Intimate.co.id|JAKARTA – Sepakbola tanpa suporter tentu terasa hambar. Tribun adalah nyawa pertandingan. Tapi, apakah kecintaan kepada klub membuat suporter berhak menentukan siapa pelatih, pemain yang harus dibeli, hingga strategi permainan?
Pertanyaan itu dilontarkan Mbah Coco di Markas Kandang Ayam,Rawamangun Jakarta Timur,Rabu(16/9) jurnalis yang sudah puluhan tahun mengikuti sepakbola nasional.
Menurutnya, suporter punya hak untuk mengkritik. Bahkan, boikot sebagai bentuk protes damai juga merupakan bagian dari dinamika sepakbola modern.
Namun, ada batas yang jangan dilewati.
“Suporter itu pemain ke-12, bukan pelatih ke-12,” begitu kira-kira garis besar pandangan Mbah Coco.
Mbah Coco menyoroti fenomena ketika kelompok suporter mulai mendesak pelatih atau manajemen klub profesional untuk mengambil keputusan teknis.
Salah satunya terjadi dalam kasus PSPS Riau. Setelah PSPS bermain imbang 3-3 melawan PSMS Medan pada Pegadaian Championship 2025-26, muncul desakan terhadap pelatih Ilham Romadohna dan Direktur Teknik Kurniawan Dwi Yulianto.
Sebelumnya, PSPS juga menelan kekalahan 0-4 dari Bekasi FC.
Kekecewaan suporter memang bisa dipahami. Tetapi menurut Mbah Coco, pertanyaannya bukan soal boleh atau tidaknya suporter marah.
Yang dipersoalkan adalah ketika kemarahan itu berubah menjadi tekanan untuk menentukan keputusan teknis klub.
“Sejak kapan suporter mengatur pelatih? Sejak kapan suporter menentukan taktik dan strategi?” demikian kegelisahan Mbah Coco.
Boleh Protes, Jangan Intimidasi
Mbah Coco tidak menganggap suporter harus diam,justru sebaliknya suporter punya posisi penting dalam ekosistem sepakbola.
Mereka membeli tiket, merchandise, mengikuti pertandingan, memenuhi stadion dan menjadi bagian dari identitas klub.
Karena itu, ketika ada kebijakan manajemen yang dianggap merugikan, suporter punya hak untuk bersuara.
Termasuk ketika harga tiket naik.
Fenomena tersebut terlihat dalam polemik harga tiket launching Persija Jakarta pada Agustus 2026. Sebagian pendukung The Jakmania mempersoalkan kenaikan harga tiket dan muncul wacana boikot.
Menurut Mbah Coco, boikot damai berbeda dengan intimidasi.
Kalau suporter merasa harga tiket terlalu mahal, mereka memiliki pilihan untuk tidak membeli tiket. Mereka juga bisa menyampaikan kritik dan meminta penjelasan kepada manajemen.
Tetapi, keputusan bisnis tetap merupakan wilayah manajemen.
“Boikot boleh. Protes boleh. Tetapi jangan sampai berubah menjadi pemaksaan,” menjadi garis besar pemikiran Mbah Coco.
Klub Profesional Bukan Milik Suporter?
Inilah bagian yang paling menarik.
Secara hukum dan struktur organisasi, klub profesional dikelola oleh pemilik dan manajemen. Ada direktur, jajaran manajemen, direktur teknik, pelatih dan pemain yang memiliki tugas masing-masing.
Suporter tidak memiliki kewenangan formal untuk menentukan siapa pelatih atau pemain yang harus direkrut.
Namun, hubungan klub dengan suporter juga tidak sesederhana hubungan produsen dan konsumen.
Ada sejarah,ada identitas,ada kota,ada warna,ada lambang dan ada generasi yang tumbuh bersama klub.
Pemilik bisa berganti. Pemain bisa pergi. Pelatih bisa datang dan kemudian dipecat tetapi suporter tetap berada di sana.
Karena itu, Mbah Coco menyebut suporter sebagai pemilik spiritual klub.
Bukan pemilik saham bukan pemilik secara hukum akantetapi pemilik ikatan emosional dan sejarah.
Jangan Sampai Klub Rugi Karena Tribun
Masalah berikutnya adalah perilaku suporter yang berujung sanksi.
Flare, pelemparan benda, keributan dan pelanggaran lain akhirnya menjadi beban klub.
Klub harus membayar denda.
Padahal uang tersebut seharusnya bisa digunakan untuk banyak hal: mendatangkan pemain, membangun akademi, memperbaiki fasilitas, meningkatkan keamanan stadion atau mengembangkan bisnis.
Mbah Coco menyinggung besarnya denda yang pernah dibebankan kepada sejumlah klub akibat ulah suporter.
Ia mencontohkan Persib Bandung dan Persebaya Surabaya sebagai klub yang pernah menghadapi persoalan denda dalam jumlah besar.
Pertanyaannya kemudian sederhana:
Kalau suporter mencintai klub, mengapa membuat klub kehilangan uang?
Menurut Mbah Coco, dana yang selama ini habis untuk denda seharusnya bisa dialihkan untuk membangun sistem keamanan pertandingan.
Mulai dari steward profesional, sistem pemeriksaan penonton, teknologi deteksi benda terlarang hingga edukasi suporter.
Dengan begitu, klub tidak hanya menghukum setelah kejadian.
Tetapi mencegah sebelum kejadian.
Sepakbola Indonesia Masih Punya PR Besar
Bagi Mbah Coco, persoalan suporter sebenarnya hanya satu bagian dari masalah sepakbola Indonesia.
Yang lebih besar adalah bagaimana klub benar-benar menjadi industri.
Klub profesional tidak boleh setiap musim hanya sibuk mencari dana untuk bertahan.
Harus ada model bisnis,harus ada investasi,harus ada stadion,harus ada akademi dan harus ada sumber pendapatan yang berkelanjutan.
Pergantian pemilik, perpindahan homebase dan ketergantungan kepada pemodal baru menunjukkan bahwa sebagian klub masih menghadapi persoalan fundamental dalam membangun bisnis sepakbola.
“Klub profesional harus belajar menghasilkan uang, bukan terus-menerus mencari orang yang mau menutup kerugian,” demikian inti kritik Mbah Coco.
Suporter Tetap Pemain ke-12
Meski mengkritik perilaku sebagian suporter, Mbah Coco tetap menempatkan mereka sebagai elemen penting dalam sepakbola.
Stadion tanpa suporter kehilangan atmosfer.
Pertandingan tanpa nyanyian kehilangan energi.
Klub tanpa komunitas kehilangan identitas.
Suporter adalah pemain ke-12.
Mereka bisa menjadi energi tambahan ketika pemain kelelahan. Mereka bisa memberikan tekanan psikologis kepada lawan. Mereka juga bisa menjadi kekuatan ekonomi melalui tiket, merchandise dan berbagai produk klub.
Tetapi pemain ke-12 tetap memiliki tugasnya sendiri.
Tidak masuk lapangan untuk mengatur formasi.
Tidak menyusun strategi.
Tidak menentukan pergantian pemain.
Dan tidak memilih pelatih.
Tugasnya adalah mendukung, mengkritik secara konstruktif, sekaligus menjaga klub tetap hidup.
Boikot atau Mendikte?
Jadi, bolehkah suporter memboikot?
Boleh, sepanjang dilakukan secara damai dan sebagai bentuk ekspresi ketidakpuasan.
Bolehkah suporter mengkritik manajemen?
Tentu.
Bolehkah suporter menuntut transparansi?
Sangat wajar.
Tetapi apakah suporter boleh menentukan taktik, strategi, transfer pemain atau siapa yang harus menjadi pelatih?
Di situlah batasnya.
Sebab sepakbola profesional membutuhkan pembagian peran.
Manajemen mengurus bisnis.
Direktur teknik mengurus teknis.
Pelatih mengurus strategi.
Pemain bermain.
Dan suporter menghidupkan klub.
Mbah Coco akhirnya mengingatkan bahwa mencintai klub bukan berarti memiliki hak untuk mengatur seluruh isi klub.
“Suporter adalah jantung klub. Tapi jantung jangan sampai mengambil alih pekerjaan otak,” demikian pesan yang bisa ditarik dari kegelisahan Mbah Coco.
Karena klub boleh berganti pemain, pelatih dan pemilik.
Tetapi kalau klub sampai bangkrut akibat salah mengelola emosi, tribun juga yang akhirnya kehilangan rumah.[]
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















