banner 728x250

Putri Marino Pulang ke Bromo dalam “Empat Musim Pertiwi”, Film Terbesar Forka Films Siap Mendunia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA — Ada perjalanan pulang yang tidak selalu berarti kembali ke tempat asal. Dalam “Empat Musim Pertiwi”, perjalanan tersebut justru menjadi pintu bagi Pertiwi untuk berhadapan kembali dengan masa lalu, luka, dan berbagai musim kehidupan yang pernah dilaluinya.

Karakter Pertiwi dimainkan Putri Marino dalam film terbaru sutradara Kamila Andini yang diproduksi Forka Films. Film tersebut menjadi proyek terbesar Forka Films sekaligus karya yang akan membawa sinema Indonesia ke dua festival film bergengsi dunia, Toronto International Film Festival dan Busan International Film Festival.

banner 325x300

Bromo menjadi lanskap utama perjalanan Pertiwi. Hampir seluruh proses syuting dilakukan di kawasan tersebut, dengan lokasi yang membentang dari permukiman dan persawahan hingga hamparan pasir.

Skala produksi yang besar membuat proses pengambilan gambar membutuhkan persiapan dan logistik yang tidak sederhana.

“Syutingnya dilakukan pada tahun 2025, dan ini menjadi skala produksi terbesar Forka Films,” kata produser Ifa Isfansyah.

Film yang memiliki judul internasional “Four Seasons in Java” ini akan menjalani world premiere di TIFF 2026 pada September. Kamila sebelumnya pernah membawa “Yuni” ke Toronto pada 2021 dan meraih Platform Prize.

Perjalanan internasional film berlanjut ke BIFF 2026. “Empat Musim Pertiwi” akan diputar dalam program A Window On Asian Cinema, bersamaan dengan jadwal penayangannya di bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.

Bagi Kamila, “Empat Musim Pertiwi” merupakan eksperimen artistik baru. Ia memadukan sejumlah genre, termasuk unsur sci-fi, untuk menyampaikan gagasan tentang perjalanan Pertiwi dan orang-orang di sekelilingnya.

Sementara bagi Putri, memerankan Pertiwi membutuhkan energi dan proses pendalaman yang panjang. Karakter tersebut digambarkan sebagai perempuan yang telah melewati banyak hal hingga menyisakan jarak emosional yang dalam.

Kamila kemudian membantu Putri merancang karakter tersebut, termasuk melalui bacaan “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal el-Saadawi.

“Di sini, aku diminta untuk menjadi seseorang yang seperti sudah mati di dalamnya, dingin,” tutur Putri.

“Empat Musim Pertiwi” juga menjadi reuni tim “Gadis Kretek”. Selain Kamila dan Putri, proyek ini kembali mempertemukan Ifa Isfansyah dan sejumlah pemain yang sebelumnya bekerja dalam proyek tersebut.

Deretan pemerannya mencakup Christine Hakim, Arya Saloka, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.

Film ini juga membawa semangat keberagaman melalui keterlibatan Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli.

Tidak hanya besar dari sisi produksi, “Empat Musim Pertiwi” juga memiliki jangkauan internasional sejak awal. Film ini merupakan ko-produksi enam negara: Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.

Forka Films turut berkolaborasi dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros, serta mendapat dukungan Oriflame.

Film ini juga telah mendapatkan representasi internasional dari Goodfellas, international sales agent asal Prancis yang dikenal menangani film-film auteur dengan rekam jejak kuat di festival dunia.

Kini, perjalanan Pertiwi bergerak dari Bromo menuju Toronto dan Busan. Namun, tujuan akhirnya tetap satu: pulang.

Pertiwi akan pulang ke bioskop Indonesia pada 8 Oktober 2026.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan