Intimate.co.id|JAKARTA — Berteman di hari tua, berkumpul bersama para mantan legenda sepak bola Indonesia, barangkali menjadi salah satu bentuk silaturahmi paling membahagiakan.
Begitulah suasana yang dirasakan mBah Coco, jurnalis “abal-abal” yang sejak awal 1980-an terbiasa berada di sekitar pemusatan latihan nasional tim sepak bola Indonesia. Puluhan tahun berlalu, tetapi hubungan pertemanan dengan para pemain yang pernah mengharumkan nama Merah Putih itu ternyata tak ikut menua.
Sabtu, 5 September 2026, mBah Coco tiba-tiba mendapat “kunjungan” istimewa. Mantan kiper nasional Indonesia, Yudo Hadiyanto, datang ke Lapangan PSF–MBAU Pancoran, Jakarta Selatan. Alasannya sederhana: rindu menyaksikan sepak bola anak-anak.
Bukan hanya Yudo. Ada pula Rully Nere dan Toyo Haryono. Mereka datang, bertemu, bercengkerama, sekaligus bernostalgia di tengah hiruk-pikuk kompetisi sepak bola usia muda.
Sejak 2025, mBah Coco memang menggelar wadah kompetisi youth development atau sepak bola grassroots di Lapangan PSF–MBAU Pancoran. Namanya Liga Jakarta U-17.
Tahun 2026, kompetisi itu berkembang. Selain Liga Jakarta U-17, lahir pula Liga Soeratin Jakarta U-15. Kedua kelompok usia tersebut masing-masing diikuti 16 klub dan menggunakan sistem kompetisi home and away selama delapan bulan.
Bagi Rully Nere, format kompetisi semacam ini merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.
«“Sejak 30 tahun lalu, baru ada wadah kompetisi dengan sistem home and away di Indonesia, ada Liga Jakarta U-17 dan U-15,” tutur Rully Nere, salah satu punggawa tim nasional Indonesia dan peraih medali emas SEA Games 1978.»
Rully bahkan berharap PSSI memberikan perhatian terhadap kompetisi grassroots yang secara konsisten memberi ruang bermain kepada anak-anak.
“Harusnya, PSSI menyapa wadah kompetisi anak-anak muda. Bukan malahan mlengos dan tidak mau mengakui wadah kompetisi yang bener, hanya gara-gara penyelenggaranya suka mengkritik PSSI,” tambah Yudo Hadiyanto, mantan kiper tim nasional Indonesia peraih medali perunggu Asian Games 1962.
Bagi mBah Coco, kompetisi bukan sekadar urusan pertandingan, skor, menang, atau kalah. Ia mencoba menjadikannya semacam laboratorium sepak bola.
Saat menggelar Liga Jakarta U-15 dan U-17, mBah Coco merangkul empat mantan pemain nasional Indonesia untuk menjadi tim pemandu bakat. Mereka bertugas memantau dan menyeleksi pemain dari seluruh klub peserta, untuk kemudian menjadi bagian dari kebutuhan klub-klub anggota Liga Indonesia 1 dan 2 yang dipersiapkan menuju Elite Pro Academy (EPA).
Untuk kelompok U-17, pemantauan dilakukan oleh Tias Tano Taufik, peraih medali emas SEA Games 1987, dan Maman Suryaman, peraih emas SEA Games 1991.
Sementara kelompok U-15 dipantau Patar Tambunan, peraih emas SEA Games 1987, dan Berti Tutuarima, peraih medali perak SEA Games 1981.
Adapun Toyo Haryono memiliki alasan lain untuk lebih sering berada di lapangan. Ia datang bukan hanya sebagai legenda, tetapi juga sebagai pembina klub Toyo Haryono FC, yang mengikuti Liga Soeratin Jakarta U-15.
Sabtu siang itu, pertemuan para mantan pemain nasional tersebut sebenarnya berlangsung tanpa rencana besar. Mereka hadir di tempat yang sama, bertemu, lalu saling melepas rindu.
Sepak bola, yang dahulu mempertemukan mereka di lapangan hijau sebagai pejuang Merah Putih, kini mempertemukan mereka kembali dalam suasana yang jauh lebih sederhana: menyaksikan anak-anak bermain.
Bagi mBah Coco, kehadiran para legenda setiap Sabtu dan Minggu selama delapan bulan kompetisi berlangsung bukan sekadar kunjungan.
Itulah “rejeki” di hari tua
Para legenda itu datang bergantian, menjadi bagian dari proses mengamati, menilai, dan meriset “laboratorium” sepak bola yang sedang dibangun mBah Coco.
Sebab, dari lapangan-lapangan kecil seperti inilah, menurutnya, berbagai persoalan sepak bola Indonesia semestinya bisa dibaca sejak dini.
Mana anak yang punya bakat. Mana yang membutuhkan pembinaan. Mana yang salah dalam teknik dasar. Mana yang bermasalah dalam mental bertanding. Dan, yang tak kalah penting, penyakit apa yang sebenarnya sedang menjangkiti sistem sepak bola Indonesia.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih besar: mengapa sepak bola Indonesia terus menghasilkan masalah yang sama, jika laboratorium untuk mendeteksinya sejak usia muda justru belum banyak mendapatkan perhatian?
Mungkin, jawabannya ada di lapangan.
Dan mungkin pula, para legenda yang hari ini datang bukan sekadar sedang kangen sepak bola.
Mereka sedang ikut mencari masa depan sepak bola Indonesia dari kaki-kaki kecil yang berlari di Lapangan PSF Pancoran.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















