banner 728x250

Bukan Liga 1, Pemain Asing Kini Serbu Liga Soeratin Jakarta U-15 Piala Gubernur 2026

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA – Pemain asing biasanya menjadi pemandangan lumrah di Liga 1 atau Liga 2. Tapi kali ini ceritanya berbeda. Empat pemain asing justru ikut meramaikan kompetisi grassroot Liga Soeratin Jakarta U-15 2026.

Mereka berasal dari empat negara berbeda: Denmark, Sudan, Inggris, dan Jepang.

banner 325x300

Keempat pemain tersebut telah menjalani proses verifikasi dan screening untuk mengikuti kompetisi yang digelar “Kandang Ayam” Productions di Lapangan PSF MBAU Pancoran, Jakarta Selatan.

Fenomena ini menjadi sinyal menarik. Kompetisi usia muda yang digelar secara rutin ternyata bukan hanya dibutuhkan pemain lokal, tetapi juga diminati anak-anak keluarga asing yang tinggal dan bersekolah di Jakarta.

Salah satunya adalah Ilias Isak.

Pemain 14 tahun berdarah Maroko dan berkewarganegaraan Denmark tersebut memperkuat Tunas Indonesia dengan nomor punggung 77.

Ilias berposisi sebagai gelandang atau playmaker. Dia sudah tampil sejak putaran pertama dan disebut selalu menjadi starter.

Meski belum mencetak gol, kemampuan Ilias membuatnya masuk radar pemandu bakat “Kandang Ayam”, Berti Tutuarima dan Patar Tambunan.

Namanya bahkan masuk daftar 50 pemain terbaik pilihan kedua pemandu bakat tersebut.

Tiga Pemain Baru di PSF

Tiga pemain asing lainnya masuk ke PSF Academy.

Pertama adalah Ahmed Muhab Muhamad, warga negara Sudan. Pemain kelahiran 18 Maret 2011 itu akan memperkuat PSF Academy U-16 dengan nomor punggung 27.

Ahmed memiliki tinggi 175 cm dan bermain sebagai gelandang serang. Saat ini dia bersekolah di Sudanese Africa Asian School, Tebet, Jakarta Selatan,Idolanya? Neymar.

Berikutnya ada Nathanial Alexander Akbar Dykes. Pemain berkewarganegaraan Inggris tersebut lahir di London pada 10 Agustus 2011.

Nathanial memiliki tinggi 170 cm dan berposisi sebagai gelandang. Dia akan menggunakan nomor punggung 2.

Pada Minggu (13/9/2026), Nathanial datang ke Lapangan PSF Pancoran bersama ayahnya, Peter Dykes.

Peter mengaku langsung tertarik ketika mengetahui ada kompetisi usia muda yang berlangsung rutin di Jakarta.

“Di Indonesia, tidak ada kompetisi, tapi saat ada informasi di PSF Pancoran bahwa ada wadah kompetisi, langsung bergegas anaknya didaftarkan,” kata Peter.

Nathanial merupakan siswa kelas 9 HighScope Cilandak. Dia juga mengikuti ekstrakurikuler sepakbola di sekolah.

Pemain keempat adalah Shinichi Fujita.

Pemain kelahiran Jepang, 10 April 2013, itu akan tampil pada putaran kedua Liga Soeratin Jakarta U-15.

Fujita merupakan siswa Jakarta Japan School. Tubuhnya memang mungil, tetapi semangat bermain sepakbolanya tidak kalah dengan pemain lain.

Sang ayah, Takao Fujita, mengatakan kultur sepakbola di Jepang sudah sangat kuat sejak usia anak-anak.

“Di Jepang semua anak-anak sudah bermain sepakbola,” ujar Takao.

Bukan Turnamen Seminggu

Masuknya pemain asing ke kompetisi ini tidak bisa dilepaskan dari konsep yang dibangun “Kandang Ayam” Productions.

Sejak awal, mereka tidak ingin membuat turnamen yang hanya berlangsung sebentar. Kompetisi dibuat panjang agar pemain benar-benar mendapatkan jam terbang.

Pada 2025, Liga Jakarta U-17 digelar selama sekitar delapan setengah bulan, April-November. Sebanyak 306 pertandingan dimainkan dengan melibatkan 18 klub amatir Jakarta dan sekitarnya.

Musim ini konsep tersebut diperluas.

Liga Jakarta U-17 dan Liga Soeratin Jakarta U-15 masing-masing diikuti 16 klub. Total sekitar 500 pertandingan dijadwalkan berlangsung sepanjang musim 2026 hingga Desember.

Ini yang membedakan kompetisi tersebut dari turnamen usia muda yang umumnya hanya berlangsung beberapa hari atau pekan.

Anak-anak punya waktu untuk berkembang. Mereka bisa merasakan kemenangan, kekalahan, tekanan, persaingan, hingga belajar bangkit dari hasil buruk.

‘Jangan Main Handphone Terus’

Direktur Teknik PSF Academy dan Batavia FC, Ibnu Graham, melihat kebutuhan kompetisi usia muda memang sangat besar.

Mantan gelandang Persebaya Surabaya itu mengatakan PSF juga mulai dilirik keluarga asing karena lokasinya strategis dan mudah dijangkau dari sejumlah kawasan tempat tinggal mereka.

Namun, menurut Ibnu, faktor terpenting tetap kompetisi.

“Kompetisi grassroot harus digalakkan sebanyak mungkin karena anak-anak butuh jam terbang, mengasah skill dan mental. Mereka butuh kesenangan bertemu teman-teman baru, bukan main handphone,” kata Ibnu.

Kehadiran empat pemain asing akhirnya memberi cerita lain bagi Liga Soeratin Jakarta U-15.

Di level profesional, pemain asing datang untuk memperkuat klub dan mengejar prestasi.

Di level grassroot, kedatangan mereka membawa pesan yang berbeda: anak-anak dari berbagai negara sama-sama membutuhkan lapangan, pertandingan, teman, dan ruang untuk berkembang.

Jakarta pun perlahan menjadi rumah bagi talenta muda lintas negara.[]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan