Intimate.co.id|JAKARTA -| Ada momen yang hanya berlangsung sepersekian detik, tetapi dapat dikenang sepanjang masa. Dalam dunia fotografi olahraga, ketepatan menangkap momen seperti itu bukan semata-mata soal kecepatan menekan tombol kamera. Ada kepekaan membaca gerak, kecermatan memilih sudut, dan intuisi untuk mengetahui kapan sebuah peristiwa mencapai puncaknya.
Bagi Tjandra Moh. Amin, fotografer profesional yang lama berkecimpung dalam peliputan olahraga dan musik, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan kreatifnya. Kamera bukan sekadar alat untuk merekam peristiwa, melainkan medium untuk memindahkan apa yang dilihat mata ke dalam gambar yang memiliki daya hidup.
Salah satu karya yang memperlihatkan kepekaan itu adalah foto gol salto Widodo C Putra saat membela tim nasional Indonesia melawan Kuwait dalam Piala Asia 1996 di Uni Emirat Arab. Gol yang tercipta pada 4 Desember 1996 tersebut hingga kini dikenang sebagai salah satu momen ikonik dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Ketika itu, Tjandra bertugas meliput turnamen tersebut untuk Tabloid BOLA. Dalam pertandingan di Stadion Sheikh Zayed, Abu Dhabi, Widodo menyambut umpan Ronny Wabia dengan tendangan salto yang menghasilkan gol spektakuler pada menit ke-20.
Di tengah cepatnya pergerakan pemain dan ketatnya pertandingan, Tjandra berhasil mengabadikan momen tersebut. Foto gol salto Widodo kemudian terbit di Tabloid BOLA edisi 665, 13 Desember 1996, dan menjadi salah satu dokumentasi visual yang melekat dalam ingatan penggemar sepak bola Tanah Air.
Bagi Yoseph Erwiyantoro, yang akrab disapa mBah Coco, momen itu memperlihatkan keistimewaan Tjandra dalam membaca gerakan dan menentukan waktu pemotretan.
“Bagi saya, Tjandra seperti ditakdirkan berada di posisi yang tepat untuk mengabadikan gol salto Widodo. Hanya dalam sepersekian detik, sebuah momen bersejarah bisa tertangkap kamera,” tutur mBah Coco mengenang pengalaman tersebut di Markas Kandang Ayam Rawamangun Jakarta Timur,Kamis(29/10)

Ketika sepersekian detik menjadi sejarah
Memotret olahraga, terutama sepak bola dan balap sepeda, menuntut ketepatan yang tidak sederhana. Gerakan pemain, arah bola, perubahan posisi tubuh, hingga dinamika lintasan berlangsung begitu cepat. Sedikit terlambat menekan tombol rana, sudut yang diharapkan bisa lenyap tanpa kesempatan untuk diulang.
“Kalau kehilangan sedetik saja dalam sepak bola atau balap sepeda, momennya bisa hilang selamanya. Termasuk keindahan gerakan yang paling sulit sekalipun,” ujar mBah Coco.
Di situlah, menurut dia, letak keunggulan seorang fotografer olahraga. Bukan hanya kemampuan mengoperasikan kamera, melainkan juga kecakapan membaca situasi sebelum momen penting benar-benar terjadi.
Tjandra dinilai memiliki kepekaan tersebut. Dalam berbagai cabang olahraga yang diliputnya, ia kerap menghadirkan sudut pandang yang berbeda. Gerakan atlet tidak berhenti sebagai catatan pertandingan, tetapi tampil sebagai komposisi visual yang menyimpan ketegangan, keindahan, dan cerita.
Foto gol Widodo menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah gambar dapat melampaui fungsi dokumentasi. Ia mengabadikan sebuah peristiwa olahraga sekaligus menyimpan ingatan kolektif tentang kemampuan sepak bola Indonesia bersaing di panggung Asia.
Dari lapangan olahraga ke kehidupan Slank
Kecakapan Tjandra tidak terbatas pada fotografi olahraga. Ia juga memiliki perhatian besar terhadap dunia musik, khususnya perjalanan grup band Slank.
Perhatian itu diwujudkannya melalui buku fotografi Tanpa Batas, yang merekam keseharian para personel Slank selama tujuh tahun, pada 2000–2007, ketika band tersebut berkegiatan di markasnya di Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Melalui dokumentasi tersebut, Tjandra tidak sekadar menghadirkan potret para musisi di atas panggung. Ia merekam sisi keseharian mereka, suasana di balik proses bermusik, serta perjalanan sebuah kelompok musik yang tumbuh bersama penggemarnya.
Bagi mBah Coco, buku tersebut memperlihatkan sisi lain Tjandra sebagai fotografer yang tekun mendokumentasikan perjalanan subyeknya dalam rentang waktu panjang.
Seorang jurnalis atau fotografer, menurut mBah Coco, pada akhirnya meninggalkan warisan melalui karya-karya yang terus dibaca, dilihat, dan dikenang lintas generasi. Dalam fotografi, warisan itu dapat hadir dalam bentuk buku, arsip visual, maupun pameran yang mempertemukan karya dengan publik.
Spirit de Indonesia, merayakan perjalanan melalui foto
Perjalanan panjang Tjandra kini berlanjut melalui pameran foto tunggal bertajuk Spirit de Indonesia. Pameran tersebut dijadwalkan berlangsung pada 6–11 November 2026 di Doss, Mal Ratu Plaza, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Pameran ini menjadi kesempatan bagi Tjandra untuk membawa karya-karyanya ke ruang apresiasi publik dalam format yang berbeda. Jika selama bertahun-tahun fotonya hadir melalui pemberitaan olahraga, dokumentasi musik, dan buku, pameran tunggal memberinya ruang untuk menyusun karya sebagai pengalaman visual yang lebih utuh.
Menurut mBah Coco, perjalanan Tjandra dalam menyiapkan pameran itu juga mencerminkan kemandiriannya sebagai seniman. Ia membangun jejaring, mencari tempat penyelenggaraan, serta mengupayakan dukungan dan sponsor untuk mewujudkan pameran tersebut.
Di mata mBah Coco, Tjandra bukan hanya fotografer yang mampu merekam peristiwa, melainkan juga seniman yang memiliki kepekaan terhadap estetika. Foto-fotonya menawarkan lebih dari sekadar objek yang dipotret; ada pilihan sudut, komposisi, dan momen yang mengajak orang memandang sesuatu dengan cara berbeda.
Kamera Tjandra telah merekam banyak cerita: dari gol salto Widodo C Putra yang melegenda, kehidupan sehari-hari Slank dalam buku Tanpa Batas,hingga perjalanan kreatif yang kini berlanjut melalui Spirit de Indonesia.
Ketiganya memperlihatkan benang merah yang sama: ketekunan mengamati, keberanian menentukan sudut pandang, dan kesediaan menjaga sebuah momen agar tidak hilang ditelan waktu.
Sebab, bagi seorang fotografer, karya terbaik bukan hanya gambar yang indah dipandang. Ia adalah gambar yang mampu menyimpan cerita, membangkitkan ingatan, dan membuat orang kembali berhenti sejenak untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.[**]
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












