Intimate.co.id|JAKARTA– Lapangan sintetis PSF Pancoran, Jakarta Selatan, menjadi saksi bahwa dalam sepak bola, ukuran tubuh tak selalu menentukan besarnya pengaruh seorang pemain. Minggu (30/8/2026), di tengah persaingan pekan keenam Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, seorang pemain bertubuh kecil bernama Nabil El Nino justru hadir sebagai pembeda.
Pertandingan antara BTC dan Satria Sanggeni di Lapangan 2 PSF Pancoran yang dimulai pukul 10.10 WIB itu berjalan dalam tensi tinggi selama 2 x 35 menit. Kedua tim saling melancarkan serangan, mencoba mencari celah di antara rapatnya pertahanan lawan.
BTC, yang dikelola Manajer Risat Sucahyo dengan Head Coach Rico Berliani, datang dengan tekad menjaga ritme permainan. Di seberang lapangan, Satria Sanggeni yang dimanajeri Edwar tampil di bawah arahan Head Coach Desri, bersama asisten pelatih Sahrul dan Kidmen Sugianto.
Pertandingan dipimpin wasit Jawahir dengan Sigit sebagai asisten wasit pertama dan Iswadi sebagai asisten wasit kedua.
Gol pertama dalam pertandingan itu lahir dari kaki M. Andika Al-Hakim. Mengenakan nomor punggung 9, pemain Satria Sanggeni tersebut berhasil menjebol gawang BTC yang dikawal Rasyid Shabran Sucahyo pada menit ke-49.
Namun, BTC tak tinggal diam. Mereka terus menekan dan akhirnya menemukan jalan untuk menyamakan kedudukan. Ibnu Fahri Alhafizh, pemain bernomor punggung 19, sukses mengirim bola ke gawang Satria Sanggeni yang dijaga Muhammad Khowen Labib pada menit ke-60.
Skor kembali imbang. Pertandingan pun seperti dimulai dari awal.
Saat waktu pertandingan semakin menipis, muncul sosok yang tak banyak diberi keuntungan oleh ukuran fisiknya. Nabil El Nino, dengan nomor punggung 24, menunjukkan bahwa kelincahan bisa menjadi senjata yang jauh lebih tajam daripada postur.
Dengan keberanian membawa bola dan kemampuan menggiringnya melewati tekanan, El Nino menemukan ruang menuju pertahanan BTC. Pada menit ke-68, aksinya berujung gol. Bola bersarang di gawang BTC dan sekaligus membawa Satria Sanggeni kembali unggul menjelang peluit akhir.
Gol itu menjadi pembeda. Satria Sanggeni pun menutup pertandingan dengan kemenangan 2-1 dan membawa pulang tiga poin penting dari Pancoran.
Pertandingan juga berlangsung dengan keras, tetapi masih dalam batas persaingan sepak bola. Wasit Jawahir mengeluarkan kartu kuning untuk dua pemain Satria Sanggeni, yakni Ahmad Adly Febrian Syah pada menit ke-41 dan Firsyal Vargas pada menit ke-65. Dari kubu BTC, Muhammad Albani menerima kartu kuning pada menit ke-12.
Bagi Pelatih Satria Sanggeni, Desri, kemenangan tersebut merupakan buah dari perjuangan anak-anak asuhnya yang tetap berusaha tampil maksimal meski beberapa pemain sedang mengalami kendala cedera.
“Anak-anak bisa tampil baik walaupun ada beberapa yang sedang cedera. Alhamdulillah, untuk pekan ini kami bisa berkumpul hampir 90 persen. Kami bersyukur bisa mendapatkan tiga poin,” ujar Desri.
Ia menegaskan bahwa kemenangan tersebut harus menjadi pijakan, bukan alasan untuk cepat puas. Satria Sanggeni masih memiliki perjalanan panjang dan akan berusaha tampil lebih fokus pada pertandingan-pertandingan berikutnya.
Sejak awal mengikuti Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2026, kata Desri, timnya memang tidak memasang target berlebihan. Namun, ambisi untuk menutup putaran pertama di papan atas tetap menjadi pegangan.
“Target kami tidak muluk-muluk. Di putaran pertama, kami berharap bisa berada di posisi tiga,” katanya.
Di kubu BTC, kekalahan ini meninggalkan pekerjaan rumah yang cukup jelas. Head Coach Rico Berliani mengapresiasi perjuangan para pemainnya, tetapi mengakui penyelesaian akhir masih menjadi persoalan utama.
“Anak-anak sudah berjuang. Kami menyerang berkali-kali, tetapi finishing kami masih kurang, bahkan sangat kurang. Itu yang menjadi perhatian kami,” ujar Rico.
Selain penyelesaian akhir, Rico juga menyoroti persoalan transisi permainan dan kondisi fisik pemain. BTC membawa sejumlah pemain kelahiran 2010, sementara beberapa pemain lainnya juga harus membagi waktu dengan agenda futsal dan aktivitas sekolah.
Kondisi tersebut, menurut Rico, menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kebugaran dan konsistensi tim. Namun, ia memastikan BTC akan tetap melakukan evaluasi.
“Finishing, transisi, dan kondisi fisik menjadi pekerjaan rumah kami. Ke depan, itu yang akan terus kami perbaiki,” katanya.
Sepak bola kelompok usia muda memang selalu menyimpan cerita lebih dari sekadar angka di papan skor. Di Pancoran, sore itu, BTC belajar tentang peluang yang belum mampu diselesaikan. Sementara Satria Sanggeni pulang dengan keyakinan baru.
Dan di antara derap langkah para pemain muda, Nabil El Nino memberi satu pengingat sederhana: di lapangan hijau, tubuh boleh kecil, tetapi keberanian untuk membawa bola, mengambil risiko, dan menentukan pertandingan bisa tumbuh sebesar apa pun.|Foto : Moh.AminChandra.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















