banner 728x250

Senandung Rasa: Saat Band Pelajar Berhenti Mengejar Piala dan Mulai Merayakan Persahabatan

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|TANGERANG, BANTEN — Tepuk tangan pecah. Musik mengalun. Sejumlah band pelajar bergantian mengambil posisi di atas panggung. Namun, kali ini bukan piala yang menjadi tujuan utama.

Di Senandung Rasa, yang digelar di Flavor Bliss Alam Sutera, Tangerang, Banten, Sabtu (12/9/2026), para musisi muda justru diajak merayakan sesuatu yang sering luput dari hingar-bingar kompetisi: pertemanan.

banner 325x300

Sebanyak 20 band pelajar tampil dalam kegiatan yang mempertemukan anggota komunitas IBC Indonesia tersebut. Mereka datang dari sejumlah wilayah, mulai dari Bekasi, Depok, Tangerang hingga Serang.

Bagi salah satu penggagasnya, Simon Martheunius, panggung hanyalah salah satu bagian dari perjalanan seorang musisi muda.

“Kompetisi memang penting karena bisa memacu mereka untuk berkembang. Tetapi kami tidak ingin hubungan mereka berhenti sebatas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kami ingin mereka pulang membawa teman dan pengalaman baru,” ujar Simon.

Ide itu sebenarnya tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil.

Para musisi pelajar yang sebelumnya berjumpa dalam berbagai festival musik dan tari mulai saling mengenal. Dari sekitar 10 band, komunikasi itu berkembang menjadi sebuah komunitas yang kini merangkul sekitar 100 band dari berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Jawa Timur.

Hampir dua tahun lamanya, hubungan tersebut lebih banyak terjalin lewat grup WhatsApp.

Layar ponsel menjadi ruang bertukar kabar. Jadwal festival dibicarakan. Pengalaman dibagikan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh pesan dan emoji: bertemu langsung.

Dari situlah Senandung Rasa lahir.

Ketika “Lawan” Menjadi Kawan

Senandung Rasa memang tetap menghadirkan panggung musik. Tetapi suasananya dibuat berbeda.

Tidak ada tuntutan bahwa semua peserta harus datang dengan genre yang sama. Beragam warna musik hadir, meski karakter musik yang terlalu keras tidak menjadi dominan karena sebagian besar penampil masih berstatus pelajar.

Justru keberagaman itu yang ingin dirawat.

Para peserta bisa melihat bagaimana teman seusianya memainkan musik dengan gaya berbeda. Ada yang memiliki karakter panggung kuat, ada yang lebih santai, sementara yang lain menemukan kepercayaan dirinya melalui permainan musik.

Di antara penampilan itu, batas sebagai “lawan” dalam kompetisi pun perlahan mencair.

“Yang kami cari bukan hanya penampilan di atas panggung. Mereka harus mendapatkan pengalaman, ilmu, dan rasa kebersamaan. Itu yang menurut saya jauh lebih berharga,” kata Simon.

Kalimat tersebut seperti menemukan jawabannya sendiri ketika acara berlangsung.

Para pelajar yang mungkin sebelumnya berjumpa sebagai kompetitor kini dapat berbincang, bercanda, berfoto, dan saling memberikan dukungan.

Ada panggung, tetapi tidak ada jarak.

Ada persaingan, tetapi bukan permusuhan.

Musik yang Mempertemukan

Bagi komunitas IBC Indonesia, musik bukan hanya soal kemampuan memainkan instrumen atau tampil di hadapan penonton.

Musik juga bisa menjadi pintu masuk untuk memperluas pergaulan dan membangun kepercayaan diri.

Karena itu, kehadiran orangtua dan penonton menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut. Dukungan lingkungan membuat para pelajar memiliki ruang yang lebih sehat untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.

Pembatasan peserta menjadi 20 band pun bukan karena kekurangan peminat. Sebaliknya, cukup banyak kelompok musik yang ingin ikut. Jumlah tersebut sengaja dibatasi agar interaksi dan pertemuan antarpeserta tetap berlangsung optimal.

Bagi Simon, ukuran keberhasilan kegiatan bukan hanya seberapa meriah panggungnya, melainkan apa yang terjadi setelah musik berhenti dimainkan.

Ia bahkan mengaku salah satu momen paling menggembirakan justru ketika peserta yang sebelumnya bersaing bisa kembali tertawa bersama, berfoto, hingga saling berpelukan.

Pemandangan sederhana itu menjadi pesan paling kuat dari Senandung Rasa.

“Kalau setelah tampil mereka masih bisa tertawa bersama, berfoto, dan saling merangkul, berarti tujuan kami tercapai. Kami ingin persaingan di panggung tidak menjadi perselisihan setelah acara selesai,” ujar Simon.

Bukan Sekadar Festival

Senandung Rasa diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertemuan.

Simon membayangkan kegiatan tersebut berkembang menjadi festival musik pelajar yang lebih besar, dengan peserta yang semakin banyak dan jaringan komunitas yang semakin luas.

“Kami berharap kegiatan ini bisa berlanjut. Kalau memungkinkan, ke depan bukan hanya satu acara, tetapi berkembang menjadi festival yang lebih besar sehingga semakin banyak band pelajar yang bisa bertemu,” tuturnya.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang ketika festival itu nantinya tumbuh besar: rasa.

Sebab, bagi para musisi pelajar, perjalanan bermusik masih panjang. Piala bisa berganti tangan. Juara bisa berubah. Panggung pun suatu hari akan berganti.

Tetapi teman yang ditemukan di perjalanan bisa bertahan jauh lebih lama.

Itulah yang coba dinyanyikan Senandung Rasa.

Bukan tentang siapa yang paling hebat.

Melainkan tentang bagaimana musik membuat mereka datang sebagai pesaing, lalu pulang sebagai kawan.(**)

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontribitor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan