Intimate.co.id|JAKARTA – Farama FC meraih kemenangan kedua secara beruntun di Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026. Menghadapi PSF Academy pada pekan ke-9 Grup Merah di Lapangan Sintetis 2 Pancoran Soccer Field, Jakarta, Sabtu (10/10/2026), Farama menang 3-1. Meski meraih tiga poin, pelatih Farama FC, Hilman Akbar, justru melontarkan kritik keras kepada anak asuhnya.
Farama sebelumnya sukses menundukkan Bina Mutiara dengan skor 3-2. Kemenangan atas PSF Academy memperpanjang tren positif mereka pada putaran kedua kompetisi.
Namun, kemenangan kali ini tidak diraih dengan mudah. PSF Academy mengawali pertandingan dengan hanya 10 pemain karena sejumlah pemainnya tidak hadir. Situasi itu semestinya menjadi keuntungan bagi Farama untuk menguasai pertandingan.
Kenyataannya, Farama justru kesulitan membongkar pertahanan lawan. Ketegangan di lapangan juga berujung kartu merah bagi pemain Farama, Abdullah Yusuf Azzam, pada menit ke-27. Kedua tim pun sama-sama bermain dengan 10 pemain.
Kebuntuan baru pecah pada menit ke-34. Indra Pratama membawa Farama FC unggul 1-0 hingga babak pertama berakhir.
Memasuki babak kedua, PSF Academy mendapat tambahan pemain sehingga kembali berkekuatan 11 orang. Namun, upaya memperbaiki keadaan justru diwarnai gol bunuh diri bek Ulin Rahman Firmansyah pada menit ke-38. Farama pun menjauh dengan keunggulan 2-0.
PSF tidak menyerah. Penyerang Yesaya Mora Natanael Siahaan memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2 pada menit ke-51 melalui tembakan jarak jauh yang gagal diantisipasi kiper Farama, Azmi Surya Alfarizi.
Harapan PSF untuk mengejar ketertinggalan kembali mendapat pukulan setelah Rizky Aditya Firmansyah menerima kartu merah pada menit ke-56. PSF harus melanjutkan pertandingan dengan sembilan pemain.
Farama memanfaatkan situasi tersebut untuk mengunci kemenangan. Giant Safari Sudrajat mencetak gol pada menit ke-58 sekaligus memastikan skor akhir 3-1.
Pelatih Farama Tak Puas
Tambahan tiga poin tidak membuat Hilman Akbar sepenuhnya puas. Ia menilai permainan Farama masih jauh dari harapan, terutama ketika menghadapi lawan yang sempat kekurangan pemain.
“Secara hasil tentu senang, tetapi dari segi permainan tidak ada yang bisa dibanggakan. Anak-anak kesulitan mencetak gol saat unggul jumlah pemain. Pola permainan kacau dan organisasi tim tidak berjalan sesuai instruksi. Ada kesan mereka meremehkan lawan,” ujar Hilman.
Kritik tersebut menjadi catatan penting bagi Farama meski berhasil mengamankan kemenangan. Efektivitas serangan dan disiplin menjalankan instruksi masih harus dibenahi jika ingin menjaga konsistensi hingga akhir kompetisi.
Di kubu PSF Academy, pelatih Joko Kuspito juga menyayangkan performa timnya. Selain menilai permainan anak asuhnya kurang bertenaga, ia menyoroti persoalan kedisiplinan kehadiran pemain yang membuat tim harus memulai pertandingan dengan 10 orang.
Menurut Joko, situasi tersebut tidak seharusnya terjadi pada akademi sepak bola sebesar PSF.

Farama Naik ke Posisi Kelima
Kemenangan atas PSF Academy mengangkat Farama FC dari peringkat keenam ke posisi kelima klasemen sementara Grup Merah dengan koleksi 10 poin. Perolehan tersebut sudah memperhitungkan sanksi pengurangan tiga poin yang diterima Farama pada putaran pertama.
Penasihat Teknis Farama FC, Tias Tano Taufik, mengapresiasi peningkatan performa tim pada putaran kedua. Namun, ia berharap tren positif tersebut tetap dibarengi konsistensi permainan.
“Anak-anak menunjukkan peningkatan signifikan di putaran ini. Semoga konsistensi ini terjaga demi meraup hasil maksimal di sisa laga,” kata Tias.
Dua kemenangan beruntun menjadi modal positif bagi Farama FC. Meski begitu, kritik pelatih setelah kemenangan atas PSF Academy menunjukkan bahwa hasil akhir belum sepenuhnya mencerminkan permainan yang diharapkan.[]Foto : Prass
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












