Intimate.co.id|JAKARTA — Momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dapat menjadi saat yang tepat untuk melihat kembali arah pembinaan sepak bola usia muda Indonesia. Di tengah ambisi membawa tim nasional Indonesia ke Piala Dunia 2030, persoalan mendasar mengenai pembinaan pemain muda masih menjadi pekerjaan rumah.
Pengamat sepak bola senior yang dikenal dengan nama mBah Coco menyoroti pola pembinaan usia muda yang dinilainya belum berjalan secara berkelanjutan. Salah satu persoalan yang disorot adalah dugaan penggunaan pola outsourcing dalam pengelolaan tim Elite Pro Academy (EPA) sejumlah klub.
Padahal, EPA merupakan kompetisi pembinaan usia muda yang dirancang sebagai bagian dari ekosistem sepak bola profesional. Dalam beberapa musim terakhir, kompetisi EPA Super League mencakup kelompok U-16, U-18, dan U-20. Pada musim 2025/2026, kompetisi tersebut bahkan telah menyelesaikan rangkaian pertandingan di ketiga kelompok umur tersebut.
Menurut mBah Coco, keberadaan kompetisi saja tidak cukup. Klub seharusnya membangun sistem pembinaan sendiri sejak usia muda, mulai dari pelatih, kebugaran, psikologi, pemahaman orang tua, pendidikan tentang aturan permainan hingga manajemen klub.
Ia menyebut enam unsur yang perlu diperhatikan dalam pembangunan youth development, yakni coaching, fitness, parents, refereeing, psychology, dan club management.
“Sepak bola itu mimpinya anak-anak miskin,” demikian kenangan mBah Coco terhadap pernyataan legenda sepak bola Brasil, Pele, ketika keduanya bertemu di Birmingham pada 1995.
Bagi mBah Coco, kalimat tersebut masih relevan hingga kini. Menurut dia, mimpi tersebut harus ditopang tata kelola yang serius dan investasi jangka panjang.
Bukan Sekadar Membentuk Tim EPA
Dalam pandangan mBah Coco, klub profesional seharusnya tidak memandang EPA sebatas kewajiban mengikuti kompetisi. Akademi mestinya menjadi bagian dari investasi klub untuk menghasilkan pemain yang suatu saat dapat memperkuat tim utama ataupun tim nasional.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sistem pembinaan di sejumlah negara Asia seperti Jepang, Qatar, Uzbekistan, dan Vietnam yang dinilainya mampu membangun jalur pemain muda secara lebih terstruktur.
Masalah lain yang disorot adalah kesinambungan karier pemain setelah membela tim nasional kelompok usia. Mbah Coco mempertanyakan nasib pemain yang pernah memperkuat tim Indonesia U-17 pada Piala Dunia U-17 2023 serta pemain Indonesia U-20.
Pertanyaan besarnya adalah apakah para pemain tersebut memperoleh jalur yang jelas menuju sepak bola profesional setelah meninggalkan tim nasional kelompok umur.
“Ke mana para pemain young guns itu setelah membela tim nasional kelompok umur?” menjadi salah satu pertanyaan yang diajukan mBah Coco.
Dugaan Pola “Outsourcing”
Kritik paling tajam diarahkan kepada dugaan penggunaan pola outsourcing dalam pemenuhan skuad EPA.
Mbah Coco mengklaim menemukan indikasi bahwa sejumlah klub tidak sepenuhnya membangun akademi sendiri, melainkan menggandeng sekolah sepak bola, klub amatir, atau akademi lain untuk memenuhi kebutuhan pemain usia muda.
Ia menyebut beberapa klub, antara lain Persik Kediri, Dewa United, Garudayaksa FC, dan Persita Tangerang, sebagai klub yang menurut pengamatannya perlu mendapat perhatian dalam persoalan tersebut.
Namun, tudingan tersebut perlu dibedakan dari fakta resmi kompetisi. Data I.League untuk EPA Super League 2025/2026 menunjukkan bahwa Persik, Dewa United, dan Persita memang tercatat memiliki tim U-16 dan U-18 dalam kompetisi tersebut. Persik U-16 bahkan menjadi juara EPA Super League U-16 musim tersebut.
Karena itu, dugaan mengenai apakah sebuah klub benar-benar mengelola akademinya sendiri atau menggunakan pihak ketiga membutuhkan pembuktian lebih lanjut, termasuk dokumen kerja sama, struktur akademi, kontrak pemain, serta penjelasan resmi klub dan operator kompetisi.
Persoalan tersebut penting karena pembinaan pemain muda bukan sekadar persoalan memenuhi jumlah peserta kompetisi. Yang lebih penting adalah memastikan pemain memperoleh latihan berkualitas, menit bermain yang cukup, evaluasi performa, pendampingan psikologis, serta jalur promosi menuju sepak bola profesional.
Kompetisi Harus Melahirkan Pemain Nasional
Mbah Coco mempertanyakan orientasi kompetisi kasta tertinggi Indonesia jika klub lebih berfokus mengejar prestasi jangka pendek.
Menurut dia, kompetisi profesional semestinya tidak hanya menghasilkan juara, tetapi juga menjadi sumber pemain bagi tim nasional.
Kekhawatiran itu menjadi relevan ketika EPA Super League terus dikembangkan. Pada musim 2025/2026, kompetisi EPA U-16, U-18, dan U-20 berlangsung dengan sistem kompetisi yang terstruktur. Persik U-16, Malut United U-18, dan Persija U-20 menjadi juara pada masing-masing kategori.
Artinya, tantangan berikutnya bukan sekadar menyelenggarakan kompetisi, tetapi memastikan pemain terbaik dari kompetisi tersebut memiliki jalan menuju tim senior.
Mbah Coco juga menilai klub harus memiliki pusat latihan, fasilitas kebugaran, asrama, tenaga kepelatihan, serta sistem pemantauan pemain yang berkelanjutan.
Ia menyebut empat aspek utama yang harus menjadi perhatian ketika mencari pemain muda berbakat, yakni teknik, kecepatan, kepribadian atau mental, serta kecerdasan.
Dari EPA ke Tim Nasional
Persoalan kesinambungan menjadi semakin penting karena tim nasional Indonesia membutuhkan regenerasi pemain.
Jika pembinaan usia muda hanya berhenti pada kompetisi U-16, U-18, atau U-20, pemain akan menghadapi ruang kosong ketika memasuki usia senior. Padahal, tujuan akhir pembinaan bukan sekadar memenangkan kompetisi usia muda, melainkan menghasilkan pemain profesional yang mampu bersaing di level tertinggi.
Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru Ferry Paulus sebelumnya juga menegaskan EPA kembali mempertandingkan tiga kelompok usia, U-16, U-18, dan U-20, dengan durasi kompetisi yang diperpanjang. Ia menyebut penyelenggara juga berinteraksi dengan konsultan untuk memperbaiki kompetisi akar rumput.
Dengan demikian, evaluasi terhadap EPA semestinya tidak berhenti pada hasil pertandingan dan klasemen. PSSI dan I.League perlu mengukur berapa banyak lulusan EPA yang naik ke tim utama, berapa yang mendapat kontrak profesional, serta berapa yang kemudian memperkuat tim nasional.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembinaan bukan hanya jumlah akademi atau banyaknya pertandingan.
Ukuran terpentingnya adalah berapa banyak anak Indonesia yang mendapatkan pembinaan secara benar, berkembang secara berkelanjutan, dan akhirnya menjadi pemain profesional serta pemain tim nasional.
Mimpi anak-anak terhadap sepak bola membutuhkan lebih dari sekadar seleksi dan kompetisi. Mimpi itu membutuhkan sistem yang transparan, pembinaan yang konsisten, dan klub yang benar-benar bersedia berinvestasi pada masa depan pemain.
Di situlah pekerjaan rumah PSSI dan klub-klub profesional Indonesia: memastikan pembinaan usia muda tidak sekadar menjadi kewajiban regulasi, melainkan menjadi jantung pembangunan sepak bola nasional.
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















