banner 728x250

Drakhma Menyalakan Api Lama, Menggubah Masa Depan dalam Tiga Lagu Baru

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA— Waktu boleh terus bergerak, tetapi musik yang lahir dari ketulusan selalu menemukan jalannya untuk kembali. Itulah yang kini dibuktikan Drakhma. Band rock legendaris Indonesia itu kembali membuka lembaran baru lewat sebuah mini album berisi tiga lagu anyar yang menjadi penanda bahwa semangat berkarya mereka tak pernah benar-benar padam.

Setelah menghidupkan kembali katalog lagu-lagu klasik di berbagai platform digital, Drakhma kini memilih melangkah lebih jauh. Bukan sekadar merawat nostalgia, mereka menghadirkan karya baru yang lahir dari tangan tiga personel asli yang masih aktif, yakni Ricky Basuki (vokal), Gideon Tengker (gitar), dan Dani Mamesah (drum).

banner 325x300

Mini album tersebut memuat tiga lagu berjudul “Jumpa Lagi”, “Jangan Ragu”, dan “Dari Hari ke Hari”. Ketiganya menjadi potret perjalanan panjang sebuah band yang tetap setia pada identitas musikalnya, sekaligus membuktikan bahwa kreativitas tak mengenal batas usia.

Di antara ketiga lagu itu, “Jumpa Lagi” menyimpan kisah paling emosional. Lagu ciptaan almarhum Dodo Zakaria dengan lirik karya Dani Mamesah itu akhirnya diperdengarkan kepada publik setelah lama tersimpan. Kehadirannya menjadi penghormatan bagi sosok Dodo Zakaria, salah satu fondasi penting Drakhma sekaligus maestro musik Indonesia yang jejak karyanya masih terus dikenang.

Berbeda dengan proses produksi sebelumnya yang melibatkan lebih banyak personel, mini album kali ini lahir melalui pendekatan yang lebih modern. Perkembangan teknologi memungkinkan Ricky, Gideon, dan Dani menggarap materi secara mandiri tanpa bergantung pada formasi penuh. Namun, mereka tetap membuka ruang kolaborasi saat karya-karya tersebut nantinya dibawa ke atas panggung.

Nuansa emosional proyek ini semakin kuat dengan kembalinya Gilbert Sumendap. Musisi yang pernah menjadi produser Drakhma itu kembali memberi sentuhan kreatif melalui permainan drum di beberapa lagu. Kehadirannya menjadi simbol persahabatan panjang sekaligus kesinambungan perjalanan musikal yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Bagi penikmat musik era 1980-an, nama Drakhma bukan sekadar band. Mereka adalah bagian dari memori kolektif, menghadirkan warna rock yang dipadukan dengan jazz, pop, R&B, hingga brass section dalam sebuah karakter musikal yang berbeda dari zamannya.

Sejak melahirkan album “Hari Esok” (1980), “Citra Bahagia” (1982), hingga “Tiada Kusadari” (1984), Drakhma dikenal sebagai kelompok yang berani menabrak pakem. Keberanian itu pula yang membuat karya-karya mereka tetap dikenang lintas generasi.

Kini, mini album terbaru bukan sekadar penambahan katalog diskografi. Ia menjadi simbol bahwa perjalanan panjang Drakhma masih berlanjut, sekaligus penghormatan kepada para sahabat seperjuangan yang telah berpulang, terutama Dodo Zakaria dan Rudy Gagola.

Di tengah industri musik yang terus berubah mengikuti tren, Drakhma memilih bertahan dengan karakter yang telah mereka bangun sejak awal. Pilihan itu menjadi bukti bahwa karya yang lahir dari kejujuran artistik akan selalu memiliki tempat di hati pendengarnya.

Kembalinya Drakhma bukan hanya tentang nostalgia. Ini adalah pernyataan bahwa api kreativitas mereka masih menyala—menghubungkan kenangan generasi lama dengan rasa penasaran generasi baru terhadap salah satu nama penting dalam sejarah musik Indonesia.|Foto : Kin Sanubari

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan