Intimate.co.id|JAKARTA – Rumah yang dahulu menjadi tempat berkumpul para seniman lintas generasi kini kembali membuka pintunya untuk masyarakat. Rumah peninggalan maestro seni Bing Slamet di Jalan Arimbi No. 7, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, resmi menjadi Museum Bing Slamet.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon meresmikan museum tersebut bertepatan dengan Hari Komedi Nasional sekaligus hari kelahiran Bing Slamet pada 27 September 1927. Momentum itu menjadi penanda penting untuk mengenang perjalanan panjang Bing Slamet sebagai musisi, pelawak, aktor, sekaligus sosok yang turut mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia.
Fadli Zon mengatakan rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal. Pada masanya, kediaman Bing Slamet menjadi ruang perjumpaan para seniman dan budayawan untuk berdialog, berdiskusi, serta melahirkan berbagai gagasan kebudayaan.
“Rumah ini adalah tempat perjumpaan. Di rumah ini saya mendengar juga karena saya pernah menulis buku tentang Idris Sardi, dan juga saya mendengar cerita-cerita dari para seniman budayawan adalah tempat pertemuan, perjumpaan, dialog, diskusi dari para seniman budayawan di zaman itu khususnya di tahun-tahun 50-an, 60-an, dan 70-an,” ujar Fadli.
Karena itu, ia berharap Museum Bing Slamet tidak berhenti sebagai ruang untuk mengenang masa lalu. Museum tersebut diharapkan tumbuh menjadi kantong budaya atau enklaf kebudayaan di tengah masyarakat Johar Baru.
“Yang paling penting masyarakat yang ada di sini mendukung supaya museum ini menjadi salah satu pusat budaya dan juga menjadi tempat untuk belajar, untuk mengapresiasi, mengenang, dan juga memberikan inspirasi agar nanti lahir seniman dan budayawan seperti Bing Slamet di masa mendatang,” katanya.
Museum Bing Slamet dibangun Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Sejarah dan Permuseuman dengan memanfaatkan rumah peninggalan sang maestro. Arsitektur dan sejumlah ruang asli dipertahankan melalui rekonstruksi ringan untuk menjaga karakter serta nilai historis bangunan.
Direktur Jenderal Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Restu Gunawan mengatakan museum tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan museum sebagai ruang publik yang relevan dan dekat dengan masyarakat.
“Kementerian Kebudayaan pada tahun 2026 melakukan revitalisasi terhadap sekitar 200 museum dan cagar budaya secara bertahap. Museum Bing Slamet menjadi salah satu museum yang ditata dan diselesaikan pada tahun ini setelah sebelumnya dimulai pembangunannya saat penetapan Hari Komedi Nasional pada tahun 2025,” kata Restu.
Bagi keluarga, perubahan rumah tersebut menjadi museum menghadirkan kembali suasana yang pernah hidup pada era kejayaan Bing Slamet.
Adi Bing Slamet, mewakili keluarga, mengaku terharu atas inisiatif Kementerian Kebudayaan. Menurutnya, rumah tersebut dahulu merupakan markas kreatif sekaligus tempat berkumpulnya para maestro seni.
“Mengubah kediaman ini menjadi museum, kami merasakan kehangatan dan semangat itu dihidupkan kembali. Rumah ini dibuka kembali untuk umum, bukan hanya sebagai tempat mengenang Bing Slamet, tetapi sebagai tempat merayakan sejarah kebersamaan para insan seniman Indonesia,” ujar Adi.
Delapan Ruang, Satu Perjalanan Sang Maestro
Museum Bing Slamet menghadirkan delapan area yang membawa pengunjung menelusuri berbagai fase kehidupan sang maestro. Narasinya mencakup masa kecil, musik, lawak, film, keluarga, jejaring seniman, perjuangan kemerdekaan, hingga ruang apresiasi masyarakat.
Berbagai benda peninggalan Bing Slamet turut dipamerkan, mulai dari gitar, piringan hitam, piagam penghargaan, foto keluarga, surat pribadi, pakaian, hingga memorabilia lainnya.
Sejumlah ruang autentik rumah juga dipertahankan sebagai bagian dari cerita museum. Pengunjung tidak hanya melihat benda koleksi, tetapi juga dapat merasakan suasana rumah yang pernah menjadi saksi pertemuan para seniman pada masa lalu.
Untuk menjangkau generasi muda, museum memadukan koleksi sejarah dengan teknologi interaktif. Ada radio lama, headphone bergaya vintage, AI photo booth, fasilitas dubbing suara, hingga peta digital Jakarta tempo dulu.
Museum ini juga memiliki ruang hiburan dan apresiasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seni dan budaya. Dengan konsep tersebut, Museum Bing Slamet diharapkan tidak menjadi ruang yang hanya menyimpan masa lalu, tetapi menjadi tempat kebudayaan yang terus bergerak.
Peresmian turut dihadiri Anggota DPD RI Alfiansyah Bustami (Komeng), Wali Kota Jakarta Pusat Arifin, Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, serta sejumlah seniman seperti Jarwo Kwat, Toto Muryadi (Tarzan Srimulat), dan Anwar Fuadi.
Kini, rumah Bing Slamet kembali menjadi ruang perjumpaan. Bedanya, pintunya terbuka bagi publik agar jejak seorang maestro tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus menjadi sumber pengetahuan, apresiasi, dan inspirasi bagi generasi berikutnya.[]Foto : Istimewa.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id.


















