Irene Umar Bidik Video Mapping Jadi Mesin Baru Ekonomi Kreatif Indonesia

Intimate.co.id|JAKARTA – Seni video mapping mulai dibidik sebagai salah satu penggerak baru ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong penguatan ekosistem seni visual berbasis teknologi agar karya talenta lokal tidak hanya memukau penonton, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan daya saing di pasar global.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif sekaligus Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan hal tersebut dalam audiensi bersama Raphael Donny, pelopor seni visual dan motion designer asal Yogyakarta, di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Menurut Irene, video mapping merupakan medium yang mempertemukan kreativitas, teknologi modern, dan narasi budaya. Potensinya dinilai semakin besar, terutama dalam penyelenggaraan berbagai acara berskala besar yang membutuhkan pengalaman visual inovatif.

“Teknologi ini bukan sekadar permainan visual yang memukau, melainkan sebuah medium strategis yang memadukan kekuatan kreativitas dan teknologi modern,” ujar Irene.

Ia menambahkan, inovasi tersebut dapat membuka ruang bagi talenta lokal untuk berekspresi, menghasilkan karya, dan menjangkau khalayak yang lebih luas. Pada saat bersamaan, pengembangan video mapping berpotensi menggerakkan aktivitas ekonomi kreatif dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.

Penguatan Ekosistem dan Kekayaan Intelektual

Untuk memperkuat industri video mapping, Kementerian Ekraf mengarahkan tim Raphael Donny berkoordinasi dengan Direktorat Film, Animasi, dan Video serta Direktorat Kreativitas Teknologi.

Koordinasi tersebut ditujukan untuk mendukung pengembangan kapasitas kreator, studio, dan pelaku seni visual, sekaligus memperkuat ekosistem industri berbasis teknologi.

Kementerian Ekraf juga membuka ruang fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) melalui Direktorat Pengembangan Fasilitasi Kekayaan Intelektual. Langkah ini penting agar karya visual yang dihasilkan kreator Indonesia memiliki perlindungan sekaligus peluang untuk dikembangkan sebagai aset ekonomi.

Penguatan ekosistem tersebut menjadi relevan karena video mapping tidak hanya bertumpu pada kecanggihan perangkat dan teknik visual. Di dalamnya terdapat gagasan kreatif, desain, animasi, serta identitas budaya yang dapat membentuk karakter dan nilai jual sebuah karya.

Membawa Wayang dan Batik ke Panggung Dunia

Dalam audiensi tersebut, Raphael Donny memaparkan rekam jejak karyanya melalui studio RESdept. Salah satu karya yang disorot adalah MöDAR bertajuk Alpha  Omega yang mengangkat unsur visual wayang dan batik dalam LUNAR Festival di Bulgaria.

Karya tersebut memperlihatkan bagaimana elemen budaya Indonesia dapat diterjemahkan melalui pendekatan seni visual kontemporer berbasis teknologi.

Selain itu, terdapat kolaborasi seni visual bersama artisan video mapping Kery Utomo dan Illyas Pratama dari Sampaikan.

Perpaduan teknologi modern dengan narasi budaya dinilai membuka peluang bagi kreator Indonesia untuk membangun identitas karya yang berbeda di tengah persaingan industri kreatif global.

Tantangannya bukan hanya menghasilkan pertunjukan yang spektakuler, melainkan juga mengembangkan karya yang dapat dipasarkan, memiliki perlindungan kekayaan intelektual, dan berkelanjutan secara bisnis.

WCCE 2026 Jadi Momentum Kolaborasi

Penguatan video mapping juga diarahkan untuk mendukung gelaran *World Conference on Creative Economy* (WCCE) 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta.

Melalui forum internasional tersebut, Kementerian Ekraf berharap karya video mapping dan instalasi visual buatan talenta lokal memperoleh ruang lebih luas untuk diperkenalkan kepada audiens internasional sekaligus membuka peluang kolaborasi dan pasar baru.

“Melalui momentum WCCE 2026, Kementerian Ekraf berharap karya video mapping dan instalasi visual talenta lokal tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga siap dipasarkan dan menjadi pilar pertumbuhan ekonomi,” kata Irene.

Ia menilai sinergi antara teknologi tinggi dan narasi budaya dapat melahirkan kekayaan intelektual yang kuat dan mandiri, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Sementara itu, Raphael Donny mengapresiasi keterbukaan Kementerian Ekraf dalam mendengar persoalan yang dihadapi para pelaku video mapping serta mendorong aktivasi ekosistemnya.

“Kami sangat mengapresiasi keterbukaan Kementerian Ekraf yang mau mendengar masalah kami dan ingin merangkul serta mengaktivasi ekosistem video mapping,” ujar Raphael.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat menciptakan nilai tambah ekonomi dan mendorong regenerasi kreator yang mampu bersaing di tingkat global.

Pengembangan video mapping pun membuka peluang lebih luas bagi seni visual Indonesia: dari medium pertunjukan menjadi industri kreatif yang bertumpu pada inovasi, kekayaan budaya, perlindungan karya, dan kemampuan menembus pasar internasional.[**]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan