Intimate.co.id|JAKARTA -|Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan artifisial (AI), desain tak lagi dipandang sekadar urusan estetika. Ia berkembang menjadi bahasa yang mampu menyampaikan gagasan, membangun identitas, hingga menciptakan peluang ekonomi baru. Gagasan itulah yang mengemuka dalam pembukaan Re:Rasa International Poster Biennale 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta, Jumat (31/7).
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa Desain Komunikasi Visual (DKV) merupakan fondasi penting bagi ekosistem ekonomi kreatif Indonesia. Menurutnya, hampir seluruh subsektor kreatif, mulai dari fesyen, film, musik, kuliner, kriya, hingga aplikasi dan gim, membutuhkan kekuatan desain untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus daya saing.
Mengusung tema “Re:Think, Re:Make, Re:Act”, Re:Rasa hadir sebagai ruang perjumpaan lintas disiplin dan lintas negara. Mahasiswa, desainer, ilustrator, akademisi, pelaku industri, hingga komunitas kreatif berkumpul untuk bertukar gagasan sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di era digital.
Teuku Riefky menilai perkembangan AI justru menuntut dunia desain untuk semakin kritis dan humanis. Sebuah karya, menurutnya, tidak cukup hanya menarik secara visual, tetapi juga mampu mengajak publik berpikir, berdialog, serta melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Optimisme itu diperkuat oleh kiprah talenta desain Indonesia yang semakin diakui dunia. Banyak kreator nasional telah dipercaya menggarap karya bagi berbagai Intellectual Property (IP) global seperti Disney, Pokémon, hingga Marvel. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kreativitas Indonesia memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional.
Penguatan ekosistem desain berbasis Kekayaan Intelektual juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan nasional. Sejalan dengan Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045, desain diposisikan sebagai sektor strategis yang mampu memperkuat identitas bangsa sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk kreatif Indonesia di pasar global.
Re:Rasa 2026 menghadirkan 88 karya poster hasil kurasi dari 25 negara. Kehadiran puluhan karya internasional itu menjadi penanda meningkatnya kepercayaan dunia terhadap Indonesia sebagai ruang dialog dan kolaborasi bagi komunitas desain global.
Tak hanya pameran poster, agenda yang berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini juga diramaikan dengan berbagai kegiatan interaktif seperti Artist Talk, Creative Workshop, dan Art Market yang menghadirkan produk kreatif lokal, UMKM, serta beragam kuliner. Melalui pendekatan tersebut, desain tidak hanya dipamerkan sebagai karya seni, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi yang melibatkan berbagai pelaku industri kreatif.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menyebut penyelenggaraan biennale perdana ini sebagai langkah kecil yang membuka perjalanan besar. Kehadiran peserta dari 25 negara menjadi bukti bahwa Indonesia semakin diperhitungkan sebagai salah satu simpul penting dalam percakapan desain internasional.
Lebih dari sekadar pameran, Re:Rasa menawarkan cara baru memandang desain sebagai jembatan antara kreativitas, empati, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi. Dari Jakarta, karya-karya visual itu menyampaikan pesan bahwa kreativitas Indonesia tak hanya mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga siap memberi warna dalam panggung desain dunia.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















