Intimate.co.id|JAKARTA – Sebuah foto bukan sekadar rekaman peristiwa. Di tangan fotografer profesional Tjandra Moh Amin, sebuah bidikan kamera mampu menjelma menjadi cerita, keindahan, sekaligus warisan visual yang tak lekang oleh waktu.
Itulah yang terasa dalam pameran foto tunggal bertajuk “Spirit de Indonesia” yang digelar Tjandra Moh Amin di Doss, Mal Ratu Plaza, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, 6–11 November 2026.
Pameran yang menampilkan 48 karya fotografi tersebut menyedot perhatian pengunjung, termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir. Bahkan, Erick begitu terpikat dengan sejumlah karya Tjandra hingga memutuskan membawa pulang delapan foto untuk koleksi pribadinya.
“Tjan, aku ambil delapan karya fotomu. Yang ini, yang itu, yang ono,” demikian ungkapan Erick Thohir saat memilih foto-foto yang menarik perhatiannya di Mal Ratu Plaza,Sabtu(6/11)
Karya-karya tersebut merupakan hasil bidikan Tjandra selama tujuh musim dalam mengabadikan berbagai momen balap sepeda, khususnya ajang Tour of Indonesia. Melalui sudut pandang yang khas, Tjandra tidak sekadar merekam kecepatan dan persaingan atlet, tetapi juga menghadirkan sisi estetika olahraga yang sering luput dari perhatian.
Bagi Tjandra, fotografi olahraga bukan pekerjaan sederhana. Ketepatan membaca gerakan, menentukan posisi, serta menekan tombol kamera pada sepersekian detik menjadi tantangan tersendiri. Satu momentum yang terlewat tidak akan pernah terulang.
Pengalaman panjangnya membuat Tjandra dikenal memiliki kepekaan khusus dalam menangkap momen-momen krusial, terutama pada cabang sepak bola dan balap sepeda.
Salah satu karya paling monumental yang melekat dalam perjalanan kariernya adalah foto gol salto legendaris Widodo Cahyono Putro saat memperkuat Timnas Indonesia menghadapi Kuwait pada Piala Asia 1996 di Stadion Sheikh Zayed, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 4 Desember 1996.
Momen itu terjadi pada menit ke-20. Berawal dari umpan Ronny Wabia, Widodo melakukan tendangan salto yang menghasilkan gol spektakuler dan menjadi salah satu gol paling dikenang dalam sejarah sepak bola Indonesia.
Tjandra berhasil mengabadikan momen tersebut melalui bidikan kamera yang tepat. Foto gol salto Widodo kemudian menghiasi Tabloid BOLA edisi 665, Jumat, 13 Desember 1996. Publikasi itu menjadi salah satu edisi yang mendapat sambutan luar biasa dari pembaca.
Mbah Coco mantan Wartawan semior sekaligus Owner Radio Bola yang ketika itu juga berkecimpung dalam dunia jurnalistik olahraga, foto tersebut bukan sekadar dokumentasi pertandingan. Ada ketepatan membaca situasi, insting, dan keberanian menentukan sudut pengambilan gambar yang membuatnya menjadi karya istimewa.
“Sumpeh, lu! Hanya Tjandra yang mendapatkan momentum itu dengan sudut pengambilan gambar yang begitu tepat,” ungkap Mbah Coco mengenang.
Kiprah Tjandra tidak berhenti di dunia olahraga. Ia juga memiliki perhatian besar terhadap musik, khususnya perjalanan grup band Slank.
Kecintaannya terhadap dunia musik melahirkan sebuah buku fotografi berjudul “Tanpa Batas”, yang mendokumentasikan keseharian Slank selama tujuh tahun, mulai 2000 hingga 2007, di markas mereka, Gang Potlot, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Buku tersebut menjadi bukti bahwa kamera Tjandra tidak hanya merekam pertandingan dan atlet, tetapi juga kehidupan, karakter, serta perjalanan para musisi.
Bagi seorang fotografer dan jurnalis, karya-karya yang terdokumentasi dengan baik merupakan legacy atau warisan berharga bagi generasi berikutnya. Dalam perjalanan Tjandra, warisan itu hadir melalui foto olahraga, dokumentasi musik, hingga pameran tunggal.

Melalui “Spirit de Indonesia”, Tjandra kembali mengajak publik menikmati fotografi dari perspektif berbeda. Setiap gambar menawarkan cerita dan pengalaman visual yang menggabungkan ketepatan momentum dengan keindahan komposisi.
Mbah Coco menilai, keistimewaan Tjandra terletak pada kemampuannya memindahkan sudut pandang mata ke dalam gambar yang eksotis, futuristik, sekaligus memanjakan mata.
“Ini bukan sekadar sanjungan. Karya-karyanya memang memperlihatkan sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan fotografer olahraga,” tulisnya.
Pameran ini sekaligus menjadi ajakan bagi para pencinta fotografi, jurnalis, penggemar olahraga, hingga fotografer pemula untuk melihat lebih dekat bagaimana sebuah kamera dapat menghasilkan karya seni bernilai dokumentasi dan estetika.
Sebab, pada akhirnya, foto yang baik bukan hanya tentang apa yang terlihat di depan lensa, melainkan juga tentang bagaimana seorang fotografer menangkap cerita di balik sebuah peristiwa.
Jangan pernah lelah berkarya selama kesempatan masih terbuka. Itulah semangat yang terpancar dari perjalanan Tjandra Moh Amin melalui “Spirit de Indonesia”.[**]
Pewarta : DaBon|Editor : Kelana Peterson
Kontributor : Intimate.co.id












