Intimate.co.id|JAKARTA -|Di lapangan, Simson Rumahpasal adalah tembok yang sulit ditembus. Kulitnya legam, tatapannya tajam, dan tekel-tekelnya membuat penyerang lawan berpikir ulang sebelum memasuki sisi kanan pertahanan. Namun, di balik sosok yang terlihat keras itu, tersimpan hati yang lembut bahkan rapuh. Ia pernah berkali-kali ingin meninggalkan sepak bola, sebelum akhirnya takdir membawanya menjadi bagian dari sejarah Persija Jakarta.
Nama Simson tak bisa dipisahkan dari gelar juara Perserikatan 1979. Saat itu Persija Jakarta menaklukkan PSMS Medan 1-0 lewat gol tunggal Andi Lala di Stadion Utama Senayan, sebuah laga klasik yang hingga kini masih dikenang para pencinta sepak bola Indonesia.
Final bersejarah itu juga menyimpan kenangan bagi mBah Coco. Masih berstatus pelajar SMA, ia rela menumpang kereta api dari Semarang menuju Jakarta atas ajakan gelandang PSMS Medan, Nobon Kayamudin. Bahkan, sebelum pertandingan, ia sempat berada di Hotel Asri bersama skuad Ayam Kinantan, lalu ikut rombongan menuju stadion yang dipadati sekitar 120 ribu penonton.
Empat puluh tujuh tahun berselang, kenangan itu kembali berdenyut.
Di Lapangan Pancoran Soccer Field (PSF), Jakarta, Minggu (26/7/2026), mBah Coco bertemu kembali dengan Simson Rumahpasal saat menyaksikan Liga Soeratin Jakarta U-15. Lapangan itu seolah menjadi ruang temu lintas generasi, tempat para legenda kembali berbagi cinta kepada sepak bola melalui pembinaan pemain muda.
Di sela pertandingan, Simson membuka lembar demi lembar perjalanan hidupnya. Sebuah kisah tentang jatuh, bangkit, lalu kembali jatuh, sebelum akhirnya berdiri lebih kokoh.
Ia mengaku sedikitnya tiga kali mengalami titik terendah yang nyaris mengakhiri kariernya.
Kekecewaan pertama datang ketika namanya dicoret dari skuad yang dipersiapkan mengikuti Turnamen IRAMA SUKA. Patah hati itu begitu dalam hingga ia membuang sepatu, seragam, dan seluruh perlengkapan sepak bolanya.
“Saya sudah memutuskan berhenti main bola dan ingin menjadi guru olahraga,” kenangnya.
Namun, takdir rupanya belum selesai menuliskan kisahnya.
Matheus Putiray, ayah legenda sepak bola Rocky Putiray, menjadi sosok yang mengubah arah hidup Simson. Ia membujuk Simson kembali ke lapangan, bahkan mengajaknya membeli perlengkapan sepak bola baru agar semangatnya tumbuh kembali.
Keputusan itu menjadi awal dari babak baru.
Lewat Turnamen HUT Pattimura, Simson terpilih memperkuat Pertamina pada PORPER 1974 di Cirebon. Prestasinya membawanya diangkat menjadi karyawan Pertamina di Ujung Pandang. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Ia justru tidak mendapat kesempatan bermain sepak bola.
Untuk kedua kalinya, Simson memilih mengambil risiko.
Ia meninggalkan pekerjaan yang mapan di Pertamina, bergabung sebagai pegawai Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, sekaligus memperkuat Beringin Putra.
Di klub inilah mentalnya ditempa.
Melihat kemampuan Yusuf Malle memainkan bola dengan teknik “raga-raga”, Simson menyadari dirinya tak memiliki bakat teknik sehebat pemain lain. Ia memilih jalan yang berbeda. Setiap hari berlatih sendiri di bawah terik matahari, memperkuat fisik, memperbaiki kecepatan, dan mengasah daya tahan hingga batas kemampuan.
Kerja keras itu akhirnya mengetuk pintu kesempatan.
Meski Beringin Putra kalah telak 0-10 dari tim nasional Indonesia dalam laga uji coba, penampilan Simson di posisi bek kanan justru mencuri perhatian. Asisten pelatih timnas, Wiem Hendriecks, meminta pelatih Frans Jo menyiapkan Simson untuk bergabung dengan skuad Garuda.
Sejak saat itu, kariernya melesat.
Ia sempat memperkuat PSM Ujung Pandang, kemudian masuk PSSI Utama bersama Warna Agung, sebelum akhirnya menjadi andalan Persija Jakarta mulai 1977.
Namun bahkan ketika sudah menjadi pemain Persija, badai belum juga berlalu.
Menjelang final Perserikatan 1979, Simson sempat kehilangan kesabaran. Karena terus menjadi pemain cadangan, ia meluapkan emosinya hingga menyikut pelatih Marek Jonata. Saat itu ia yakin kariernya bersama Persija telah berakhir.
Yang terjadi justru sebaliknya.
Direktur Teknik Persija, Bob Hippy, tetap memberikan kepercayaan penuh. Simson dipasang sebagai bek kanan pada laga final melawan PSMS Medan.
Kepercayaan itu dibayar lunas.
Persija keluar sebagai juara, sementara Simson mengukuhkan namanya sebagai salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki Macan Kemayoran.
Di tim nasional, Simson kembali ditempa oleh dua pelatih besar, Tony Pogacnik dan Wiel Coerver. Dari keduanya, ia belajar bahwa kualitas seorang pemain bukan hanya ditentukan oleh bakat, melainkan juga oleh disiplin dan kerja keras.
Salah satu pesan Tony Pogacnik yang terus dipegangnya hingga kini begitu sederhana, tetapi sangat dalam.
«”Kalau kamu minta uang, saya bisa memberi. Tapi kalau saya minta napasmu, siapa yang bisa menggantikannya?”»
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa fisik, kesehatan, dan semangat juang adalah modal yang tak tergantikan.
Kini, menjelang usia 76 tahun, Simson Rumahpasal masih setia berdiri di pinggir lapangan. Bukan lagi untuk menghentikan penyerang lawan, melainkan menyemangati anak-anak yang sedang mengejar mimpi.Perjalanan hidupnya membuktikan bahwa seorang legenda tidak lahir karena tak pernah gagal. Legenda justru lahir karena selalu menemukan keberanian untuk bangkit setiap kali kehidupan menjatuhkannya.
Itulah warisan terbesar Simson Rumahpasal bukan hanya trofi Perserikatan 1979, melainkan keteguhan hati yang mengajarkan bahwa mimpi hanya benar-benar berakhir ketika seseorang memilih berhenti berjuang.|Sumber : Mbah CocoMeo.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















