Kemenperin Bidik Industri Besar, Tepung Lokal Disiapkan Jadi Penantang Bahan Baku Impor

Intimate.co.id|JAKARTA– Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengembangan bahan baku pangan lokal sebagai strategi memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Ketua Tim Makanan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kemenperin, Indra Akbar Dilana, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan bahan baku berbasis komoditas lokal, seperti singkong, talas, porang, dan sagu.

Potensi tersebut dapat dikembangkan menjadi produk antara (intermediate product), terutama tepung lokal, yang berfungsi sebagai bahan pendukung bagi industri makanan dan minuman berskala besar.

“Memang ada beberapa komoditas yang sifatnya tidak tergantikan. Namun, kita bisa menjadi komplementer dengan formulasi yang tepat dan efisien, sehingga industri besar bisa menggunakan produk-produk lokal,” ujar Indra dalam sebuah diskusi di Jakarta,Kamis(5/11)

Menurut Indra, tantangan pengembangan bahan baku lokal tidak semata-mata terletak pada peningkatan produksi. Persoalan yang lebih mendasar adalah membangun konektivitas antara industri kecil dan menengah (IKM) sebagai produsen dengan industri besar sebagai pengguna bahan baku.

Ia mencontohkan tepung sagu dari Meranti dan Cirebon yang memiliki harga sekitar Rp6.000 per kilogram. Produk tersebut dinilai memiliki peluang untuk dimanfaatkan industri besar, tetapi perlu didukung komunikasi pasar dan fasilitasi kemitraan agar produsen lokal dapat terhubung dengan calon pembeli.

Kemitraan dan Efisiensi Bahan Baku

Indra juga mengungkapkan pengalaman pengembangan sentra pengolahan tepung lokal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pada tahap awal, pemerintah menghadapi tantangan untuk mencari industri besar yang bersedia menyerap produk hasil olahan IKM.

Melalui kegiatan temu bisnis dan fasilitasi kemitraan, akses pasar mulai terbuka. Namun, setelah pasar terbentuk, tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan dengan harga yang kompetitif.

Perbedaan harga singkong di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi efisiensi produksi. Indra mencontohkan harga singkong di Lampung yang sempat berada di kisaran Rp800 per kilogram, sedangkan di Lombok Tengah mencapai sekitar Rp1.800 per kilogram.

Kondisi tersebut mendorong pelaku IKM untuk mencari sumber bahan baku yang lebih efisien agar mampu menjaga daya saing produk.

“Fungsi kami adalah mencari penghasil bahan baku, mempertemukan pelaku IKM dengan calon industri besar, serta memastikan rantai pasoknya bisa berjalan dengan efisien,” jelasnya.

Buka Peluang Pasar Ekspor

Indra menegaskan, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku lokal sekaligus memperkuat struktur industri pangan nasional.

Melalui pendekatan tersebut, IKM diharapkan tidak hanya menjadi pemasok bahan baku bagi industri domestik, tetapi juga berkembang sebagai produsen produk antara yang memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.

Selain memperluas penyerapan di pasar dalam negeri, pemerintah juga membuka peluang bagi produk antara berbasis bahan baku lokal untuk menembus pasar ekspor.

Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong pemanfaatan potensi komoditas pangan daerah secara lebih optimal, memperkuat kemitraan lintas skala industri, serta membangun rantai pasok pangan nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan.[**]

Pewarta : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan