Intimate.co.id|JAKARTA — Perjalanan Kirribilly membawa nama Indonesia ke panggung dunia belum sepenuhnya berakhir. Setelah tampil dalam International Beatleweek 2026 di Liverpool, Inggris, band supergroup asal Indonesia itu kini menghadapi perjalanan pulang yang tak kalah dramatis.
Kirribilly dilaporkan masih tertahan di Singapura akibat gangguan penerbangan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau. Rencananya, mereka akan melanjutkan perjalanan dari Bandara Changi menuju Surabaya sekitar pukul 14.20 waktu setempat, Senin (7/9/2026).
Gangguan tersebut terjadi setelah aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4–6 September 2026 menyebabkan sebaran abu vulkanik mengganggu sejumlah jalur penerbangan. Soekarno-Hatta termasuk bandara yang sempat ditutup sementara demi keselamatan penerbangan.
Situasi itu membuat kepulangan Kirribilly harus menempuh rute alternatif. Namun, bagi keluarga dan para sahabat, tujuan utama kini sederhana: memastikan para personel kembali ke Tanah Air dengan selamat.
“Semoga teman-teman Kirribilly bisa kembali dengan tidak kurang suatu apa pun. Sekadar info, mereka tertahan di Singapura saat ini dan rencananya akan terbang ke Surabaya karena Bandara Soekarno-Hatta belum buka akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang erupsi dua hari lalu,” tulis pengamat musik Stanley Tulung dalam unggahan Instagram-nya, Senin (7/9).
“Baik-baik ya teman-teman. Ada keluarga menunggu kalian di rumah. Bravo Kirribilly,” lanjutnya.
Kirribilly sebelumnya mencatat momen penting dalam perjalanan musik Indonesia dengan tampil di International Beatleweek 2026 di Liverpool, yang berlangsung 26 Agustus hingga 1 September 2026.
Kehadiran mereka merupakan hasil undangan resmi Cavern City Tours Ltd, penyelenggara festival tahunan yang mempertemukan penggemar dan musisi tribute The Beatles dari berbagai negara.
Kirribilly beranggotakan Dikky Lennon, Ade Govinda, Rafly Abidin, dan Ikmal Tobing. Mereka membawa interpretasi sendiri terhadap karya-karya The Beatles, sekaligus meneruskan jejak musisi Indonesia yang lebih dulu tampil dalam ajang tersebut, seperti G-Pluck dan The Indonesian Beatleclub.
Bagi Kirribilly, perjalanan ke Liverpool bukan sekadar puertunjukan musik. Itu adalah kesempatan membawa nama Indonesia ke ruang yang lebih luas.
Kini, setelah panggung Liverpool mereka lewati, tantangan berikutnya adalah perjalanan pulang.
Di tengah abu vulkanik dan perubahan jadwal penerbangan, pesan Stanley Tulung terasa sederhana sekaligus dalam: tak ada panggung yang lebih penting daripada pulang dengan selamat ke rumah.|Foto : Instagram@stanleytulung.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















