banner 728x250

Menag Nasaruddin Umar: Imam Harus Jadi Duta Perdamaian Dunia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Ketika diplomasi formal belum mampu menghentikan berbagai konflik di dunia, Menteri Agama Nasaruddin Umar menawarkan pendekatan lain: memperkuat peran imam sebagai jembatan kemanusiaan dan duta perdamaian.

Gagasan itu disampaikan Nasaruddin saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026).

banner 325x300

Menurut Nasaruddin, imam memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat hampir setiap hari. Kedekatan tersebut dinilai menjadi modal penting untuk menyampaikan pesan perdamaian, membangun dialog, sekaligus meredam ketegangan di tengah masyarakat.

«“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Nasaruddin.»

Ia menilai intensitas pertemuan imam dengan umat bahkan sangat tinggi. Dalam sehari, imam dapat berjumpa dengan jamaah melalui pelaksanaan salat lima waktu dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya.

«“Peranan imam sangat penting, sebab imam inilah yang paling intensif berkomunikasi dengan umat. Kurang lebih lima kali sehari semalam para imam berjumpa dengan umat,” katanya.»

Karena itu, Nasaruddin mendorong agar imam tidak hanya dipandang sebagai pemimpin ritual keagamaan. Peran mereka perlu diperluas ke ranah sosial, kemanusiaan, bahkan perdamaian internasional.

Menurut dia, konflik yang berlangsung di berbagai belahan dunia membutuhkan pendekatan yang tidak semata-mata mengandalkan diplomasi formal.

«“Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha untuk menawarkan satu solusi lain,” ujarnya.»

Pendekatan yang ditawarkan adalah menggunakan bahasa moral dan kemanusiaan untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkonflik.

Kemanusiaan Menjadi Titik Temu

Nasaruddin menekankan bahwa perbedaan agama, etnis maupun kebangsaan tidak semestinya menghilangkan rasa kemanusiaan yang dimiliki setiap orang.

«“We believe humanity is only one, there is no colors. Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apapun, etnik manapun juga,” tegasnya.»

Karena itu, bahasa agama, menurut Nasaruddin, dapat digunakan untuk menyentuh sisi kemanusiaan tersebut.

Ia berharap para imam dapat ikut mengambil peran dalam merespons konflik regional maupun internasional dengan membawa pesan moral yang dapat diterima lintas kelompok.

«“Mudah-mudahan bahasa agama ini bisa meredam konflik, bisa meredam ketegangan, dan kehadiran imam untuk membahasakan hal ini sangat strategis dan sangat penting,” katanya.»

Masjid Tak Hanya Bicara Ritual

Gagasan Nasaruddin juga menyentuh persoalan lingkungan. Ia mendorong agar masjid menjadi salah satu pusat edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga alam.

Menurutnya, bahasa agama dapat digunakan untuk membangun kesadaran tentang bahaya eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

«“Mari kita menggunakan bahasa agama untuk menyadarkan para pengelola hutan, para pengelola laut, dan para pengelola alam semesta yang lain untuk tidak melakukan hal-hal yang melampaui batas,” ujarnya.»

Isu tersebut menjadi bagian dari pembahasan ekoteologi dalam IGIC 2026.

Dengan demikian, masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan untuk membicarakan persoalan kemanusiaan, perdamaian dan lingkungan.

Gagas Forum Lintas Agama

Semangat tersebut bahkan hendak diperluas melalui forum lintas agama.

Nasaruddin mengatakan, Kementerian Agama akan menggagas pertemuan dengan para pemimpin rumah ibadah dari berbagai agama untuk membicarakan isu kemanusiaan yang menjadi kepentingan bersama.

«“Mari kita undang duduk bersama, karena tema sentral kita semua umat beragama adalah sama,” ungkapnya.»

Dalam konteks tersebut, Nasaruddin memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, selain konsep ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.

Ukhuwah makhluqiyah dimaknai sebagai persaudaraan sesama makhluk.

Gagasan itu memperluas perspektif persaudaraan, bukan hanya berdasarkan agama atau kebangsaan, tetapi juga sebagai sesama manusia dan bagian dari kehidupan di bumi.

49 Delegasi dari 39 Negara

IGIC 2026 mempertemukan para pemimpin keagamaan dari berbagai negara untuk membahas kontribusi kepemimpinan agama terhadap persoalan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Ketua Panitia IGIC 2026 M Sabilul Alif mengatakan, hingga pembukaan konferensi telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara.

Mereka terdiri atas Grand Imam, Grand Mufti dan tokoh agama dari berbagai kawasan.

“Hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia,” kata Sabilul.

IGIC 2026 berlangsung pada 25–28 September 2026 dengan tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace”.

Forum tersebut membahas sejumlah isu, mulai dari peran masjid dalam membangun harmoni, diplomasi keagamaan dan perdamaian global hingga potensi ekonomi kemasjidan.

Dari Jakarta, pesan yang hendak dibawa para peserta sederhana namun luas: masjid tidak hanya menjadi tempat bertemunya manusia dengan Tuhan, tetapi juga dapat menjadi tempat manusia menemukan kembali jalan menuju perdamaian.[]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan