banner 728x250

Akademisi: Kritik Pembangunan Papua Tetap Diperlukan, Tapi Harus Berbasis Data

Dosen Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Syurya Muhammad Nur mengingatkan agar tulisan mengenai Papua tidak hanya berfokus pada persoalan dan konflik, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan serta proses pembenahan yang sedang berlangsung.,“Melihat Papua jangan melihat dari sisi buruk saja, lihat sisi baiknya. Papua sedang berbenah menjadi lebih baik. Namun dengan adanya narasi-narasi negatif, maka khalayak akan menyimpulkan negatif juga,” ujar Syurya, Selasa (8/9/2026).
banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co,id | Jakarta  — Narasi mengenai Papua dinilai memiliki pengaruh terhadap cara masyarakat memahami kondisi di wilayah tersebut. Karena itu, Dosen Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul Syurya Muhammad Nur mengingatkan agar tulisan mengenai Papua tidak hanya berfokus pada persoalan dan konflik, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan serta proses pembenahan yang sedang berlangsung.

Pernyataan itu disampaikan Syurya sebagai tanggapan atas tulisan Socrates Yoman mengenai Papua.

banner 325x300

Menurut Syurya, sebuah tulisan yang dikonsumsi publik dapat membentuk persepsi tertentu, terutama ketika informasi yang disampaikan berulang kali menampilkan satu sisi persoalan.

“Melihat Papua jangan melihat dari sisi buruk saja, lihat sisi baiknya. Papua sedang berbenah menjadi lebih baik. Namun dengan adanya narasi-narasi negatif, maka khalayak akan menyimpulkan negatif juga,” ujar Syurya, Selasa (8/9/2026).

Ia mengatakan bukan berarti kritik terhadap pemerintah maupun pembangunan harus dihilangkan. Kritik justru diperlukan untuk memastikan kebijakan berjalan sesuai tujuan.

Namun, kritik tersebut menurutnya harus ditopang data yang valid serta disampaikan dengan cara yang konstruktif.

“Sebagai seorang penulis haruslah berdasarkan data-data valid yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” katanya.

Syurya juga berharap penulis yang berasal dari Papua dapat menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Menurutnya, pembahasan tentang daerah tidak cukup hanya mengungkap persoalan, tetapi juga perlu menghadirkan perspektif yang dapat membantu masyarakat memahami konteks secara lebih utuh.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan komunikasi politik. Syurya menyebut model jarum hipodermik sebagai salah satu pendekatan dalam teori propaganda politik yang menggambarkan kuatnya pengaruh pesan terhadap khalayak.

Dalam pandangannya, narasi yang terlalu negatif berisiko memengaruhi cara masyarakat melihat pemerintah dan kondisi Papua.

“Dan akhirnya akan memecah belah masyarakat di Papua dan membangun kebencian terhadap pemerintah,” ujarnya.

Syurya menilai komunikasi publik seharusnya diarahkan untuk memperkuat persatuan serta membuka ruang penyelesaian masalah. Apabila terdapat persoalan dalam pembangunan, ia mendorong agar kritik sekaligus disertai alternatif penyelesaian.

Ia menilai suasana damai menjadi salah satu prasyarat penting bagi keberlanjutan pembangunan. Kondisi yang harmonis memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas sosial dan ekonomi, sementara pemerintah dapat melanjutkan berbagai program pembangunan.

“Komunikasi politik yang dituangkan dalam tulisan bukunya justru memperkeruh dan merusak persatuan dan kesatuan serta perdamaian yang telah dibangun oleh saudara-saudara saya di Papua,” kata Syurya.

Ia pun menegaskan kembali pentingnya menjaga perdamaian dalam setiap pembahasan mengenai masa depan Papua.

“Kunci dalam membangun Papua adalah perdamaian dan harmonisasi yang telah dibangun sejak lama,” tegasnya.

 

Jurnalis: KelanaPeterson        Kontributor Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan