Intimate.co.id|JAKARTA — Bagi Teuku Chairul Wisal, sepak bola bukan semata-mata permainan untuk mengejar kemenangan dan mengoleksi trofi. Lebih dari itu, sepak bola adalah sekolah kehidupan yang membentuk keberanian, karakter, mentalitas, dan daya juang. Nilai-nilai itulah yang ingin ia wariskan kepada anak-anak didiknya di Sekolah Sepak Bola (SSB) Bintang Ragunan.
Sejak mendirikan SSB Bintang Ragunan pada 2013 bersama rekannya, Yunus, Teuku memegang prinsip sederhana: setiap anak berhak mendapatkan kesempatan belajar sepak bola, apa pun kemampuan awal dan latar belakang ekonominya.
Di tengah berkembangnya akademi sepak bola yang berlomba menjaring pemain-pemain berbakat, ia memilih jalan pembinaan yang tidak selalu mudah. Baginya, anak yang belum mahir mengolah bola pun layak mendapatkan tempat untuk belajar, berkembang, dan menemukan potensinya.
“Tujuan kita bukan sekadar mencari kemenangan atau mengumpulkan piala. Kita ingin anak-anak senang bermain bola, berkembang, kemudian mendapatkan pembinaan karakter melalui latihan dan pertandingan,” ujar Teuku dirumahnya di Komplek Kembang Larangan Kota Tangerang,Kamis(15/10)
Berangkat dari kecintaan kepada sepak bola
Kecintaan Teuku terhadap sepak bola tumbuh sejak kecil. Lahir dari keluarga sederhana, ia merasakan sendiri bagaimana olahraga ini membuka jalan bagi perkembangan dirinya, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ia mengawali perjalanan sepak bolanya bersama Indonesia Muda. Sebagai anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, mendapatkan sepatu bola bukan perkara mudah. Namun, dukungan para pelatih membuatnya tetap bertahan dan terus belajar.
Perjalanan itu kemudian membawanya memperkuat sejumlah tim, termasuk Jayakarta dan Persija Jakarta. Ia juga memperoleh beasiswa untuk kuliah di Perbanas melalui sepak bola, sembari meniti karier profesional di Bank BNI.
Pada masa itu, Teuku harus membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan latihan. Pengalaman tersebut mengajarkannya arti disiplin, pengorbanan, dan tanggung jawab.
Ia pernah mendapat kesempatan untuk menekuni jalur sepak bola profesional melalui kompetisi Galatama. Namun, ia memilih melanjutkan karier di dunia kerja tanpa sepenuhnya meninggalkan sepak bola.
Pengalaman panjang itulah yang kemudian membentuk pandangannya tentang pembinaan pemain muda. Ia menyadari bahwa sepak bola bukan hanya tentang siapa yang paling berbakat, melainkan juga tentang bagaimana seseorang dibentuk untuk menghadapi kehidupan.
Sekitar 2013, Yunus mengajaknya membangun kembali sekolah sepak bola. Ajakan itu bertemu dengan keinginan lama Teuku untuk membalas kebaikan sepak bola melalui berbagi ilmu kepada generasi berikutnya.
Dengan dukungan keluarga, termasuk adiknya, Cut Maya, yang membantu urusan administrasi, SSB Bintang Ragunan mulai berjalan. Pada masa awal, jumlah muridnya masih belasan anak. Mereka berlatih di sejumlah lapangan sebelum akhirnya mendapat kesempatan menggunakan fasilitas di kawasan Ragunan.
Pada periode perkembangannya, jumlah peserta didik bahkan mencapai sekitar 250 anak. Namun, perjalanan itu tidak selalu mulus. Perubahan ketersediaan lapangan membuat Bintang Ragunan harus berpindah-pindah tempat latihan.
Kini, kegiatan latihan menyesuaikan ketersediaan lapangan, termasuk di kawasan Kebagusan dan Sukatani. Bagi Teuku, keterbatasan fasilitas menjadi tantangan yang harus dihadapi tanpa mengorbankan tujuan utama pembinaan.
Sekolah sepak bola, bukan pabrik trofi
Hingga 2026, prinsip yang dipegang Teuku tidak berubah. Bintang Ragunan tetap memosisikan diri sebagai sekolah sepak bola yang mengutamakan proses belajar, bukan akademi yang hanya memilih pemain dengan kemampuan terbaik.
Menurut dia, akademi dan sekolah sepak bola memiliki orientasi pembinaan yang berbeda. Akademi umumnya mempunyai persyaratan fasilitas, tenaga pelatih, dan program pengembangan yang lebih lengkap. Sementara itu, SSB menjadi pintu masuk bagi anak-anak yang ingin mengenal sepak bola, termasuk mereka yang baru mulai belajar.
Karena itu, Bintang Ragunan membuka kesempatan bagi anak-anak dengan kemampuan yang beragam. Ada yang sudah mahir mengolah bola, ada pula yang masih perlu mempelajari teknik dasar.
Mereka dibina sesuai tahap perkembangan masing-masing. Pelatih tidak hanya memperhatikan teknik, tetapi juga kedisiplinan, keberanian mengambil keputusan, kerja sama, serta sikap ketika menghadapi tekanan.
“Kalau anak-anak baru belajar, jangan langsung dibebani tuntutan prestasi. Mereka harus menikmati prosesnya terlebih dahulu. Dari situ, kemampuan dan karakternya dibangun,” kata Teuku.
Prinsip tersebut juga diterapkan ketika tim mengikuti kompetisi. Bintang Ragunan mengikuti sejumlah ajang sesuai kelompok usia, termasuk Liga Jakarta U-17 dan kompetisi pembinaan lainnya.
Bagi Teuku, pertandingan merupakan ruang belajar yang tidak kalah penting dibandingkan latihan. Anak-anak dapat merasakan persaingan, memahami kekurangan, dan belajar bangkit ketika menghadapi kekalahan.
Ia tidak ingin kemenangan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Bahkan, ketika menghadapi lawan yang lebih kuat, kesempatan bermain tetap menjadi bagian penting dari pendidikan sepak bola.
Dalam kondisi tertentu, ia berupaya memberikan menit bermain kepada seluruh pemain yang masuk dalam susunan tim. Kesempatan itu diberikan dengan mempertimbangkan kondisi fisik, kebutuhan pertandingan, dan kemampuan masing-masing anak.
“Kalau hanya mengejar kemenangan, kita bisa memilih pemain yang sudah bagus saja. Namun, bagaimana dengan anak-anak yang masih belajar? Mereka juga membutuhkan kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.
Menjaga kesempatan bagi anak-anak dari keluarga sederhana
Salah satu hal yang paling dijaga Teuku adalah keterjangkauan biaya pembinaan.
Ia memahami betul bahwa tidak semua orang tua mampu membayar biaya latihan yang tinggi. Pengalaman masa kecilnya membuat ia tidak ingin anak-anak kehilangan kesempatan bermain sepak bola hanya karena keterbatasan ekonomi.
Ketika pandemi Covid-19 melanda, misalnya, kondisi keuangan keluarga dan pengelolaan SSB ikut terdampak. Kemampuan untuk memberikan dukungan kepada para pelatih pun terbatas.
Namun, Teuku bersama pengelola dan tim pelatih berusaha mencari jalan agar kegiatan pembinaan tetap berjalan. Dukungan dan pengertian di antara mereka menjadi modal penting untuk bertahan.
Kesamaan visi membuat sejumlah pelatih tetap bersama Bintang Ragunan sejak 2014 hingga sekarang. Bagi Teuku, kesetiaan itu bukan sekadar urusan pekerjaan, melainkan bukti bahwa mereka memiliki semangat yang sama dalam mendidik anak-anak.
Ia juga menyadari bahwa keterbatasan fasilitas membuat Bintang Ragunan tidak selalu bisa bersaing dengan akademi yang memiliki lapangan sendiri, fasilitas kebugaran lengkap, dan dukungan pengembangan pemain yang lebih besar.
Karena itu, ketika pemain menunjukkan bakat yang menonjol dan membutuhkan lingkungan pembinaan yang lebih sesuai dengan potensinya, Teuku membuka jalan bagi mereka untuk berkembang di tempat lain.
Ia tidak ingin masa depan seorang anak dibatasi oleh kebutuhan mempertahankan pemain di klubnya sendiri.
Sejumlah pemain binaan Bintang Ragunan telah mendapatkan kesempatan melanjutkan perjalanan sepak bola ke klub lain. Salah satunya Marcel, yang pernah memperoleh kesempatan menjalani pembinaan di Spanyol sebelum melanjutkan perjalanan kariernya di Indonesia.
Bagi Teuku, keberhasilan pemain didiknya mendapatkan kesempatan lebih besar merupakan bagian dari tujuan pembinaan, bukan alasan untuk menuntut imbalan atau pengakuan.

Teriakan di lapangan, pelajaran tentang keberanian
Di pinggir lapangan, Teuku dikenal vokal ketika mendampingi anak-anak berlatih maupun bertanding. Namun, teriakannya bukan semata-mata luapan emosi akibat kekalahan atau kesalahan pemain.
Ia memiliki tiga hal yang selalu ditekankan kepada anak-anak: bermain dengan semangat, tidak takut menghadapi lawan, dan mendengarkan instruksi pelatih.
Ketika seorang pemain ragu-ragu dalam duel atau kehilangan konsentrasi, ia berusaha membangkitkan keberanian mereka. Baginya, anak-anak perlu memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar, tetapi mereka juga harus berani mengambil keputusan.
Ia ingin para pemain memiliki mentalitas yang kuat, terutama ketika tim berada dalam posisi sulit.
Ketika tim berada di papan bawah klasemen, misalnya, situasi tersebut justru menjadi kesempatan untuk menguji reaksi dan daya juang pemain. Apakah mereka menyerah, saling menyalahkan, atau berusaha memperbaiki keadaan?
Pelajaran semacam itulah yang ingin ditanamkan Teuku sejak dini. Sebab, dalam sepak bola maupun kehidupan, seseorang tidak selalu berada dalam situasi yang menguntungkan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembinaan tidak berhenti pada urusan teknik dan mental bertanding. Anak-anak juga perlu belajar menjaga pergaulan, menghindari rokok, tidak begadang, serta membagi waktu antara sekolah dan sepak bola.
Pendidikan formal tetap menjadi bagian penting yang tidak boleh ditinggalkan.
Menurut Teuku, anak yang ingin menekuni sepak bola harus memahami bahwa keseriusan dibangun dari kebiasaan sederhana. Datang tepat waktu, berlatih dengan disiplin, menjaga kondisi tubuh, dan tetap bertanggung jawab terhadap sekolah merupakan bagian dari proses menuju pemain yang lebih baik.
Orang tua juga bagian dari pembinaan
Teuku menilai keberhasilan pembinaan pemain muda tidak hanya bergantung pada pelatih dan anak-anak, tetapi juga pada sikap orang tua.
Dukungan keluarga sangat dibutuhkan. Namun, ambisi yang berlebihan terkadang justru menjadi tekanan bagi anak yang masih berada dalam tahap perkembangan.
Karena itu, Bintang Ragunan berusaha membangun komunikasi dengan orang tua sejak awal. Mereka diajak memahami bahwa kesempatan bermain ditentukan oleh banyak pertimbangan, termasuk kesiapan fisik, kebutuhan taktik, dan kondisi pemain.
Orang tua juga diharapkan tidak melontarkan komentar yang dapat memicu emosi atau mempermalukan anak-anak lain ketika pertandingan berlangsung.
Bagi Teuku, setiap pemain memiliki tahap perkembangan berbeda. Anak yang saat ini belum menonjol belum tentu tidak memiliki masa depan di sepak bola. Sebaliknya, pemain yang berbakat pun tetap membutuhkan proses panjang untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.
Kesabaran menjadi kunci
Ia juga mengingatkan anak-anak agar mampu mengatur waktu di tengah padatnya kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler. Menurut dia, aktivitas yang terlalu banyak dapat mengurangi kesempatan berlatih secara teratur.
Termasuk dalam hal ini adalah kegiatan futsal. Teuku tidak menafikan manfaat futsal, tetapi ia menilai latihan sepak bola dan futsal memiliki karakteristik yang berbeda. Anak-anak yang ingin serius menekuni sepak bola perlu menjaga konsistensi latihan sesuai kebutuhan cabang olahraga yang dipilih.
Menjaga mimpi di tengah keterbatasan
Di tengah berbagai keterbatasan, Teuku tetap berharap Bintang Ragunan dapat terus memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang. Keikutsertaan dalam Liga Jakarta, kompetisi kelompok usia, serta turnamen lainnya menjadi bagian dari upaya memperkaya pengalaman bertanding.
Ia juga terbuka terhadap kesempatan mengikuti pertandingan atau program pembinaan di luar negeri apabila tersedia dukungan yang memadai. Namun, semua itu harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan para pemain.
Baginya, kesempatan berlatih dan bertanding secara konsisten jauh lebih penting daripada sekadar mengejar nama besar.
Ia ingin anak-anak yang berlatih di Bintang Ragunan memiliki bekal yang cukup ketika harus melangkah ke jenjang berikutnya. Mereka tidak hanya membawa kemampuan mengolah bola, tetapi juga karakter, kedisiplinan, dan pemahaman tentang tanggung jawab.
Perjalanan Bintang Ragunan selama lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola tidak selalu harus dimulai dari fasilitas mewah atau target prestasi yang besar. Dengan komitmen, ketekunan, dan kepedulian, sebuah SSB sederhana tetap dapat menjadi tempat tumbuhnya mimpi anak-anak.
Bagi Teuku Chairul Wisal, kebahagiaan terbesar bukan semata-mata melihat timnya mengangkat piala. Ia bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbagi ilmu yang diperolehnya selama bertahun-tahun menekuni sepak bola.
Ia ingin terus mendampingi anak-anak mengenal olahraga yang telah membentuk kehidupannya, sembari menanamkan nilai-nilai yang akan berguna jauh setelah mereka meninggalkan lapangan.
Suatu saat, ketika perjalanan itu berakhir, ia berharap dapat mempertanggungjawabkan kesempatan yang telah diberikan kepadanya dengan satu hal sederhana: pernah berusaha membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik melalui sepak bola.(**)
Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












