Intimate.co.id|JAKARTA— Papan skor boleh mencatat angka. Namun, di balik angka 4-0 dan 2-1 yang tercipta pada pekan ketujuh Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026, Minggu (6/9/2026), tersimpan cerita tentang anak-anak yang sedang belajar menjadi pesepak bola.
Di Lapangan 2 Sintetis PSF Pancoran, Jakarta Selatan, Farama FC tampil meyakinkan dengan menundukkan ABC Wira Yudha, 4-0. Laga yang berlangsung 2×30 menit itu dipimpin wasit Suryadi, dengan asisten wasit Iswadi dan Iwan.
Farama tak membutuhkan waktu lama untuk membuka jalan kemenangan. Milan Azizi mencetak gol pada menit ke-8. Arshavin Azka Kurniawan kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-29.
Selepas jeda, Farama semakin leluasa. Rafa Ardiansyah Pratama menambah gol pada menit ke-48, disusul Marcello Zenobius Padha pada menit ke-57.
Dua kartu kuning turut mewarnai laga. Pemain Farama, Ikbal Nur Fadilla, mendapat kartu pada menit ke-23, sedangkan pemain ABC Wira Yudha, Arya Pradana Ali, menerima kartu kuning pada menit ke-57.
Bagi pelatih Farama FC, Tias Tono Taufik, kemenangan bukan satu-satunya ukuran. Ia justru melihat bagaimana pemain menjalankan instruksi dan berani bermain dengan tenaga penuh.
Di kelompok usia 15 tahun, kata Tias, persoalan fisik menjadi bagian penting dari pembinaan. Anak-anak harus membagi waktu antara sekolah dan latihan.
“Kalau tidak punya fisik, bagaimana mau berlari, melakukan passing, atau menjaga lawan?” ujarnya.
Di sisi lain, pelatih ABC Wira Yudha, Panca Retno Sari, memilih melihat kekalahan dari sisi pembelajaran. Ia menilai timnya sempat mendominasi permainan pada babak pertama, sebelum situasi berubah pada babak kedua.
ABC bahkan harus bermain dengan 10 pemain setelah kesempatan pergantian pemain habis. Tim yang berangkat dari komunitas itu masih terus membangun mental untuk bersaing dengan tim-tim yang memiliki tradisi pembinaan lebih panjang.
Menurut Panca, kemampuan bermain bola anak-anaknya sebenarnya tidak buruk. Persoalannya lebih banyak muncul ketika mereka harus mengambil keputusan dalam duel.
“Anak-anak punya jiwa petarung. Tetapi ketika mengambil keputusan dalam situasi duel, kami sering kalah,” katanya.
Talent scouting Berti Tutuarima yang mengamati pertandingan tersebut juga melihat perbedaan mencolok pada kekuatan kolektif kedua tim. Farama dinilainya lebih solid sebagai kesatuan tim, sementara ABC lebih banyak mengandalkan kemampuan individu.

Kemayoran 17 Menang Tipis 2-1 Melawan Bintang Ragunan
Cerita berbeda muncul pada pertandingan kedua. Kemayoran 17 harus bekerja lebih keras sebelum menundukkan Bintang Ragunan, 2-1.
Kenzi Falah Hadlan menjadi bintang kemenangan Kemayoran 17. Pemain bernomor punggung 9 itu mencetak dua gol pada menit ke-22 dan ke-28.
Bintang Ragunan sempat menjaga harapan melalui gol M. Abdul Fattah pada menit ke-26. Namun, hingga pertandingan berakhir, keunggulan Kemayoran 17 tidak berubah.
Pelatih Kemayoran 17, Jhoni, mengakui masih ada pekerjaan rumah, terutama dalam penyelesaian akhir dan transisi permainan.
Sementara pelatih Bintang Ragunan, Abubakar, menyoroti tantangan pertandingan pada siang hari. Cuaca panas dan waktu bermain, menurut dia, menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam kompetisi kelompok usia muda.
Dari dua pertandingan itu terlihat bahwa Liga Soeratin U-15 Piala Gubernur 2026 bukan hanya panggung untuk mencari pemenang. Di lapangan sintetis PSF Pancoran, anak-anak itu sedang belajar sesuatu yang lebih mahal daripada tiga poin: bagaimana bertahan ketika tertinggal, bagaimana mengambil keputusan ketika tertekan, dan bagaimana tetap berani bermain ketika tenaga mulai habis.
Pada akhirnya, sepak bola usia muda memang bukan tentang siapa yang paling cepat menjadi juara. Ia adalah tentang siapa yang paling tekun menjalani proses.
Skor selesai dalam 60 menit. Pembentukan seorang pemain bisa membutuhkan bertahun-tahun.|Foto : Prass
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















