banner 728x250

Seleksi Taruna Akpol Berbasis Evidence, Wakapolri Dorong Pemeriksaan Kesehatan Lebih Akurat

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|SEMARANG— Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komjen Pol. Prof. Dedi Prasetyo, meninjau langsung pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi tingkat pusat penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akpol, Semarang, Senin (7/7).

Peninjauan dilakukan bersama jajaran Lemdiklat Polri, Akpol, Pusdokkes Polri, dan SSDM Polri untuk memastikan seluruh tahapan pemeriksaan berlangsung profesional, transparan, akuntabel, serta memanfaatkan teknologi kedokteran modern guna menghasilkan proses seleksi yang objektif dan berbasis bukti ilmiah.

banner 325x300

Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti pemeriksaan dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Satu peserta mengundurkan diri sebelum tahapan pemeriksaan kesehatan dimulai. Para peserta menjalani pemeriksaan di 12 stasiun spesialistik, mulai dari mata, THT, gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi, radiologi dan paru, kulit, hingga pemeriksaan kepadatan tulang.

Dalam peninjauannya, Dedi Prasetyo memberikan perhatian khusus terhadap penggunaan teknologi medis, seperti Heart Rate Variability (HRV) untuk mengevaluasi fungsi dan ketahanan jantung secara lebih komprehensif. Ia mengarahkan agar pemeriksaan jantung dilakukan tidak hanya saat kondisi istirahat, tetapi juga setelah aktivitas fisik sehingga kemampuan jantung menghadapi beban selama pendidikan dapat dinilai lebih akurat.

Selain itu, Wakapolri meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital untuk mengukur kepadatan tulang. Pemeriksaan tersebut dinilai penting sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi cedera maupun risiko patah tulang yang dapat memengaruhi kesiapan peserta selama pendidikan kepolisian.

Pemeriksaan kapasitas paru melalui pengukuran VO₂ Max juga menjadi perhatian untuk memastikan daya tahan fisik dan fungsi pernapasan calon taruna dan taruni. Seluruh hasil pemeriksaan digital tersebut dipadukan dengan pemeriksaan spesialistik lainnya sebagai dasar pengambilan keputusan yang objektif dan akurat.

Karokespol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol. I Gusti Gede Maha Andikajaya, mengatakan pemeriksaan kesehatan kini tidak lagi hanya mengandalkan metode klinis konvensional. Menurutnya, integrasi teknologi modern memungkinkan tim dokter memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta, mulai dari fungsi jantung, kepadatan tulang, hingga kapasitas aerobik.

Wakapolri juga meminta pemeriksaan dilakukan secara ketat terhadap riwayat penyakit bawaan maupun gangguan saraf, termasuk epilepsi, agar dapat dideteksi sejak dini. Khusus calon taruni, ia menginstruksikan pemeriksaan ulang obstetri dan ginekologi setelah pengumuman kelulusan sebagai langkah memastikan seluruh peserta benar-benar memenuhi standar kesehatan sebelum menjalani pendidikan.

Dedi Prasetyo turut mendorong Pusdokkes Polri untuk terus memperbarui peralatan medis serta mengadopsi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. Menurutnya, modernisasi instrumen pemeriksaan menjadi bagian penting dalam membangun sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi, transparan, dan mampu menghasilkan calon perwira berkualitas.

Melalui pengawasan langsung terhadap pelaksanaan Rikkes Spesialistik, Polri menegaskan komitmennya menjalankan rekrutmen yang bersih, transparan, akuntabel, dan humanis (BETAH). Pendekatan berbasis evidence-based medicine diharapkan mampu melahirkan perwira muda yang sehat, tangguh, berintegritas, serta siap menghadapi tantangan tugas kepolisian di masa depan.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intinmate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan