Intimate.co.id|JAKARTA – Sebuah film tak selalu berhenti ketika lampu bioskop menyala dan layar mulai gelap. Istimewa justru membawa sebuah janji besar: jika film ini berhasil menembus 1 juta penonton, Rumah Singgah Istimewa akan dibangun di setiap provinsi di Indonesia.
Janji itu datang dari produser Istimewa, Abdullah Mansuri. Baginya, angka satu juta bukan sekadar target komersial, melainkan pintu untuk menghadirkan ruang nyata bagi anak-anak Istimewa agar memiliki tempat yang aman untuk pulang, tumbuh, dan berkarya.
“Buat saya, Istimewa bukan hanya tentang membuat sebuah film, tapi bagaimana kita bisa terus memberikan ruang bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan punya tempat yang aman untuk pulang,” ujar Abdullah Mansuri, Selasa (15/9/2026).
Ia menegaskan, apabila target satu juta penonton tercapai, dirinya ingin merealisasikan pembangunan Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi.
“Saya ingin film ini tidak berhenti sebagai cerita yang kita tonton, tetapi bisa menjadi langkah untuk menghadirkan ruang nyata bagi mereka,” katanya.
Bukan Sekadar Kisah Anak Mencari Ayah
Film Istimewa mengangkat perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul dalam mencari sosok yang mereka cintai. Namun, perjalanan tersebut perlahan berkembang menjadi cerita tentang keluarga, persahabatan, keberanian, kehilangan, dan penerimaan.
Sosok Pak Mahendra yang diperankan Mathias Muchus menjadi figur ayah bagi anak-anak Rumah Istimewa. Ia bukan sekadar orang dewasa yang berada di sekitar mereka, tetapi menjadi tempat berlindung dan sumber rasa aman.
Masalah muncul ketika kondisi kesehatan Pak Mahendra memburuk.
Dalam potongan adegan terbaru yang dirilis Kairos Film, anak-anak tersebut harus menghadapi kemungkinan kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat mereka bergantung. Tangis pun pecah.
Adegan itu menjadi salah satu titik emosional film. Sebab, ketakutan kehilangan bukan hanya milik anak-anak dalam cerita, tetapi menjadi pengalaman universal tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti.
Mathias Muchus mengaku tertarik dengan film tersebut karena melihat ketulusan dalam hubungan antara Pak Mahendra dan anak-anak.
“Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan,” tutur Mathias.
Anak-anak Tak Sekadar Objek Rasa Kasihan
Di sisi lain, Ruben Adrian melihat Istimewa sebagai film yang berusaha mengubah cara pandang penonton terhadap anak-anak yang selama ini mungkin lebih sering ditempatkan sebagai objek rasa iba.
“Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan,” kata Ruben.
Film ini memang tidak hanya menawarkan drama. Ada tawa, petualangan, kehangatan, sekaligus konflik yang membuat penonton diajak mengenal Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul sebagai manusia utuh.
Mereka memiliki kepribadian, mimpi, pilihan, sekaligus persoalan masing-masing.
Dengan demikian, Istimewa mencoba menggeser sudut pandang: anak-anak tersebut bukan sekadar karakter yang harus dikasihani, melainkan individu yang memiliki hak untuk diterima, berkembang, berkarya, dan menentukan jalan hidupnya.
Ketika Film Menjadi Gerakan Sosial
Di titik inilah target satu juta penonton Istimewa memiliki makna berbeda.
Jika tercapai, jumlah penonton tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperluas akses terhadap ruang aman dan inklusif bagi teman-teman Istimewa di berbagai daerah.
Rumah Singgah Istimewa yang dijanjikan Abdullah Mansuri di setiap provinsi menjadi simbol bahwa rumah tidak selalu berarti bangunan.
Rumah bisa berarti seseorang yang memilih untuk hadir. Seseorang yang mau menerima. Seseorang yang tetap menjaga ketika keadaan menjadi sulit.
Dan itulah pesan utama yang hendak dibawa Istimewa ke layar lebar.
Film Istimewa akan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis, 17 September 2026.
Kini, perjalanan menuju satu juta penonton dimulai.
Jika target itu tercapai, cerita di layar lebar diharapkan berlanjut menjadi rumah-rumah nyata bagi mereka yang membutuhkan tempat untuk pulang.(*)
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















