verifikasi, klub diwajibkan memiliki sedikitnya dua warna jersey. Dalam praktiknya, panitia bahkan harus membantu membagi jersey kepada sejumlah klub karena ada tim yang ternyata hanya memiliki satu set perlengkapan pertandingan.

Keenam, ada pemain yang ditarik kembali oleh klub lain untuk persiapan Piala Soeratin. Kondisi tersebut kembali memperlihatkan persoalan status dan kepemilikan pemain.

Ketujuh, ada klub yang pada putaran kedua mendaftarkan sekitar 30 pemain baru karena seluruh pemain pada putaran pertama sudah berpindah klub.

“Matttiiiii akuuuuu, tiiiiiiii!” begitu gaya mBah Coco menggambarkan temuan tersebut.

Kedelapan, persoalan kontrak pemain dan klub. Panitia mensyaratkan adanya dokumen yang ditandatangani klub, pemain dan orang tua. Namun, menurut catatan panitia, tidak semua pihak tertib menjalankan aturan tersebut.

Akibatnya, muncul keluhan mengenai pemain muda yang berpindah klub tanpa proses administrasi yang jelas.

Kesembilan, ada pelatih yang diberhentikan tetapi pergantian tersebut tidak dilaporkan kepada panitia. Akibatnya, pelatih baru tidak langsung diperbolehkan duduk di bangku cadangan.

Kesepuluh, persoalan lisensi pelatih dan direktur teknik juga ditemukan.

Dan yang ke-11 justru menjadi contoh positif.

Bina Mutiara, juara Liga Jakarta U-17 2025, membangun pola pembinaan berbasis boarding school. Para pemain bersekolah bersama, berlatih rutin dan memiliki fasilitas lapangan.

Hasilnya, menurut pengamatan panitia, terbentuk chemistry yang kuat.

Bina Mutiara Juara Liga Jakarta U-17 2025,

Bagi “laboratorium Kandang Ayam”, model seperti inilah yang ingin dipelajari dan dikembangkan.

Musim 2026, Laboratorium Diperbesar

Memasuki musim 2026, tantangan bertambah.

Liga Jakarta tidak hanya menggelar U-17. Panitia juga menjalankan Liga Soeratin Jakarta U-15.

Masing-masing kelompok usia diikuti 16 klub. Kompetisi berjalan sejak Mei hingga Desember 2026 dengan pertandingan yang digelar pada akhir pekan di Lapangan PSF MBAU Pancoran, Jakarta Selatan.

Total pertandingan yang ditargetkan mencapai sekitar 500 laga.

Artinya, laboratorium tersebut semakin besar.

Semakin banyak pertandingan, semakin banyak pula data yang bisa dikumpulkan.

Dan salah satu hasil yang kini mulai terlihat adalah hubungan antara kompetisi usia muda lokal dengan kebutuhan klub profesional.

Ketika Liga Jakarta Mulai “Cek Ombak” ke EPA

Senin, 28 September 2026, panitia Liga Jakarta mendapat permintaan dari manajemen Persita Tangerang EPA U-18.

Mereka membutuhkan tambahan pemain di posisi striker.

Permintaan itu kemudian menjadi kesempatan bagi panitia Liga Jakarta untuk menguji apakah kompetisi lokal yang mereka bangun benar-benar mampu menjadi salah satu sumber pemain bagi kebutuhan akademi klub profesional.

Mbah Coco kemudian meminta bantuan dua pemandu bakat Liga Jakarta U-17, Maman Suryaman dan Tias Tono Taufik.

Keduanya memiliki pengalaman sebagai mantan pemain tim nasional dan peraih medali emas SEA Games.

4 striker Liga Jakarta, yang ikut ke Stadion Indomilk: Bina Mutiara, Nawasena, Satria Sanggeni, Bina Taruna.

Dari daftar top scorer sementara Liga Jakarta U-17 2026, mereka menyaring tujuh nama striker:

1. Afrel Rizki – Bina Mutiara

2. Zehmar Khedira – Nawasena

3. Junior Ale Siyanto – Bina Mutiara

4. Desya Aditya – Diklat ISA

5. Nabil Elnino – Satria Sanggeni

6. Rezer Muhamad Delmora – Bina Taruna

7. Berlian Ananda Salim – Tunas Betawi

Namun, ketika proses seleksi dilakukan, hanya empat pemain yang hadir.

Menurut informasi yang diterima panitia Liga Jakarta, tiga pemain lainnya sedang mengikuti proses seleksi di klub anggota liga Indonesia.

Situasi tersebut justru menjadi bagian dari “riset” itu sendiri.

Pemain muda mulai mendapatkan akses ke klub profesional. Di sisi lain, kompetisi lokal juga harus belajar bagaimana menjaga pemain, mengelola administrasi dan membangun jalur komunikasi dengan klub profesional.

Regulasi EPA dan Tantangan Pembinaan Klub

Permintaan dari Persita tersebut datang di tengah penguatan sistem Elite Pro Academy.

I.League pada Juni 2026 menyatakan pengembangan EPA menjadi salah satu prioritas strategis. Mulai musim 2026/27, kompetisi akademi distandarisasi menjadi dua kelompok usia, U-20 dan U-18, dengan roadmap agar klub Super League dan Championship memiliki akademi sesuai standar pada 2030.

I.League juga saat ini menyelenggarakan EPA ONE U16, U18 dan U20.

Artinya, kebutuhan terhadap pemain muda bukan lagi sekadar wacana.

Ada jalur kompetisi.

Ada kebutuhan klub.

Ada standar pembinaan.

Dan ada pemain-pemain muda yang harus dipersiapkan agar mampu masuk ke sistem tersebut.

Di sinilah Liga Jakarta melihat peluang sekaligus tantangan.

Apakah klub profesional benar-benar membangun pembinaan dari bawah secara berkelanjutan?

Atau sebagian kebutuhan pemain muda masih dipenuhi melalui pencarian dan perekrutan dari luar sistem akademi?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan melihat hasil pertandingan.

Harus dilihat dari sistemnya.

Mulai dari sekolah pemain, tempat tinggal, latihan, pelatih, direktur teknik, kompetisi, administrasi, kontrak, scouting hingga jalur promosi menuju tim profesional.

31 Pemain dari Liga Jakarta Masuk Radar Klub Profesional?

Menurut catatan internal panitia Liga Jakarta, hasil kompetisi musim 2025 ikut membuka jalan bagi sejumlah pemain menuju klub anggota Liga 1 dan Liga 2.

Panitia menyebut terdapat 31 pemain yang kemudian direkrut, dikontrak atau dipanggil untuk bergabung dengan klub-klub tersebut guna kebutuhan EPA.

Angka tersebut menjadi salah satu data yang ingin terus diuji pada musim 2026.

Sebab, bagi laboratorium Kandang Ayam, ukuran keberhasilan bukan semata-mata siapa yang menjadi juara.

Ukuran lainnya adalah berapa banyak pemain yang mendapatkan jalan menuju sepakbola profesional.

Berapa banyak pemain yang berkembang.

Berapa banyak klub yang belajar mengelola pembinaan.

Dan berapa banyak persoalan lama yang berhasil diperbaiki.

Dari Kiri :Aba Majani,Taufik Jursal Effendi dan Maman Suryaman

Maman Suryaman Ikut Mengamati

Dalam proses seleksi Persita Tangerang EPA U-18, Maman Suryaman ikut mengawasi proses seleksi.

Bukan hanya untuk melihat apakah pemain Liga Jakarta mampu lolos.

Panitia juga ingin belajar bagaimana klub profesional melakukan scouting dan seleksi pemain muda.

Dari pihak Liga Jakarta, proses tersebut turut dipantau Taufik Jursal Effendi, Isson Khairul, serta Aba Majani.

Bagi mereka, belajar tidak mengenal usia.

“Kapan saja bisa menjadi guru, dan kapan saja bisa menjadi murid. Asalkan badan dan otaknya sehat serta jujur,” menjadi salah satu filosofi yang mereka pegang.

Karena itu, Liga Jakarta tidak ingin berhenti sebagai penyelenggara pertandingan.

Mereka ingin mencatat.

Mendokumentasikan.

Membandingkan.

Kemudian menyusun temuan tersebut menjadi semacam “buku putih” persoalan pembinaan sepakbola usia muda di Jakarta dan sekitarnya.

Dari Kandang Ayam, Menunggu Jawaban

Liga Jakarta U-17 2026 masih berjalan.

Liga Soeratin Jakarta U-15 juga masih berlangsung.

Setiap Sabtu dan Minggu, laboratorium tersebut kembali membuka “kelas”.

Ada pemain yang berkembang.

Ada klub yang belajar.

Ada regulasi yang diuji.

Dan ada persoalan baru yang muncul.

Mbah Coco menyebut dirinya bersama pasukan Kandang Ayam sebagai “wartawan kaleng-kaleng”. Namun, di balik istilah bercanda tersebut, ada satu pekerjaan yang sedang mereka coba lakukan: mengumpulkan fakta lapangan sebanyak mungkin mengenai pembinaan pemain muda.

Sebab, sepakbola nasional tidak hanya membutuhkan pemain berbakat.

Ia juga membutuhkan ekosistem yang mampu menemukan, mendidik, menjaga dan mengantarkan pemain tersebut ke level profesional.

Liga Jakarta kini sedang “cek ombak”.

Pertanyaannya kemudian sederhana:

Mampukah laboratorium Kandang Ayam menjadi salah satu tempat yang dipilih untuk mencari, menguji dan mengembangkan talenta muda Jakarta?

Jawabannya tidak cukup dengan slogan.

Lapangan yang akan membuktikannya.[]Foto : M.AminChandra,Prass,IssonChaerul

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan