Intimate.co.id|JAKARTA — Mimpi Indonesia tampil di Piala Dunia 2030 atau 2034 tidak cukup hanya mengandalkan pencarian pemain berkualitas, termasuk melalui naturalisasi. Di balik tim nasional yang kompetitif, dibutuhkan sistem pembinaan pemain muda yang bekerja secara konsisten dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Taufik Jursal Effendi, CEO dan Founder TJE Football, mantan CEO Persija Barat FC, sekaligus pendiri Asosiasi Sekolah Sepak Bola Indonesia (ASSBI).
Lebih dari tiga dekade berkecimpung dalam pembinaan sepak bola usia dini membuat Taufik melihat persoalan sepak bola Indonesia tidak semata-mata terletak pada kualitas pemain. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana sistem pembinaan disiapkan untuk menghasilkan pemain secara berkesinambungan.
“Naturalisasi pemain tak selamanya negatif. Namun PSSI juga jangan sekali-sekali mengabaikan pembinaan pemain dalam negeri, khususnya pemain usia dini,” ujar Taufik di sela-sela Kompetisi Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026 di Lapangan PSF Pancoran, Sabtu (12/9/2026).
Menurut Taufik, jika Indonesia serius membidik Piala Dunia 2030, pekerjaan tersebut harus dimulai sekarang. Pemain yang dibina pada 2025-2026 berpotensi memasuki usia 21-24 tahun ketika periode Piala Dunia 2030 tiba.
Usia tersebut merupakan fase penting bagi pemain untuk mencapai kematangan dalam karier sepak bola.
Usulkan 10-15 Laboratorium Sepak Bola
Taufik mengusulkan pembangunan sedikitnya 10-15 laboratorium sepak bola muda di berbagai wilayah Indonesia.
Jakarta, Makassar, Medan, dan Surabaya, menurut dia, dapat menjadi sejumlah wilayah awal untuk mengembangkan model tersebut.
Laboratorium yang dimaksud bukan sekadar lapangan latihan. Tempat tersebut harus menjadi pusat pengembangan sistem pembinaan yang mengintegrasikan kompetisi, pemantauan pemain, sport science, teknologi analisis, hingga pembentukan karakter atlet.
“Bagaimana mempersiapkan pemain muda untuk 2030 sehingga kita tidak selalu memikirkan bagaimana mencari pemain naturalisasi,” kata Taufik.
Ia menilai kompetisi usia muda dapat menjadi salah satu fondasi laboratorium tersebut.
Kompetisi tidak seharusnya berhenti pada pertandingan dan perebutan gelar juara. Setiap pertandingan semestinya menjadi bagian dari proses pencarian, pemantauan, sekaligus pengembangan pemain.
Kompetisi Jangan Sekadar Mengejar Juara
Jakarta, kata Taufik, memiliki modal awal karena kompetisi usia muda sudah cukup banyak digelar.
Pengalaman Taufik sendiri dalam pembinaan usia dini telah berlangsung sejak 2000-an. Ia pernah terlibat dalam berbagai kompetisi grassroot, seperti Ligana Milo U-12, Ligana Campina, Japan League, Extra Joss Championship U-16, hingga Ayo Cetak Goal yang menjadi bagian dari proses seleksi pemain nasional.
Pengalaman tersebut kemudian berlanjut melalui ASSBI, pendampingan tim usia muda dalam AFC Festival dan Gothia Cup di Swedia, keterlibatan bersama Persija Barat FC, hingga pengembangan akademi usia U-5 sampai U-20.
Pada 2025, Taufik kembali mendorong kompetisi usia muda melalui Liga Jakarta U-17 dan Liga U-13 Piala Gubernur Banten.
Memasuki 2026, gagasan tersebut dikembangkan melalui TJE Football Consultant yang diarahkan untuk mengintegrasikan pengelolaan ekosistem sepak bola usia dini dengan dukungan teknologi dan kecerdasan buatan.
“Yang kita perlukan adalah kompetisi-kompetisi,” ujarnya.
Menurut Taufik, dari kompetisi itulah perkembangan pemain dapat diukur secara nyata. Pemain bisa dipantau secara berkala berdasarkan performa, perkembangan fisik, teknik, maupun aspek lainnya.
Sport Science dan Teknologi Harus Masuk Pembinaan
Pembenahan sepak bola usia muda juga tidak bisa lagi mengabaikan sport science dan teknologi analisis.
Dalam sepak bola modern, pengamatan pelatih tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi.
Data mengenai performa, kondisi fisik, beban latihan, hingga perkembangan teknik dapat membantu pelatih dan pengelola akademi membuat keputusan yang lebih terukur.
Teknologi memang tidak menjamin seorang pemain pasti menjadi bintang. Namun, menurut Taufik, penggunaan sport science setidaknya memberikan masukan yang lebih lengkap dalam proses pembinaan.
“Walaupun itu tidak menjamin 100 persen, paling tidak kita bisa mendapatkan masukan yang baik,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, pencarian bakat tidak hanya bergantung pada performa seorang pemain dalam satu pertandingan. Perkembangan pemain dapat dipantau dalam jangka panjang.
Perlu Badan Khusus Pembinaan Usia Muda
Taufik juga mengusulkan adanya badan khusus di lingkungan PSSI yang bertanggung jawab menangani pembinaan pemain muda.
Menurut dia, badan tersebut diperlukan agar program pembinaan tidak mudah berubah akibat pergantian kepengurusan maupun perubahan agenda kompetisi.
“Harus ada satu badan yang dipersiapkan fokus bicara tentang pengembangan sepak bola usia muda tiga sampai lima tahun ke depan,” ujar Taufik.
Ukuran keberhasilan bukan sekadar berapa banyak turnamen yang digelar, melainkan berapa banyak pemain yang mengalami peningkatan kualitas dan mampu naik ke jenjang kompetisi yang lebih tinggi.
Asprov Harus Menjadi Motor di Daerah
Taufik juga menyoroti peran Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI.
Menurut dia, Asprov semestinya menjadi salah satu motor utama pembinaan sepak bola usia muda di daerah. Program kompetisi harus berjalan berkelanjutan dan terhubung dengan sekolah sepak bola serta akademi.
Jalur pemain dari tingkat lokal menuju regional dan nasional juga harus dibuat lebih jelas.
Karena itu, kesinambungan kepengurusan dan program di daerah menjadi penting agar pembinaan tidak terputus.
Pada akhirnya, Taufik mendorong sepak bola Indonesia bergerak dari pola reaktif menuju sistem pembinaan yang terencana.
Tim nasional memang harus dipersiapkan menghadapi Piala Asia, Piala Dunia, dan berbagai turnamen lainnya. Namun, di belakang tim nasional harus terdapat sistem yang setiap tahun mampu melahirkan pemain-pemain baru.
“Yang diperlukan adalah bagaimana PSSI merestrukturisasi ke depan. Di PSSI harus ada satu bagian yang memang fokus, dan output-nya adalah setiap tahun menghasilkan pemain-pemain muda,” kata Taufik.
Bagi Taufik, mimpi Indonesia tampil di Piala Dunia tidak dimulai ketika tiket putaran final sudah berada di tangan.
Mimpi itu dimulai hari ini dari lapangan tempat anak-anak belajar menendang bola, dari kompetisi usia dini, dan dari keberanian membangun sistem yang hasilnya mungkin baru terlihat beberapa tahun kemudian.|Foto : Prass.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















