Intimate.co.id|JAKARTA — Bagi Simon Martheunius, musik bukan sekadar bunyi yang lahir dari panggung. Musik adalah perjalanan panjang yang mempertemukan orang-orang dengan kegemaran yang sama, sekaligus ruang untuk tumbuh, berprestasi, dan saling menguatkan.
Pria yang berdomisili di Tangerang itu mulai mengenal musik sejak duduk di kelas 3 SMP. Dari proses panjang tersebut, Simon kemudian aktif membentuk dan mengembangkan sejumlah band hingga akhirnya menggagas Indonesia Band Community (IBC).
Perjalanan Simon di dunia musik juga tidak lepas dari keluarganya. Ia pernah membentuk Cavolte Band pada periode 2012-2017 yang melibatkan dua anaknya, Davin Yehezkiel sebagai drummer dan Charvel Yoel sebagai keyboardis.
Dari sana, perjalanan bermusik terus berkembang. Davin kemudian memiliki Elmental Band, sementara Charvel tergabung dalam Go Tunes Band. Hingga kini, Simon telah melahirkan lima band.
Sejumlah prestasi pun berhasil diraih. Salah satunya ketika Charvel Yoel terlibat dalam proyek Erwin Gutawa, termasuk konser 5 Anak di Atas Rata-Rata.
Namun, pengalaman panjang tersebut justru membuat Simon melihat bahwa dunia band tidak seharusnya hanya tentang siapa yang menjadi juara.
Dari kegelisahan itulah IBC lahir.
IBC bermula pada 2024 dari sebuah grup WhatsApp yang beranggotakan peserta program lomba musik. Saat itu, anggotanya baru sekitar 10 band. Perlahan, komunitas tersebut berkembang menjadi wadah yang lebih besar untuk mempertemukan band-band dengan hobi dan semangat berprestasi yang sama.
“Pada umumnya lebih terlihat persaingan ketika ada di atas panggung. Namun, dengan adanya wadah IBC ini, kami lebih mengusung persahabatan ketika sudah tidak lagi berkompetisi,” ujar Simon.
Gagasan sederhana itu ternyata mendapat sambutan luas. Kini, IBC telah memiliki sekitar 100 band yang tersebar di Pulau Jawa.
Bagi Simon, kompetisi bukan alasan untuk membuat para musisi muda saling berjauhan. Sebaliknya, kompetisi justru dapat menjadi pintu untuk membangun jaringan, bertukar pengalaman, dan berkembang bersama.
Di dalam IBC, para anggota dapat berbagi informasi mengenai perkembangan band, bertukar pengalaman, hingga mendapatkan informasi berbagai kegiatan dan event musik.
Salah satu pencapaian yang membanggakan datang dari ajang Band Academy Indosiar. Dari 30 finalis, sekitar 80 persen merupakan anggota IBC. Bahkan, posisi juara 1, 2, dan 3 juga berhasil diraih oleh anggota komunitas tersebut.
Bagi Simon, capaian itu menjadi bukti bahwa sebuah komunitas dapat menjadi kekuatan ketika anggotanya tidak hanya mengejar kemenangan pribadi, tetapi juga saling mendukung.
Ke depan, IBC tidak ingin berhenti sebagai tempat berkumpul. Simon dan para anggota memiliki misi untuk membawa komunitas tersebut memasuki tahap berikutnya, salah satunya melalui karya musik.
Rencana awal yang tengah disiapkan adalah meluncurkan single kompilasi yang melibatkan para anggota IBC yang telah memiliki karya.
Jika terealisasi, proyek tersebut bukan hanya menjadi rekaman musik, tetapi juga semacam penanda perjalanan sebuah komunitas yang tumbuh dari percakapan sederhana di grup WhatsApp menjadi rumah bagi sekitar 100 band.
Semangat itu pula yang akan dibawa dalam acara “Senandung RASA di Stage Broadway The Flavor Bliss Alam Sutera” yang digelar IBC pada Sabtu, 12 September 2026, mulai pukul 13.00 hingga selesai.
Acara tersebut menjadi ruang bagi para band anggota IBC untuk tampil, bertemu, dan merayakan musik tanpa harus selalu melihat panggung sebagai arena persaingan.
Sebab, bagi Simon Martheunius, kemenangan terbesar sebuah band barangkali bukan hanya ketika namanya disebut sebagai juara. Ada kemenangan lain yang tidak kalah penting: ketika setelah lampu panggung padam, para musisi masih bisa pulang sebagai sahabat.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















