banner 728x250

Yuswardi: Liga Soeratin Jakarta U 15 Harus Jadi Jantung Pembinaan Sepak Bola Indonesia

banner 120x600
banner 468x60

Intimate.co.id|JAKARTA -| Nama Yuswardi tak bisa dilepaskan dari sejarah sepak bola Indonesia. Mantan bek tangguh Tim Nasional Indonesia yang lahir di Medan, 2 Juli 1945, itu merupakan bagian dari generasi emas PSMS Medan sekaligus skuad Merah Putih pada era 1968-1974.Selama kariernya, Yuswardi dikenal sebagai pemain belakang yang disiplin, lugas, dan berkarakter. Bersama PSMS Medan, ia mempersembahkan empat gelar juara Perserikatan, termasuk tiga gelar secara beruntun. Di level internasional, ia ikut membawa Indonesia menjuarai King’s Cup 1968 di Thailand dan Turnamen Merdeka 1969 di Malaysia.

Pengalamannya sebagai pemain nasional, pelatih PSMS Medan, pelatih Timnas Junior, hingga kini menjadi penasihat pembinaan usia muda membuat pandangan Yuswardi tentang sepak bola Indonesia layak didengar.

banner 325x300

Saat menyaksikan pertandingan Liga Soeratin Jakarta U-15 di Lapangan PSF Pancoran Jakarta Selatan,Minggu(28/6) Yuswardi menilai kompetisi usia muda merupakan fondasi utama lahirnya pemain berkualitas.”Sejak dulu Liga Soeratin menjadi tempat mencari bibit-bibit terbaik Indonesia. Kompetisi seperti ini harus terus dijaga karena anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding yang sangat berharga,” ujar Yuswardi.

Menurutnya, pertandingan rutin jauh lebih penting daripada sekadar latihan. Jam terbang akan membentuk mental, kemampuan mengambil keputusan, serta meningkatkan kualitas teknik pemain muda.

Ia menilai para peserta Liga Soeratin U-15 sudah memperlihatkan potensi yang menjanjikan. Meski penyelesaian akhir dan kerja sama tim masih perlu ditingkatkan, perkembangan permainan mereka menunjukkan arah yang positif.

“Anak-anak tinggal memperbaiki penyelesaian akhir dan terus meningkatkan kerja sama. Mereka punya potensi untuk berkembang menjadi pemain profesional bahkan pemain tim nasional,” katanya.

Yuswardi juga berharap kompetisi kelompok umur tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi merata di seluruh Indonesia. Menurutnya, daerah-daerah selama ini menjadi sumber lahirnya pemain-pemain berbakat yang membutuhkan wadah kompetisi berjenjang.

“Kalau kompetisi U-15, U-16, dan U-17 berjalan rutin di seluruh Indonesia, maka pembinaan akan semakin kuat. Anak-anak memiliki Nama Yuswardi tak bisa dilepaskan dari sejarah sepak bola Indonesia. Mantan bek tangguh Tim Nasional Indonesia yang lahir di Medan, 2 Juli 1945, itu merupakan bagian dari generasi emas PSMS Medan sekaligus skuad Merah Putih pada era 1968-1974.

Selama kariernya, Yuswardi dikenal sebagai pemain belakang yang disiplin, lugas, dan berkarakter. Bersama PSMS Medan, ia mempersembahkan empat gelar juara Perserikatan, termasuk tiga gelar secara beruntun. Di level internasional, ia ikut membawa Indonesia menjuarai King’s Cup 1968 di Thailand dan Turnamen Merdeka 1969 di Malaysia.

Pengalamannya sebagai pemain nasional, pelatih PSMS Medan, pelatih Timnas Junior, hingga kini menjadi penasihat pembinaan usia muda membuat pandangan Yuswardi tentang sepak bola Indonesia layak didengar.

Saat menyaksikan pertandingan Liga Soeratin U-15, Yuswardi menilai kompetisi usia muda merupakan fondasi utama lahirnya pemain berkualitas.

“Sejak dulu Liga Soeratin menjadi tempat mencari bibit-bibit terbaik Indonesia. Kompetisi seperti ini harus terus dijaga karena anak-anak mendapatkan pengalaman bertanding yang sangat berharga,” ujar Yuswardi.

Menurutnya, pertandingan rutin jauh lebih penting daripada sekadar latihan. Jam terbang akan membentuk mental, kemampuan mengambil keputusan, serta meningkatkan kualitas teknik pemain muda.

Ia menilai para peserta Liga Soeratin U-15 sudah memperlihatkan potensi yang menjanjikan. Meski penyelesaian akhir dan kerja sama tim masih perlu ditingkatkan, perkembangan permainan mereka menunjukkan arah yang positif.

“Anak-anak tinggal memperbaiki penyelesaian akhir dan terus meningkatkan kerja sama. Mereka punya potensi untuk berkembang menjadi pemain profesional bahkan pemain tim nasional,” katanya.

Yuswardi juga berharap kompetisi kelompok umur tidak hanya berlangsung di Jakarta, tetapi merata di seluruh Indonesia. Menurutnya, daerah-daerah selama ini menjadi sumber lahirnya pemain-pemain berbakat yang membutuhkan wadah kompetisi berjenjang.

“Kalau kompetisi U-15, U-16, dan U-17 berjalan rutin di seluruh Indonesia, maka pembinaan akan semakin kuat. Anak-anak memiliki jam terbang, pengalaman, dan mental bertanding sebelum naik ke level berikutnya,” tuturnya.

Ia mengingatkan agar pembinaan usia muda tetap menjadi prioritas utama. Indonesia, menurutnya, tidak boleh hanya bergantung pada pemain asing atau solusi jangka pendek.

“Fokus utama harus tetap membangun pemain Indonesia sejak usia dini. Dari kompetisi seperti inilah masa depan sepak bola nasional akan lahir,” ujar Yuswardi.

Bagi Yuswardi, keberhasilan sepak bola Indonesia tidak dibangun dalam semalam. Fondasinya dimulai dari kompetisi usia muda yang teratur, pembinaan yang berkesinambungan, dan kesempatan yang sama bagi talenta-talenta muda di seluruh pelosok negeri.

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

banner 325x300

Tinggalkan Balasan