Tiya Rima Merangkai Musik dan Seni Visual, Menebar Harapan dari Lokananta

Intimate.co.id|SOLO -| Musik bagi Tiya Rima bukan sekadar rangkaian nada dan lirik. Melalui karya-karyanya, solois perempuan asal Solo, Jawa Tengah, ini ingin menghadirkan ketenangan, menyentuh perasaan, sekaligus menumbuhkan kembali harapan. Gagasan itu pula yang membawanya melangkah ke dunia seni visual melalui pameran tunggal perdananya di Galeri Lokananta, Solo.

Bertajuk Perjalanan Perkenalan Tiya Rima, pameran yang berlangsung pada 8 Agustus hingga 7 Oktober 2026 itu menjadi ruang bagi Tiya untuk memperkenalkan sisi lain perjalanan kreatifnya. Musik, lukisan, instalasi tanaman, dokumentasi panggung, hingga rilisan fisik karyanya berpadu dalam sebuah perjumpaan seni yang personal.

Bagi Tiya, pameran tersebut bukan semata-mata tentang memajang karya, melainkan juga berbagi pengalaman dan perasaan dengan orang-orang yang datang berkunjung.

Lahir di Solo dan memulai perjalanan profesionalnya sebagai musisi dari Yogyakarta, Tiya menapaki karier secara independen. Pilihan itu memberinya tantangan tersendiri, tetapi sekaligus membuka ruang untuk mengembangkan ekspresi artistik sesuai dengan keyakinan dan perjalanan hidupnya.

Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan tersebut. Ia tidak lagi hanya menyampaikan gagasan melalui lagu dan penampilan di atas panggung, tetapi juga menerjemahkannya ke dalam bahasa visual.

Salah satu karya yang menonjol dalam pameran itu adalah instalasi bertajuk “Tumbuh Bersemi”. Melalui lukisan berukuran besar yang ditempatkan di tengah ruang pamer, dipadukan dengan elemen tanaman, Tiya menghadirkan suasana yang dekat dengan gagasan tentang pertumbuhan dan kehidupan.

“Saya hanya ingin pengunjung yang datang ke pameran ini dapat merasakan ketenangan dan memiliki harapan,” ujar Tiya.

Keinginan sederhana itu menjadi ruh pamerannya. Ia ingin pengunjung tidak hanya menikmati karya yang tersaji, tetapi juga menemukan ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan, meresapi perasaan, dan membawa pulang sesuatu yang bermakna.

Ketika musik bertemu seni visual

Pameran Perjalanan Perkenalan Tiya Rima juga menjadi semacam catatan perjalanan musikalnya. Tiya menampilkan rilisan fisik karya-karyanya, foto-foto perjalanan panggung, serta materi audio yang diproduksinya.

Pengunjung bahkan berkesempatan mendengarkan empat lagu dari album terbarunya yang direncanakan dirilis pada 2027.

“Saya juga mendisplay empat track lagu dari album terbaru saya yang akan dirilis pada tahun 2027 nanti,” katanya.

Perpaduan musik dan seni visual tersebut memperlihatkan cara Tiya memperluas ruang ekspresinya. Jika lagu mengajak pendengar menyelami perasaan melalui suara dan lirik, lukisan serta instalasi memberinya kesempatan menyampaikan gagasan melalui bentuk, warna, dan suasana.

Bagi musisi independen, pameran itu sekaligus menjadi cara lain untuk memperkenalkan karya kepada publik. Pertemuan dengan pendengar tidak lagi terbatas pada panggung pertunjukan atau platform musik digital, tetapi berlangsung dalam ruang yang memungkinkan interaksi lebih dekat.

Pengalaman yang diperoleh Tiya selama pameran pun melampaui perkiraannya. Ia mengaku mendapat kesempatan melakukan promosi melalui radio hingga menjangkau Kalimantan.

“Banyak hal baik terjadi melalui pameran ini,” tuturnya.

Ada pula pengalaman pengunjung yang membekas dalam ingatannya. Salah satunya adalah cerita seseorang yang merasa menemukan jawaban atas doanya melalui lagu yang diciptakan Tiya.

“Ada orang yang mendapat jawaban doa dari lagu yang saya buat. Semua cerita itu terjadi di pameran ini,” ujarnya.

Bagi Tiya, kisah semacam itu memperlihatkan bahwa karya dapat menemukan maknanya sendiri ketika bertemu dengan pengalaman hidup orang lain. Sebuah lagu yang berangkat dari perasaan penciptanya bisa saja menjadi sumber penghiburan bagi seseorang yang tengah menghadapi persoalan hidup.

Berkarya untuk menghadirkan harapan

Pameran di Galeri Lokananta menjadi pencapaian penting bagi Tiya, sekaligus menandai keberaniannya menjelajahi wilayah kreatif di luar musik. Pihak Tiya menyebutnya sebagai solois perempuan pertama di Solo yang menggelar pameran seni tunggal dengan memadukan karya visual dan audio. Klaim tersebut masih memerlukan verifikasi independen.

Namun, bagi Tiya, pencapaian itu bukan semata-mata soal menjadi yang pertama. Lebih dari itu, ia ingin memastikan bahwa karya yang dihasilkannya memiliki arti bagi orang lain.

“Sebagai musisi, saya hanya ingin berkontribusi untuk dunia ini dengan karya-karya yang saya buat. Saya ingin orang kembali pulih jiwanya dan memiliki harapan hidup kembali,” katanya.

Semangat tersebut juga hadir dalam single terbarunya, “Ada Aku”. Melalui lagu ini, Tiya berharap karyanya dapat menjangkau lebih banyak pendengar dan menemukan tempat dalam perjalanan personal mereka.

Lagu “Ada Aku” dapat didengarkan melalui kanal YouTube Tiya Rima di tautan berikut: https://m.youtube.com/watch?v=iwG9Ca3Wrew.

Dari lagu ke kanvas, dari panggung ke ruang pamer, Tiya Rima terus mencari cara untuk menyampaikan hal yang sama: bahwa seni bukan hanya tentang apa yang diciptakan, melainkan juga tentang apa yang dapat dirasakan dan dibawa pulang oleh orang lain.

Di tengah perjalanan sebagai musisi independen, ia memilih bertumbuh melalui karya. Dan melalui musik serta seni visual, Tiya berharap setiap perjumpaan dengan karyanya dapat menjadi pengingat bahwa harapan selalu memiliki ruang untuk tumbuh.[**]

Penulis : DaBon|Editor : Kelana Peterson

Kontributor : Intimate.co.id

Tinggalkan Balasan