banner 728x250

UMS Menang Tipis 1-0 atas Real Jakarta, Pertarungan Tim Papan Bawah Tetap Penuh Gairah

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA— Panas matahari Sabtu (5/9/2026) siang di Lapangan PSF Pancoran, Jakarta Selatan, tidak menyurutkan semangat UMS dan Real Jakarta untuk memburu poin dalam pekan ketujuh Liga Soeratin U15 Piala Gubernur 2026.

Bermain di Lapangan 2 sintetis dengan suhu sekitar 30 derajat Celsius, kedua tim tampil ngotot dalam pertandingan yang berlangsung 2×30 menit. UMS akhirnya keluar sebagai pemenang setelah M. Arif Bilah (2) mencetak gol tunggal pada menit ke-40.

banner 325x300

Pertandingan yang dimulai pukul 12.10 WIB itu berlangsung dalam tempo cukup ketat. Real Jakarta bahkan harus bermain dengan 11 pemain tanpa pemain cadangan. Sementara UMS juga turun dengan komposisi yang tidak ideal.

Namun, situasi tersebut tidak menghilangkan gairah pertandingan. Kedua tim yang berada di papan bawah tetap menunjukkan perjuangan untuk mendapatkan poin.

Real Jakarta memperoleh kartu kuning melalui Kelvin Novadesra (16) pada menit ke-28 setelah mendapat hukuman dari wasit Agus.

Laga dipimpin wasit Agus, dengan Suryadi sebagai asisten wasit pertama dan Deni sebagai asisten wasit kedua.

Di kubu UMS, tim ditangani Manajer Habibi, Head Coach Joko Kuspito, asisten pelatih Chepy, pelatih kiper Santos, serta Abu sebagai kitman.

Sementara Real Jakarta diperkuat jajaran kepelatihan yang dipimpin R. Darius SP sebagai pelatih, Wahyu Hidayat sebagai asisten pelatih, dan Pras sebagai pelatih kiper.

Bukan Sekadar Mengejar Menang

Pengamat talent scouting Berti Tutuarima melihat pertandingan seperti ini memiliki arti penting bagi masa depan sepak bola Indonesia.

Menurutnya, perhatian terhadap sepak bola selama ini terlalu sering berhenti pada kompetisi level atas. Padahal, pemain yang kelak menghuni Liga 1, Liga 2, maupun tim nasional semuanya berangkat dari kelompok usia muda.

> “Orang sering kali melihat sepak bola ini di level top, Liga 1, Liga 2. Tapi mereka lupa bahwa yang main di atas itu berangkatnya dari grass root semacam ini,” kata Berti.

Karena itu, keberadaan Liga Soeratin U15 Piala Gubernur dinilainya sebagai langkah positif untuk membangun fondasi sepak bola nasional.

Berti juga mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi yang menurutnya cukup rapi, mulai dari peserta, perangkat pertandingan, hingga fasilitas lapangan.

Yang tidak kalah penting, kata dia, anak-anak tidak hanya bermain sepak bola, tetapi juga belajar memahami rules of the game dan mendapatkan edukasi dari perangkat pertandingan.

Dukungan orangtua juga menjadi bagian penting. Menurut Berti, komunikasi antara penyelenggara, pelatih dan orangtua perlu terus dibangun agar semua pihak mempunyai visi yang sama mengenai masa depan anak.

“Harus ada sinergi antara pemain, pelatih, penyelenggara dan orangtua. Bisa saja dilakukan pertemuan antara pelatih, orangtua dan penyelenggara untuk menyatukan visi, mau dibawa ke mana anak-anak kita,” ujarnya.

Kompetisi Liga Membuat Anak Lebih Banyak Belajar

Berti menilai format kompetisi berbasis liga memberikan keuntungan besar bagi pemain muda karena mereka memperoleh kesempatan bertanding lebih banyak.

Ia membandingkan dengan masa lalu ketika sejumlah pemain berkembang melalui kompetisi internal klub maupun pusat-pusat pembinaan di daerah.

Di era sekarang, menurutnya, pemain muda memiliki kesempatan lebih besar karena kualitas pelatih, pengetahuan kepelatihan, fasilitas, dan sistem kompetisi semakin berkembang.

“Tidak ada alasan kita untuk tidak lebih maju,” tegasnya.

Khusus posisi penjaga gawang, Berti menilai Indonesia mempunyai peluang besar melahirkan kiper-kiper potensial apabila pembinaan postur, teknik dan taktik dilakukan secara berimbang.

Ia berharap dari kompetisi seperti Liga Soeratin akan muncul pemain-pemain yang kelak mampu memperkuat level lebih tinggi, termasuk tim nasional.

Jangan Semua Talenta Harus Hijrah ke Jakarta

Berti juga menyoroti persoalan klasik sepak bola Indonesia sebagai negara kepulauan.

Menurut dia, pembinaan usia muda seharusnya tidak seluruhnya berpusat di Jakarta. Sentra-sentra sepak bola perlu diperkuat di berbagai daerah sehingga anak-anak bisa berkembang di lingkungan mereka sendiri.

“Indonesia adalah negara kepulauan. Sementara ini pemain dari Papua untuk tumbuh berkembang harus terbang ke Jakarta. Bayangkan pengorbanannya, sekolah dan segala macam harus dikorbankan,” katanya.

Karena itu, ia mendorong desentralisasi pembinaan sepak bola melalui sentra-sentra sepak bola di berbagai wilayah Indonesia.

Dengan sistem tersebut, pemain berbakat dapat berkembang di daerahnya masing-masing, sementara ketika tim nasional membutuhkan mereka, database pemain dari sentra-sentra tersebut dapat menjadi sumber pencarian talenta.

Gagasan itu, menurut Berti, bukan hal baru. Ia pernah menyampaikan pemikiran serupa ketika berdiskusi dengan pemerintah mengenai pembinaan sepak bola nasional.

Pelatih UMS Akui Banyak Kekurangan

Pelatih UMS Habibi mengakui timnya tampil dengan keterbatasan.

Lima pemain utama tidak dapat tampil karena berbagai alasan. Ada yang harus mengikuti tes sekolah, mengalami cedera, hingga memiliki keperluan lain.

“Kami harus mendesain komposisi apa adanya. Tapi saya bersyukur anak-anak tetap menunjukkan semangat juang,” ujar Habibi.

Ia juga menilai masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi. Kondisi fisik pemain, pemahaman taktikal, organisasi permainan per unit, hingga kualitas suplai bola masih perlu dipertajam.

“Fitness-nya masih jauh, kemudian pemahaman taktikal juga harus kami perbaiki. Organisasi bermain per unit dan supply juga harus diperbaiki,” katanya.

Habibi menyebut pihaknya sudah berkomunikasi dengan para pemain dan berkomitmen melakukan pembenahan pada putaran kedua.

Targetnya bukan hanya memperbaiki posisi di kompetisi saat ini, tetapi juga menyiapkan pemain untuk menghadapi jenjang Liga Soeratin U17.

Menang 1-0, tetapi Perjuangan Belum Selesai

Kemenangan 1-0 atas Real Jakarta memang hanya menghadirkan tambahan tiga poin bagi UMS.

Namun, pertandingan di bawah terik matahari Pancoran itu memperlihatkan sesuatu yang lebih penting: anak-anak usia 15 tahun membutuhkan kompetisi yang rutin, fasilitas yang layak, pelatih yang terus belajar, serta lingkungan yang mendukung perkembangan mereka.

Sebab, sepak bola nasional tidak lahir tiba-tiba di stadion besar.

Ia tumbuh dari lapangan-lapangan seperti PSF Pancoran, dari pertandingan yang mungkin tidak disiarkan televisi, dari kaki-kaki kecil yang berlari mengejar bola di bawah panas matahari.

Dan dari situlah masa depan sepak bola Indonesia semestinya mulai dibangun.|Foto : Prass.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan