Intimate.co.id|JAKARTA — Di sepak bola usia muda, kemenangan kadang datang bukan melalui permainan yang sempurna. Ia bisa lahir dari ketenangan, keberanian bertahan, bahkan dari sebuah keberuntungan kecil yang berpihak pada mereka yang terus berjuang.
Itulah yang terjadi di Lapangan Sintetis 2, Pancoran Soccer Field, Jakarta Selatan, Sabtu (8/8/2026). Bina Taruna menundukkan Tunas Betawi 3-2 dalam lanjutan Grup Merah Liga Jakarta U-17. Sebuah pertandingan yang sempat berpindah tangan berkali-kali, sebelum akhirnya Bina Taruna pulang membawa tiga poin.
Pertandingan baru berjalan empat menit ketika Raezer Muhammad Delmora membawa Bina Taruna unggul. Gol cepat itu semestinya menjadi pijakan untuk mengendalikan permainan. Namun, sepak bola usia muda kerap memiliki cerita sendiri.
Tunas Betawi, yang hingga pekan keempat belum tersentuh kekalahan, bangkit. Naufal Bhakti Satyatama membalas pada menit ke-18, lalu kembali mencetak gol pada menit ke-37. Tunas Betawi pun menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1.
Bina Taruna tidak menyerah. Setelah turun minum, permainan kembali menemukan arahnya. Kapten Bina Taruna, Yefta Depri Zakharia, menyamakan kedudukan pada menit ke-60.
Sepuluh menit terakhir kemudian menjadi panggung bagi drama yang tak direncanakan.
Pada menit ke-68, bola justru masuk ke gawang Tunas Betawi melalui kaki pemainnya sendiri, Evan Fadillah. Gol bunuh diri itu mengubah kedudukan menjadi 3-2 untuk Bina Taruna sekaligus menjadi penentu kemenangan.
Bagi Bina Taruna, hasil tersebut memperpanjang catatan belum terkalahkan. Mereka kini mengoleksi sembilan poin dari dua kemenangan dan tiga hasil imbang, menempati posisi ketiga Grup Merah. Tunas Betawi tertahan dengan 10 poin, sementara Bina Mutiara masih nyaman di puncak dengan 15 poin.
Namun, bagi Elga Rinaldi, pelatih Bina Taruna, angka di papan skor bukan satu-satunya hal yang patut dirayakan.
Ia melihat pertandingan tersebut sebagai pelajaran tentang pengendalian diri. Keunggulan cepat pada menit keempat justru membuat permainan anak asuhnya kehilangan kendali setelah Tunas Betawi menyamakan kedudukan.
“Kontrol emosi yang kurang membuat karakter permainan kami hilang,” ujar Elga.
Di babak kedua, menurut dia, para pemain mulai mampu mengelola emosi dengan lebih baik. Dari sana, permainan perlahan kembali menemukan bentuknya.
Elga pun tidak menutup mata bahwa kemenangan tersebut datang dengan sedikit keberuntungan. Namun, dalam sepak bola, keberuntungan sering kali hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan. Yang lebih penting adalah bagaimana pemain muda belajar membaca permainan, menerima kesalahan, lalu bangkit dari keadaan.
Sementara itu, Jeffry Muhammad Maseri, pelatih Tunas Betawi, harus menerima kenyataan pahit bahwa keunggulan yang sudah berada dalam genggaman terlepas pada fase akhir pertandingan. Dua gol Naufal Bhakti Satyatama seakan kehilangan makna setelah Tunas Betawi kebobolan pada 10 menit terakhir.
Meski kecewa, Jeffry tetap mengapresiasi perjuangan anak-anak asuhnya. Mereka bermain di bawah terik matahari, dengan pertandingan baru dimulai sekitar pukul 12.10 WIB.
Di level U-17, mungkin kemenangan memang penting. Tetapi ada sesuatu yang lebih panjang daripada tiga poin: proses menjadi pemain yang mampu mengendalikan emosi, menghormati lawan, bertahan ketika keadaan berubah, dan belajar dari kekalahan.
Sebab, liga usia muda bukan hanya tempat mencari siapa yang paling banyak menang.
Ia adalah ruang tempat anak-anak belajar menjadi dewasa satu pertandingan, satu kesalahan, dan satu keberanian untuk bangkit pada setiap pekannya.|Foto : Prass.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















