Intimate.co.id|JAKARTA-|Di sepak bola usia muda, kemenangan tidak selalu berhenti pada papan skor. Ada kemenangan lain yang barangkali baru terlihat beberapa tahun kemudian: ketika seorang pemain yang hari ini berlari di lapangan kecil, kelak mengenakan seragam klub profesional.
Di titik itulah keseriusan talent scouting Liga Jakarta U-17 musim 2026 menemukan maknanya. Memasuki pekan kelima kompetisi, duet Maman Suryaman dan Tias Tano Taufik mulai menyusun kepingan-kepingan talenta yang mereka nilai layak mendapatkan kesempatan lebih jauh.
Hingga pekan kelima, sebanyak 29 pemain telah masuk dalam radar pemantauan. Namun, daftar tersebut belum menjadi harga mati.
“Saya dan Tias sudah memilih sampai 29 pemain. Nantinya bisa berkurang atau bertambah,” kata Maman Suryaman, mantan gelandang tim nasional Indonesia yang turut membawa pulang medali emas SEA Games 1991.
Bagi Maman, angka 29 bukan sekadar daftar nama. Di baliknya ada proses panjang untuk melihat pemain dari berbagai posisi, membaca karakter permainan, serta menemukan potensi yang mungkin belum sepenuhnya terlihat dalam satu pertandingan.
Liga, dalam pengertian itu, menjadi ruang pembuktian yang lebih penting daripada sekadar turnamen.
Dari kompetisi menuju kesempatan
Maman melihat Liga Jakarta U-17 sebagai salah satu pintu yang dapat menghubungkan pemain muda dengan klub-klub anggota Liga 1 dan Liga 2 Indonesia. Para pemain terbaik nantinya berpeluang dipantau untuk kebutuhan Elite Pro Academy (EPA) dan jenjang pembinaan usia muda klub profesional.
Pengalaman musim 2025 menjadi pijakan penting. Dari sekitar 50 pemain yang terpilih melalui proses pemantauan berbagai posisi, sebanyak 23 pemain kemudian terjaring dan dibutuhkan klub-klub anggota Liga 1 dan Liga 2, antara lain Barito Putera, Semen Padang, dan PSMS.
Catatan itu menunjukkan bahwa kompetisi usia muda tidak semestinya berhenti sebagai panggung sesaat. Ia dapat menjadi jembatan.
“Saya berharap, musim 2026 ini semakin banyak yang dipantau dan direkrut klub-klub anggota Liga 1 dan Liga 2 Indonesia untuk EPA,” ujar Maman.
Harapan itu menjadi semakin relevan ketika pembinaan pemain muda membutuhkan kesinambungan. Pada musim 2026-2027, klub peserta BRI Super League diwajibkan memiliki pengembangan usia muda untuk kelompok U-16, U-18, dan U-20. Sementara klub peserta Liga 2 melalui Pegadaian Championship memiliki wadah EPA Championship U-19.
Dengan struktur seperti itu, keberadaan kompetisi akar rumput dapat menjadi bagian dari rantai pembinaan yang lebih panjang.
Perang Bintang sebagai ruang pertemuan
Tias Tano Taufik pun melihat proses pemantauan hingga pekan kelima belum selesai. Jumlah pemain masih mungkin bertambah, tetapi ia memperkirakan daftar tersebut tidak akan melewati 40 pemain.
Gagasannya kemudian mengarah pada sebuah panggung bernama “Perang Bintang”. Para pemain terbaik akan dipertemukan dan dibagi ke dalam dua tim, Merah dan Putih.
Namun, yang lebih penting dari pertandingan itu bukanlah siapa yang menang. Perang Bintang diharapkan menjadi ruang perjumpaan antara talenta muda dan mata-mata klub profesional.
“Pada saat kita pertemukan, kita bisa mengundang beberapa kontestan Liga 2 dan EPA Liga 1 untuk melihat anak-anak terbaik dari hasil sampai pekan kelima ini,” ujar Tias.
Para pemain juga direncanakan menjalani sedikitnya dua kali sesi latihan bersama sebelum pertandingan. Dengan begitu, talent scouting tidak berhenti pada pengamatan dari pinggir lapangan. Para pemain mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan ketika ditempatkan bersama pemain-pemain terbaik dari klub lain.
Di sanalah karakter, kemampuan beradaptasi, kecerdasan bermain, dan kematangan mengambil keputusan dapat terlihat lebih utuh.
Bukan sekadar mencari yang paling menonjol
Proses serupa juga berlangsung di Liga Soeratin Jakarta U-15. Tim talent scouting yang digawangi Berti Tutuarima dan Patar Tambunan terus memantau pemain dari seluruh posisi dan klub peserta.
Patar melihat peluang para pemain U-15 dan U-17 yang masuk radar talent scouting untuk mengikuti proses seleksi yang dipersiapkan bagi jalur EPA dan pengembangan usia muda klub profesional.
Pemain U-17 berpeluang diarahkan menuju kebutuhan kelompok U-16 dan U-18 klub peserta BRI Super League musim 2026-2027. Sementara pemain dari kelompok U-15 dan U-17 juga dapat menjadi bagian dari proses menuju EPA Championship U-19 bagi klub anggota Liga 2.
“Kompetisi harus menjadi ruang untuk membuka peluang,” kurang lebih demikian semangat yang hendak dibangun dari proses tersebut.
Sebab, talenta sepak bola tidak selalu hadir dalam bentuk yang langsung mencolok. Ada pemain yang baru berkembang setelah mendapatkan lingkungan yang tepat. Ada pula yang membutuhkan kompetisi lebih keras agar potensinya muncul.
Karena itu, Maman percaya sistem kompetisi bukan sekadar turnamen akan memberikan kesempatan lebih luas kepada pemain Liga Jakarta U-17 maupun Liga Soeratin Jakarta U-15 untuk dilirik klub profesional.
29 nama, 29 kemungkinan
Untuk sementara, 29 pemain Liga Jakarta U-17 yang masuk dalam nominasi talent scouting adalah:
Kiper
Nur Fadli Bagoes Budiano (Batavia FC), Azmi Surya Alfarizi (Farama), Ibrahim Zidan (PSF), Andra Azha Ghaisan (Pemuda Jaya).
Bek kanan
Bagus Silva (Bina Taruna), Ibrahim Hefiludin (Putra Sejati).
Bek tengah
Al Khalifi Rasya (Batavia FC), Krisna Biantoro (RMD–Bina Mutiara), Rizik Tafarel (Bintang Ragunan), Zhildan Kerta Yasa (Mavericks).
Bek kiri
Muhamad Lutfih (Mavericks), Ridho Rohana (RMD), Rafka Adila Nur Faiz (BTC).
Gelandang bertahan
Abi Naya Adila (Batavia FC), Teftadevri Zakaria (Bina Taruna).
Gelandang serang
Arfrel Rezky Saputra (RMD–Bina Mutiara), Azzami Sayuqi (Diklat ISA), Ibnu Fahri Alhafizh (BTC), Achmad Hegy (Pemuda Jaya).
Sayap kanan
Rio Ferdinand (Diklat ISA), Nabil El Nino (Satria Sanggeni), Berlian Ananda Salim (Tunas Betawi).
Sayap kiri
Zehmar Khedira Aguslemi (Nawasena), Alvin Moh Putranto (Toyo Haryono), Mohamad Tomy (Putra Nusantara).
Penyerang
M. Habil Gaza Maulidyan (Batavia FC), David Dwi Prasetyo (Bina Mutiara), Muamar Fathir Arasya (Farama), Deshta Adhitya (Diklat ISA).
Dua puluh sembilan nama itu belum tentu menjadi akhir perjalanan. Bisa bertambah. Bisa pula berkurang. Tetapi setiap nama menyimpan kemungkinan yang sama: suatu hari melangkah dari lapangan kompetisi usia muda menuju panggung sepak bola profesional.
Pada akhirnya, sepak bola usia muda bukan tentang seberapa cepat seorang pemain ditemukan. Yang lebih penting adalah apakah setelah ditemukan, ia mendapatkan jalan untuk tumbuh.
Dari Liga Jakarta U-17 dan Liga Soeratin U-15, jalan itu sedang coba dibangun pelan, kompetitif, dan dengan harapan bahwa talenta-talenta yang hari ini belum banyak dikenal, kelak menjadi bagian dari masa depan sepak bola Indonesia.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















