Intimate.co.id|JAKARTA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka peluang berkolaborasi dengan Jazz Goes to Campus (JGTC) untuk menghadirkan rangkaian pertunjukan musik di lima wilayah Jakarta pada 2027.
Rencana tersebut disiapkan untuk menyambut dua momentum sekaligus, yakni penyelenggaraan JGTC ke-50 dan peringatan 500 tahun Jakarta.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan gagasan itu saat menjadi narasumber dalam konferensi pers The 49th Jazz Goes to Campus di Balai Kota Jakarta, Jumat (11/9/2026).
“JGTC tahun ini yang ke-49, tahun depan ketika ke-50 dan sekaligus Jakarta ke-500 tahun. Saya sudah sampaikan ke Mas Candra, bisa enggak main di 5 kota yang ada di Jakarta?” ujar Pramono.
Menurut Pramono, konsistensi JGTC selama hampir lima dekade menunjukkan kuatnya ekosistem musik sekaligus ruang kreativitas anak muda. Festival yang digagas mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia itu juga dinilai berhasil menjangkau penikmat musik lintas generasi.
“JGTC ini betul-betul sudah menjadi bagian dari perjalanan kota ini, perjalanan sebenarnya bangsa ini. Karena sebenarnya juga ditiru di berbagai kampus yang lain,” katanya.
Jazz dan Ruang Kreativitas
Pramono mengatakan Jakarta memiliki beragam potensi di sektor seni, budaya, musik, film, hingga olahraga yang dapat terus dikembangkan sebagai kekuatan kota.
Menurut dia, festival yang tumbuh dari komunitas dan generasi muda memiliki posisi penting dalam membangun ekosistem kreatif Jakarta.
“Pemprov DKI menyambut baik serta mengapresiasi penyelenggaraan JGTC ke-49 ini sebagai salah satu festival jazz tertua yang konsisten meramaikan ekosistem musik nasional,” ujar Pramono.
Selain memperluas penyelenggaraan ke lima wilayah Jakarta, Pemprov DKI juga menyambut gagasan untuk menghidupkan kembali Salemba sebagai salah satu lokasi bersejarah dalam perjalanan JGTC.
“Kita semua bernostalgia dengan Salemba. Kalau bisa main di Salemba, saya akan memberikan support sepenuhnya,” kata Pramono.
Penyelenggaraan JGTC ke-49 mengusung tema “Resonating Jazz Through Every Soul”. Festival ini tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga diarahkan untuk memperluas apresiasi terhadap jazz, mengembangkan talenta muda, serta mempertemukan komunitas dan pelaku industri musik.
Membumikan Jazz
Founder JGTC, Candra Darusman, menjelaskan bahwa sejak awal JGTC membawa misi “membumikan jazz”. Musik yang pada masa itu relatif dianggap eksklusif dibawa ke lingkungan kampus sehingga dapat lebih dekat dengan generasi muda.
Menurut Candra, karakter jazz yang memberikan ruang bagi improvisasi dan kebebasan berekspresi sejalan dengan semangat anak muda.
JGTC juga tengah mengembangkan City Series melalui konsep “Reviving Jakarta as the Capital of Jazz”. Konsep tersebut akan membawa semangat JGTC ke berbagai wilayah Jakarta.
Sementara itu, Ketua Badan Pengawas Forum Jazz Indonesia, Ciko Hindarto, menilai perjalanan panjang JGTC merupakan bagian dari investasi terhadap perkembangan musik jazz di Indonesia.
Penguatan komunitas dan pencarian talenta baru, menurut Ciko, perlu terus dilakukan agar regenerasi musisi jazz berjalan berkelanjutan.
“Jazz bukan musik orang tua, jazz adalah musik anak muda dan selalu muda,” ujar Ciko.
Ketua JGTC Andra Ahmad Daradjatun menambahkan, tema “Resonating Jazz Through Every Soul” membawa pesan bahwa jazz tidak hanya dipahami sebagai genre musik. Jazz juga memiliki nilai kolaborasi dan kebebasan berekspresi yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Ia berharap JGTC terus menjadi ruang bagi talenta muda untuk berkembang sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap musik jazz.(**)
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id


















